
Dean menatap napan yang diletakkan Olivia di atas nakas. "Kalau dicium dari aromanya, makanan itu tidak akan mengandung jampi-jampi, kan?" gumam Dean menyuapkan sesendok salad ke dalam mulutnya.
"Lumayan." gumamnya menghabiskan salad yang dibuat Olivia. Sementara Olivia tersenyum kecil berdiri di luar pintu. Olivia mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar. Olivia kembali ke dapur mengambil air putih untuk Dean sebentar kalau mau minum obat.
Dean langsung meneguk habis susu putih yang dibuat Olivia. "Kalau sering-sering begini, perutku bisa buncit."celetuk Dena mengelus perutnya.
Namun kedatangan Olivia menghentikan tindakannya. Raut wajah pria itu juga tiba-tiba berubah menjadi datar.
"Aku mau memberikan obat alergi seperti kemaren malam. Ini air putihnya." ujar Olivia meletakkan segelas air putih di atas nakas. Ia lalu merapikan piring dan gelas kotor bekas sarapan Dean.
"Jangan lupa obatnya diminum."seru Olivia keluar dari kamar. Seuntai senyuman manis mekar di pipi tirus wanita itu."
#
#
Sebulan kemudian
Sudah hampir sebulan lebih Olivia dan Dean tinggal di kediaman ayah Dean. Olivia merasa lebih nyaman tinggal disana, ketimbang kembali ke Bogota.
__ADS_1
Selama tinggal di sana, Olivia memiliki satu pekerjaan sampingan tanpa di bayar. Ia membantu masyarakat kurang mampu di sekitar pinggir pantai. Meskipun peralatan kesehatan yang digunakan Olivia hanya seadanya saja. Ia senang menyalurkan keahlian medisnya kepada orang yang membutuhkan bantuannya.
"Buenos días, Señorita (Selamat pagi, Nona)" sapa seorang pria berjalan tergesa-gesa menghampiri Olivia.
"si.. necesitas algo, Señor? (Iya.... apa anda membutuhkan sesuatu, Tuan?" tanya Olivia menggunakan bahasa Spanyol. Ia sedang duduk di gajebo menikmati angin sejuk di malam hari. Beberapa minggu lalu, Olivia mulai belajar menggunakan bahasa Spanyol. Beruntung ada ayah Dean yang mau membantunya mempelajari budaya penduduk Spanyol.
"Nona.... tolong bantu saya. Istri saya mau melahirkan. Namun kami tidak memiliki cukup waktu membawanya ke rumah sakit. Tetangga saya mengatakan bahwa anda merupakan dokter." ujar pria itu.
"Tunggu sebentar, saya akan menyiapkan peralatan medis yang saya butuhkan. Tapi, saya membutuhkan seorang perawat atau suster mendampingi saya dalam proses persalinan bayi anda." ujar Olivia sembari menyiapkan peralatan medis yang Ia butuhkan.
Tiba-tiba Dean menghampiri mereka dan berkata. "Aku yang akan mendampingi mu."
Pria itu tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Olivia. Wajah pria itu terlihat datar dan tak ada senyum di wajah kakinya.
"Ayo, Pak!" ujar Olivia sembari menenteng tas medisnya.
Pria itu menuntun Olivia dan Dean menuju tempat tinggalnya.
"Aw...."
__ADS_1
Olivia tiba-tiba terpeleset saat menuruni dataran tempat tinggal ayah mertuanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dean menghawatirkan keadaan Olivia.
"Kalau aku baik-baik saja, aku tidak mungkin berdesis kesakitan." ketus Olivia memijit kakinya. Langit sudah gelap, jadi penerang dijalan sekitar sedikit buram.
"Biarkan aku yang membawa tas medis mu." tawar Dean mengambil tas medis Olivia. Dean lalu menyerahkan tas medis itu kepada pria tadi.
"Pak tolong bawa tas medis ini." ujar Dean. Pria itu langsung menerima tas itu. Ia juga tidak enak sudah merepotkan mereka berdua.
Dean langsung memikul tubuh Olivia ke pundak kerasnya.
"Apa yang--"
"Sss.... diam-lah! hari sudah malam. Suaramu menganggu tidur para tetangga." ujar Dean memukul bokong Olivia.
Plak
"Aw.. sakit! apa kau tidak bisa memperlakukan wanita dengan sedikit lembut!" ketus Olivia mendengus dingin.
__ADS_1
Dean tidak menanggapi perkataan Olivia. Ia melanjutkan langkahnya mengikuti langkah pria tadi. Olivia tidak menyadari senyuman manis tiba-tiba terbit di bibir Dean, karena gelapnya malam seakan cemburu bila orang lain ikut menikmati senyum manis itu.
...***Bersambung***...