CINTA YANG BERBAHAYA

CINTA YANG BERBAHAYA
Chapter 12


__ADS_3

Dean kecil membekap mulutnya agar suaranya tidak didengar oleh orang itu. Anak kecil itu melakukan semua itu, agar sewaktu-waktu Ia tidak keceplosan. Tubuh kecil itu gemetaran melihat dua pasang kaki melangkah mendekati tempat tidur. Keringat sebiji kacang tanah membanjiri wajahnya, sangking ketakutannya.


"Mana sih bajingan itu!! sudah berapa kali pria itu menghilang tiba-tiba!" kesal seorang pria dengan suara beratnya.


"Apa kita membunuhnya saja dan menjual organ bagian dalam tubuhnya kepada mafia?" tanya yang satunya lagi.


"Sepertinya Idemu cukup bagus. Nanti malam kita kemari lagi dan membunuhnya." ucap pria itu membalas ucapan temannya.


Mereka lalu keluar dari rumah kumuh itu ketika tidak menemukan keberadaan Dean Albion.


Dean kecil menghembuskan napas lega saat tidak melihat ataupun mendengar keberadaan kedua pria itu. Ia mengelap jejak air mata dan keringat di wajahnya.


"Sepertinya aku harus memberitahukan semuanya kepada Uncle D." ucap Dean kecil tanpa keluar dari tempat persembunyiannya.


Tak beberapa lama Uncle D muncul dari balik pintu. Pria itu cukup terkejut melihat pintu rumahnya terbuka lebar.


"William!! William!" panggil Uncle D khawatir, ketika tidak menemukan keberadaan Wiliam.


"Uncle D...." lirih Dean kecil keluar dari bawah tempat tidur.


Uncle D menyeritkan keningnya melihat Dean kecil sembunyi di bawah tempat tidur.


"Mengapa kamu bersembunyi di bawah tempat tidur?" tanya Uncle D meletakkan roti panggang yang baru saja Ia beli. Uncle D lalu membantu Dean kecil keluar dari bawah tempat tidur.


"Tadi aku mendengar seseorang mengetuk pintu rumah dengan sedikit kuat. Kemudian dia mendobrak pintu secara paksa. Aku langsung bersembunyi di bawah tempat tidur karena sangat takut. Me-mereka berkata--" Dean kecil menghentikan ucapannya menatap serius wajah Uncle D.

__ADS_1


"Berkata--?" tanya Uncle D penasaran


"Me-mereka mau membunuh Uncle D. Lebih baik kita pergi dari sini. Dan mencari tempat tinggal baru...." saran Dean kecil


"Hahaha...."


Uncle D tertawa terbahak-bahak melihat wajah khawatir Dean kecil.


"Come on Wiliam! kau tidak perlu takut. Karena daerah tempat tinggal kita memang memiliki angka kriminal yang cukup tinggi." ujar Uncle D menghibur Dean kecil.


"Aku tadi sudah membelikan roti panggang untuk sarapan pagi kita. Ini hanya roti panggang tanpa selai. Apa kau tidak masalah sarapan roti tanpa selai?" tanya Uncle D mendudukkan tubuh Dena kecil di atas tempat tidur.


Uncle D lalu melangkah mengambil roti panggang. "Makanlah" sambungnya menyerahkan sepotong roti panggang kepada Dean kecil. Dean tersenyum manis mengambil roti panggang yang di berikan Uncle D.


Setelah selesai makan, Dean kecil mengamati tempat tinggal Uncle D. Ia merasa keadaan di dalam rumah terlihat kotor dan berantakan.


"Apa yang kau lihat?" tanya Uncle D mengamati ekspresi Dean kecil.


"Uncle D. Apa kau seorang pria pemalas?" tanya Dean kecil tiba-tiba.


Uncle D tentu saja terkejut mendengar pertanyaan Dean kecil. "Mengapa kau bertanya seperti itu?" tanya Uncle D. Ia cukup bingung mendengar pertanyaan Dean.


"Lihatlah Uncle.... Rumah ini terlihat tidak terawat sama sekali. Dimana-mana ada sampah botol alkohol dan puntung rokok." ucap Dean kecil.


Kalimat kecil itu secara tidak langsung seperti sedang menyindir Uncle D. Padahal Dean kecil tidak memiliki niat menyindir Uncle D sama sekali.

__ADS_1


"Apa kau tahu, Uncle jarang pulang ke rumah. Jadi Uncle terkadang lupa membersihkannya." kelakar Uncle D. Ia sedikit malu mendengar sindiran Dean.


"Bagaimana kalau hari ini kita membersihkan rumah ini? Wiliam akan membantu Uncle merapikan botol-botol itu." tawar Dean kecil.


"Baiklah. Sepertinya idemu cukup masuk akal." ucap Uncle D.


Dean kecil dengan sigap merapikan tempat tidur. Karena sedari kecil, Ia sudah diajarkan merapikan tempat tidur sebelum beranjak keluar dari kamar.


Sementara Uncle D merapikan bagian-bagian tertentu sebelum di sapu. Ia cukup senang melakukan aktivitas seperti itu. Apa lagi sekarang sudah ada Dean menemaninya.


#


#


Malam hari


Dean kecil sudah tertidur lelap di atas tempat tidur seadanya. Uncle D tersenyum manis menatap wajah berkeringat Dean kecil. Pria itu langsung mengelap keringat itu. Uncle D juga mengipas-ipas tubuh Dean kecil agar tidak kepanasan.


Melihat suasana seperti itu, membuat hati Uncle D menghangat. Mereka terlihat seperti ayah dan anak.


"Mulai hari ini, kau sudah menjadi bagian dari hidupku, William. Keberadaan mu membuatku terlihat seperti seorang ayah." monolog Uncle D.


"Sepertinya aku juga sudah mulai ngantuk, William." gumam Uncle D. Pria itu kemudian membaringkan tubuhnya di samping tubuh Dean kecil. Tak beberapa lama Uncle D juga terlelap masuk ke dalam mimpi. Mereka cukup lelah seharian membersihkan rumah kecil tersebut.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2