CINTA YANG BERBAHAYA

CINTA YANG BERBAHAYA
Chapter 26


__ADS_3

Tak beberapa lama mereka tiba di tempat tinggal pria itu. Dean langsung menurunkan tubuh Olivia dari pundaknya.


"Aish... kau membuat kepalaku berkunang-kunang...." gumam Olivia memijit pelipisnya.


"Argh!!!"


Namun erangan seorang wanita membuat Olivia langsung terdiam. Ia baru ingat dengan tujuannya datang kesana.


"Aku sampai lupa dengan tujuanku."kata Olivia menepuk jidatnya. Ia lalu masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Dean.


Olivia dan Dean melihat seorang wanita berusia 30 tahun mengejang kesakitan. "Jangan mendekat!" kata Dean penuh peringatan menatap tajam kearah Dean.


Sementara Dean terkejut mendengar kalimat peringatan Olivia.


"Pak! tolong bawakan saya air hangat." pinta Olivia menutup sebagian tubuh wanita itu.


"Biarkan aku membantu mu." tawar Dean ingin melangkah, namun lagi-lagi Olivia menghentikan langkahnya.


"Stop! jangan bergerak! tetap berdiri disitu! jangan mendekat! aku tidak mau kau mengganggu konsentrasi ku!" cerocos Olivia tanpa mengalihkan pandangannya dari pasiennya.


Tak beberapa lama, wanita itu mengejang hebat.

__ADS_1


"Teruslah mengejang, Bu. Ini masih pembukaan lima" ujar Olivia langsung menyuntikkan obat bius di bawah pinggul wanita itu agar tidak merasa sakit.


"Kepala bayinya sudah keluar.... sepertinya bayi anda tidak sabar melihat dunia." kata Olivia menghibur calon ibu itu.


"Tolong mengejang sedikit lebih kuat." timpal Olivia memegang kepala bayi yang keluar dari bawah sana.


Wanita itu mengejang sedikit kuat hingga terdengar suara tangisan kencang dari bayi mungil berjenis kelamin perempuan.


Oek


Oek


Oek


"Apa anda ingin melihat wajah putri Anda?" sambung Olivia bertanya mengalihkan pandangannya menatap wajah lelah ibu baru itu.


Wanita itu langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Olivia. Ia tersenyum manis melihat rupa bayi perempuannya.


"Dia sangat cantik, putri Anda terlahir dengan sempurna." puji Olivia tersenyum manis.


"Ya, Anda benar dokter. Putri saya sangat cantik." sahut wanita itu meneteskan air mata. Ia meneteskan air mata bukan karena sedih. Tapi wanita itu bahagia melihat putrinya lahir ke dunia dengan sehat dan sempurna.

__ADS_1


Olivia mengikat tali pusar bayi perempuan itu dengan benang. Ia kemudian menggunting tali pusarnya.


Olivia dengan hati-hati dan teliti menjahit luka sobekan dibawah sana. Setelah selesai menjahit luka sobekan itu. Olivia membersihkan bayi perempuan itu dengan air hangat.


Olivia tersenyum tipis melihat bayi itu sepertinya sedang mencari-cari sumber ASI-nya. "Apa kamu sudah haus? tunggu sebentar, Ibumu akan memberikannya." seru Olivia membalut tubuh bayi mungil itu.


"Apa aku sudah boleh mendekat ke situ?" tanya Dean menatap Olivia.


"Apa kau tidak merasa jijik melihat darah masih melekat di atas tempat tidur. Lagian ibu ini bukan istrimu!" ketus Olivia memutar bola matanya malas. Entah kenapa akhir-akhir ini moodnya sering berubah-ubah.


Dean semakin bingung mendengar perkataan Olivia. "Kenapa kau menjadi sensitif sendiri.... aku cuma bertanya!" seru Dean sedikit kesal.


Sementara suami ibu yang baru melahirkan itu, tersenyum kecil mendengar pertengkaran mereka.


Pria matang itu mendekati istrinya dan mengucapkan terima kasih, karena sudah berjuang melahirkan bayi mereka.


"Terima kasih Sayang..... sudah melahirkan putri kecil yang cantik untuk keluarga kita." kata pria itu mengecup kening istrinya. Air mata kebahagiaan mengalir dari pelupuk mata mereka.


"Apa ASI anda keluar?" tanya Olivia meletakkan bayi mungil itu di lengannya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2