
Olivia melangkah menuju kamarnya membangunkan Dean.
Cklek
Tempat tidur ternyata sudah kosong, namun suara air mengalir terdengar jelas di telinga Olivia.
"Sepertinya Dean ada di kamar mandi." gumam Olivia merapikan tempat tidur. Olivia juga menyiapkan pakaian santai untuk Dean.
Olivia lalu melangkah kearah balkon menunggu Dean selesai mandi.
Cklek
Dean keluar dari kamar mandi mengenakan kimono berwarna putih. Ia melihat sepasang baju santai serta pakaian dalam sudah ada di atas tempat tidur. Dean melihat Olivia sudah berdiri di balkon kamar.
"Apa dia yang menyiapkan pakaian ini?" gumam Dean dengan suara pelan.
"Ya! aku yang menyiapkannya. Segeralah berganti pakaian, Papa menunggu mu di ruangan makan." sahut Olivia membalikkan tubuhnya sembari tersenyum manis.
Dean menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Olivia. Sementara Olivia langsung melangkah keluar dari kamar.
__ADS_1
Ia tidak kuat berlama-lama di dekat Dean, karena hatinya tiba-tiba lemah.
Di ruang makan
Mereka bertiga makan dengan tenang, tak ada satu orangpun yang mulai pembicaraan. Tuan Antonio tiba-tiba heran melihat tingkah putra dan menantunya.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Antonio menghentikan kunyahan-nya.
"Hem.... kami baik-baik saja, Pa." sahut Dean dengan cepat.
"Sepertinya kalian butuh refreshing. Papa sudah menyiapkan tiket honeymoon untuk kalian. Besok kapal kecil akan membantu kalian menyebrang ke seberang. Jangan sia-siakan kesempatan bagus ini. Papa ingin secepatnya memiliki cucu." tutur Antonio tersenyum hangat.
"Doakan yang terbaik, Pa." sahut Olivia pada akhirnya. Entah mengapa ada sedikit rasa nyeri dihatinya, kalau mertuanya sampai tahu bila Olivia sudah mengandung bayi dari benih pria lain.
"Baiklah, setelah makan kalian sudah bisa menyiapkan barang-barang yang akan kalian bawa kesana. Papa berharap kalian bisa menikmati kebersamaan kalian disana nanti." kata Antonio tersenyum hangat menatap Dean dan Olivia berganti.
Suasana di meja makan kembali hening setelah Antonio selesai berbicara.
Olivia membersihkan meja makan dan dapur setelah melihat Dean dan mertuanya melangkah ke ruang tamu. Olivia terdiam sebentar mengelus perut ratanya. Ada desiran aneh yang hinggap di relung hatinya, ketika merasakan detak jantung calon bayinya.
__ADS_1
"Aku tidak akan menolak keberadaan mu. Bukankah keberadaan mu sebuah anugerah yang harus ku syukuri. Kedatangan mu akan menjadi pelengkap di hidupku." ujar Olivia tersenyum tipis.
Dean bisa melihat tingkah aneh Olivia dari kejauhan. Dahi pria itu tiba-tiba berkerut melihat tingkah aneh Olivia.
"Mengapa dia bersikap seperti wanita hamil? apa dia baper dengan ucapan Papa? dan dia berharap memiliki anak dari benihku?" gumam Dean dalam hati.
"Apa kau mulai jatuh cinta kepadanya?" tanya Antonio membuyarkan Dean dari pikirannya.
"Tidak! aku tidak mungkin mencintainya."kata Dean dengan tegas.
"Cih" Antonio tiba-tiba berdecih mendengar elakan putranya.
"Jangan sampai kau menyesal, Nak. Kita hanya perlu menghargai dan mensyukuri kesempatan yang masih ada. Papa berharap kau menggunakan waktu singkat ini dengan sebaik-baiknya."nasehat Antonio menatap putranya.
"Aku tidak akan menyesal, Pa. Aku malah bahagia bisa berpisah darinya." ungkap Dean tetap kekeuh mengelak.
Antonio menghentikan pembicaraan mereka, ketika mendengar ungkapan Dean. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi hingga putranya itu sadar dengan perbuatannya.
...***Bersambung***...
__ADS_1