
Sejam kemudian
Dua orang pria melangkah masuk ke dalam rumah Uncle D. Mereka terkejut melihat rumah sudah seperti kapal pecah karena sangat berantakan.
"Apa Dean sudah kabur?" tanya pria yang satu ke temannya.
"Aku tidak tahu Ramos, bukankah sedari tadi aku ada bersamamu!" jawab teman Ramos sedikit kesal mendengar tuduhan Ramos.
"Apa pria itu sudah pergi atau telah terjadi sesuatu disini." ucap Ramos mengamati sekeliling rumah Uncle D.
Dahi Ramos tiba-tiba berkerut melihat genangan air berwarna merah di lantai dekat dapur. Ia melangkah mendekati genangan itu.
Tap
Tap
Tap
Hingga
Matanya membesar melihat genangan tadi bukanlah genangan air. Melainkan genangan darah.
"Aaaaaa!!!!" Ramos berteriak kencang melihat tubuh Uncle D sudah terbujur kaku di lantai.
"Zaki! kemari lah! Dean sudah meninggal!" teriak Ramos ketakutan.
"A-pa? bagaimana bisa?" tanya Zaki mendekati Ramos.
"Aaaaaa!!!"
"Ma-mayat...." lirih Zaki terbata-bata.
__ADS_1
"Cih, begitu saja kau sudah takut!" sindir Ramos.
"Padahal kau pertama yang berteriak kencang." cibir Zaki.
"Mengapa Dean bisa meninggal tiba-tiba? apa pria ini memiliki musuh?" tanya Ramos mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mana aku tahu. Tapi, bisa jadi seperti dugaanmu." sahut Zaki.
"Uang kita tidak kembali, dan rencana kita harus gagal dong." ucap Ramos sedikit kesal.
Namun tiba-tiba mereka mendengar suara isakan anak kecil dari plafon triplek langit-langit rumah Dean.
"Hiks, hiks,hiks, Uncle D...." panggil anak itu terisak-isak.
"Bukankah Uncle bilang, Uncle baik-baik saja tadi."
"Hiks-- siapa yang akan menemani William?" sambung anak kecil itu terisak-isak.
"A-pa kau juga mendengar suara isakan tangis anak kecil dari atas sana?" tanya Zaki terbata-bata.
"I-iya.... apa itu hantu? apa rumah ini sudah berubah menjadi rumah hantu setelah kematian Dean?" ucap Ramos gemetaran.
Pria itu lebih takut kepada hantu ketimbang manusia. Memang sifat Ramos lain daripada yang lain.
"Bisa saja itu manusia, Ramos." sela Zaki mendengar suara William.
"Coba kau perhatikan langit-langit triplek itu dengan cermat. Ada jejak air disana." sambung Zaki.
"Hey! apa ada orang diatas sana?" tanya Zaki memastikan feeling-nya.
William tidak menjawab pertanyaan Zaki. Ia masih menangis terisak-isak dengan tubuh bergetar.
__ADS_1
"Sepertinya itu beneran hantu deh, Zak. Tidak ada sahutan dari atas sana." ucap Ramos tidak percaya dengan dugaan Zaki.
"HEY! APA KAU TIDAK MENDENGAR PERKATAAN KU? APA ADA ORANG DIATAS?" teriak Zaki. Ia sangat yakin diatas plafon triplek ada orang.
"Iya...." jawab Dean kecil menghentikan tangisannya.
"Apa kau manusia?" ucap Ramos bertanya.
Tidak ada sahutan dari Wiliam. Ia masih takut dengan kejadian tadi. Bau pesing dari celananya tercium jelas di hidungnya.
"Apa kau gila menanyakan pertanyaan seperti itu. Jelas saja dia manusia. Kalau dia bukan manusia, mana mungkin dia menjawab pertanyaan mu."ucap Zaki.
"Cih! bisa saja dia hantu." kelakar Ramos berpendapat.
"Siapa namamu?" tanya Zaki memperjelas dugaannya.
"Wi-william...." lirih Dean kecil menjawab pertanyaan Zaki.
"Apa kau anak Dean?" tanya Zaki penasaran.
"No...." jawab Dean kecil.
"Apa kau diatas plafon?" tanya Zaki lagi
"Iya" jawab Dean kecil.
"Kami akan menolong mu." ucap Zaki melangkah mendekati asal suara.
Sementara Ramos bernapas lega mendengar suara William. "Ternyata dia bukan hantu." ucapnya dalam hati.
...***Bersambung***...
__ADS_1