CINTA YANG BERBAHAYA

CINTA YANG BERBAHAYA
Chapter 18


__ADS_3

Dean kecil diturunkan dari atas plafon triplek langit-langit rumah Uncle D. Anak itu belum tahu, kalau Uncle D sudah tewas. Ramos menurunkan Dean kecil dari gendongannya.


"Uncle D dimana?" tanya Dean kecil mencari-cari Uncle D. Padahal Uncle D sudah tewas terlentang di belakang tubuhnya.


"Apa kau tidak melihatnya sudah tewas di belakangmu?" ujar Ramos datar.


"Harusnya kau berkata lembut padanya. Dia masih kecil dan tidak tahu dengan keadaan Dean." ujar Zaki menasehati temannya.


Dean kecil membalikkan tubuhnya melihat keadaan Uncle D. Namun Dean kecil melihat Uncle D sudah tidak bernyawa. Tubuh pria itu sudah terlihat kaku dan matanya juga sudah terpejam.


Pergerakan Dean kecil dihentikan oleh Ramos, ketika Ia ingin berlari mendekati Uncle D.


"Jangan menyentuhnya! apa kau mau ditangkap polisi? sidik jarimu akan terdeteksi oleh polisi, jika kau menyentuhnya." peringatan Ramos kepada Dean kecil.


"Ta-tapi Uncle D...." lirih Dean kecil dengan suara serak.


"Dia sudah mati! kau tidak bisa membangunkannya!" dengus Ramos tidak suka mengulang-ulang pembicaraan.


"Lebih baik kau ikut kami. Aku akan menukar mu dengan hutang Dean. Kamu akan dijual ke pasar gelap mafia agar hutang pria itu bisa dianggap lunas." timpal Ramos.


"Tidak! saya tidak mau! saya ingin bersama Uncle D!" teriak Dean kecil berlari kearah Uncle D. Namun lengannya dicengkeram kuat oleh Ramos.


"Kau harus ikut kami. Pria itu sudah tidak berguna..Dia harus melunasi hutang-hutangnya. Aku tidak mau rugi!" ketus Ramos menarik tangan Dean kecil keluar dari rumah Uncle D.


Tak beberapa setelah kepergian mereka, beberapa orang pria berseragam rapi berjejer di depan rumah Uncle D. Mereka datang kesana karena memiliki suatu tujuan.


"Tuan, seperti telah terjadi sesuatu disini." ujar asisten pria itu kepada sang ketua.


"Periksa keadaan di dalam." perintah pria itu kepada asistennya.


"Tuan---"


"Kenapa?" tanya pria itu menatap tajam kearah asistennya.


"Dean sudah tewas, Tuan. Ada beberapa luka tembakan di dadanya. Sepertinya Dean diserang oleh sekelompok tikus kecil." kata pria itu sedikit gusar.


Pria itu langsung masuk ke dalam memastikan keadaan Uncle D. Ia melihat Uncle D sudah benar-benar tewas. Rahang tegas pria itu tiba-tiba mengeras.


"Aku tidak mau tahu, berkas itu harus kalian temukan sekarang juga!" ucap pria itu dengan tegas.


"Dan juga, kubur tubuh pria itu di tempat yang lebih layak." sambung pria itu keluar dari dalam rumah.


Setibanya diluar rumah


"Lacak keberadaan tikus kecil itu!" perintah pria itu kepada hacker kepercayaannya.

__ADS_1


Hacker kepercayaannya langsung melacak keberadaan para tikus kecil yang sudah menghabiskan nyawa Uncle D. Hacker pria itu mendapatkannya dari beberapa rekaman CCTV sekitar jalan raya.


"Tuan mereka terlihat pergi ke Club. Dan tak beberapa lama setelah kepergian mereka, dua orang pria juga datang kemari. Namun setelah keluar dari tempat ini, pria itu terlihat memaksa seorang anak kecil ikut bersama mereka." kata pria itu menatap Tuannya.


"Dugaanku, sepertinya anak itu bisa menjadi kunci dari tujuan kita datang kemari." tukas sang Tuan berpikir sebentar.


"Share Lok alamat Club yang tertera disana kepada Jackson. Kita harus mengeceknya secara langsung kesana." sambung pria itu.


"Jackson!" panggil pria itu dengan suara sedikit kuat.


Tak beberapa lama keluar seorang pria dari dalam rumah Uncle D.


"Iya, Tuan?" tanya Jackson tergesa-gesa.


"Kita langsung pergi ke lokasi yang dikirim Raider. Sisakan beberapa bodyguard memakamkan Dean di tempat pemakaman." ujar pria itu sebelum masuk ke dalam mobil.


#


#


Di Club


"Jangan! jangan jual saya ketempat seperti ini!" teriak Dean kecil berusaha melepaskan diri dari pria itu.


Seorang pria tua berwajah sangar melangkah mendekati mereka.


"Apa kau mau menjual anak kecil ini?" tanya pria tua itu menghisap rokoknya.


"Benar, apa Anda berani menawar harga anak ini 1 juta dolar?" celetuk Ramos. Pria itu sangat mata duitan.


"Anak ini terlihat sangat manis. Aku cukup menyukainya." ucap pria tua itu menatap Dean kecil dengan penuh minat.


"Cih! dasar pedofil!!" teriak Zaki dalam hati.


"Boleh, kalau Anda berani menukar bocah ini dengan 1 juta dolar Amerika." kata Ramos tidak mau pria tua itu nego harga lagi.


"Baiklah." ucap pria itu memberikan kode kepada anak buahnya.


Tak beberapa lama, satu anak buah pria itu melangkah mendekati mereka. Ia membawa satu koper berwarna hitam, ukuran sedang kearah meraka. Ramos dan Zaki menyakini isi koper itu adalah uang 1 juta dolar yang diminta pria itu.


"Ini, Bos." ujar pria itu menyerahkan koper itu kepada sang Bos.


"Sesuai permintaan kalian. Ini uang satu juta dolar Amerika."


Pria tua itu menyerahkan koper itu kepada Ramos.

__ADS_1


"Kalian bisa memeriksa isinya atau menghitung jumlah uang dolar itu." sambung pria tua itu mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.


"Sudah pas. Senang berbisnis dengan Anda." ujar Ramos tersenyum lebar.


Ramos mendorong bahu Dean kecil mendekati pria tua itu.


"Sekarang kau harus patuh padanya. Pria itu sekarang sudah membeli mu." ucap Ramos menatap tajam kearah Dean kecil.


"Terima kasih, Tuan. Kami pergi dulu." ucap Ramos.


"Zaki, Ayo!" panggil pria itu kepada Zaki. Zaki bersikap seakan-akan tidak rela meninggalkan Dean kecil sendiri. Namun Ramos dengan kasar menarik tangan pria itu keluar dari Club.


"No! jangan tinggalkan William disini sendiri!!" teriak Dean kecil menatap punggung Ramos dan Zaki mulai menjauh dari pandangannya.


"Lepaskan William!" teriak Dean kecil. Namun tidak diindahkan pria tua itu.


Pria itu membius tubuh Dean kecil dan membawanya ke suatu tempat yang cukup rahasia.


#


#


Tak beberapa lama setelah kepergian Ramos dan Zaki, pria yang sebelumnya datang ke rumah Uncle D juga tiba. Namun mereka tidak menemukan keberadaan target mereka.


"Sepertinya mereka sudah pergi lagi dari sini. Pergerakan mereka cukup cepat." ujar pria itu sedikit kesal.


"Apa kau kehilangan jejak mereka dari pantauan CCTV mu Raider?" tanya pria itu sedikit geram dengan ketidak becus hacker kepercayaannya.


"Mereka keluar dari pintu rahasia Club ini, Tuan. Jadi, CCTV tidak bisa merekam jejak mereka." ucap Raider terbata-bata.


"Sudahlah! secepatnya temukan keberadaan semua tikus kecil itu. Aku sudah tidak sabar menghabisinya." ucap pria itu tersenyum menyeringai. Aura membunuh seperti seorang psikopat sangat terasa di sekitar mereka.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka tiba di suatu tempat yang cukup rahasia. Menurut hasil pencarian Raider. Target mereka masuk ke dalam tempat itu.


"Bukankah tempat ini merupakan pasar gelap, Tuan? bagaimana caranya Anda masuk?" tanya Jackson menatap pria itu.


"Aku akan menyamar menjadi seorang pembeli. Mereka datang kesini karena memiliki niat terselubung. Bisa saja mereka ingin menjual anak itu. Bukankah tempat ini biasa dijadikan sebagai tempat pelelangan barang-barang ekstrim." ujar pria itu.


Mereka kemudian masuk ke dalam, sementara Raider memastikan situasi di luar.


Seorang pria terkejut melihat kedatangan pria itu. Ia langsung melangkah menyapa pria itu.


"Tuan Douglas" panggil pria itu menghentikan langkah Jackson dan sang Tuan.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2