
"Awh..."
"Apa yang kau lakukan?" kesal Dean mengelus bokongnya. Ternyata Olivia mendorong sofa hingga membuat sofa terbalik dan menimpa tubuh Dean. Jidat pria itu pun terlihat memerah karena terbentur siku sofa.
"Hahaha.... aku tidak rela kau tidur nyenyak. Sementara aku tidak bisa tidur dengan nyaman, karena ucapanmu." ujar Olivia tertawa cekikikan.
"Rasakan itu." seru Olivia melangkah kearah kasur.
"Sial!" maki Dean mengelus bokongnya.
Ia kemudian berdiri dari lantai dan mengejar langkah Olivia. Dan mengangkat tubuh Olivia ala bridal style dari atas kasur, hingga membuat Olivia terkejut. Dean memindahkan tubuh Olivia di atas karpet lantai dan meletakkannya sedikit kasar.
"Aw.... sakit..."
"Apa yang kau lakukan! kau sangat kasar kepada wanita!" dengus Olivia mengelus pinggangnya.
"Kau tidur di sofa sana. Aku yang akan tidur di ranjang." ketus Dean membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Sementara Olivia tiba-tiba melongo mendengar perkataan Dean. "Tidur di sofa? apa kau gila!" seru Olivia beranjak dari lantai. Ia menarik selimut yang membalut tubuh Dean.
"Dean! kau yang harus tidur di sofa!" tegas Olivia sedikit berbisik. Ia tidak mau suara kegaduhan mereka terdengar oleh Tuan Antonio.
Dean menghiraukan ucapan Olivia. Pria itu mempererat balutan selimut ditubuhnya. Selimut tebal itu menghangatkan tubuhnya dari angin sejuk yang cukup dingin dari pantai.
"Baiklah.... kalau kau tidak mau tidur di sofa. Maka aku akan ikut tidur di atas tempat tidur. Aku tidak masalah tidur satu ranjang denganmu. Bukankah kita sudah jadi suami istri? jadi sah-sah saja aku tidur satu ranjang denganmu!" ujar Olivia membaringkan tubuhnya di samping Dean.
__ADS_1
Olivia tersenyum kecil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Lihatlah, apa yang akan aku lakukan padamu besok." dengus Olivia tersenyum lebar. Ia kemudian memejamkan matanya memasuki mimpi.
Sementara tak beberapa lama setelah terdengar napas teratur Olivia. Dean membuka matanya dan menyampingkan tubuhnya. Ia terdiam lama menatap wajah polos Olivia.
"Mengapa wanita ini terlihat seperti wanita yang memiliki dua kepribadian." gumam Dean dalam hati.
"Sebenarnya apa tujuannya masuk ke mansion klan king setahun lalu. Mengapa satu orang terlihat seperti dua orang. Apa aku sudah salah paham?" timpalnya mengamati wajah polos Olivia.
"Sepertinya aku terlalu berpikir kejauhan. Itu semua karena wanita ini sangat berambisi memiliki Tuan muda. Sadarlah Dean, wanita itu dan wanita ini sama. Mereka satu jiwa." gumam Dean membaringkan tubuhnya terlentang. Dean memejamkan matanya mengikuti Olivia masuk ke dalam mimpi.
#
#
Olivia terlihat bergelut dengan kegiatan dapurnya. Ia terlihat menyiapkan beberapa menu sarapan pagi di atas meja. Ada sandwich, pie susu dengan taburan keju parut di atasnya. Ada juga spaghetti seafood 3 piring. Dari ketiga piring itu,. salah satu dari piring itu, sudah ditambahkan banyak merica dan juga cabe bubuk. Piring itu akan Olivia sajikan khusus untuk Dean. Ia ingin balas dendam kepada pria itu.
"Selamat pagi...." sapa Tuan Antonio tersenyum hangat menatap menantunya. Ia merasa pagi ini hatinya sangat bahagia.
"Pagi, Papa mertua." sahut Olivia tersenyum manis.
"Apa kamu yang memasak semua menu ini?" tanya Tuan Antonio mendudukkan bokongnya di atas kursi.
"Iya, Papa benar." seru Olivia.
"Dimana suamimu? apa dia belum bangun?" tanya Tuan Antonio menatap menantunya.
__ADS_1
"Sepertinya dia belum bangun, Papa. Lebih baik Papa sarapan duluan. Biar Olivia yang memanggilnya sarapan." ujar Olivia melepaskan celemek yang melekat di tubuhnya.
Sementara di dalam kamar
Dean baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk yang dikenakannya membalut setengah tubuhnya, mulai dari pinggang hingga lutut.
Cklek
"Aaa!!!"
"Mengapa kau tidak mengenakan pakaianmu?" ketus Olivia menormalkan ekspresinya.
"Harusnya aku yang bertanya, mengapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu!" ujar Dean berlalu ke kamar mandi mengenakan pakaian.
"Cepatlah keluar dari kamar. Papa mertua memanggilmu agar sarapan bersama." teriak Olivia sebelum keluar dari kamar.
"Papa mertua?" gumam Dean menyeritkan dahinya.
"Sejak kapan dia menggunakan panggilan itu?" sambung Dean.
"Apa wanita itu sedang merencanakan sesuatu? apa dia berniat menarik perhatian Papaku? cih! dasar wanita murahan!" dengus Dean berpikir yang tidak-tidak.
Dean lalu keluar dari kamar mandi setelah mengenakan pakaian santai. Ia merasa tubuhnya lebih segar setelah mandi. Karena Ia tadi pagi bangun tidur langsung joging di sekitar pantai.
...***Bersambung***...
__ADS_1