CINTA YANG BERBAHAYA

CINTA YANG BERBAHAYA
Chapter 16


__ADS_3

BUG


Tubuh itu tumpang seketika. Peluru itu menembus jantungnya. Pria tua itu tersenyum puas melihat Uncle D tumbang ditangannya. Meskipun tembakan itu bukan dari pistolnya sendiri, melainkan dari pistol anak buahnya. Setidaknya mereka satu tujuan, membunuh Uncle D.


Pria itu tertawa terbahak-bahak menatap tubuh lemah uncle D begitupun anak buah pria tua itu. Mereka juga tersenyum puas melihat lawan mereka tergeletak tak berdaya.


"Bagaimana? apa kau masih berani mengejekku? ternyata kau tidak sekuat dulu." ejek pria tua itu. Ia tertawa lagi diikuti anak buahnya.


"Habisi penghianat itu, jangan biarkan dia bebas bernapas. Lalu cari dokumen itu! aku tidak mau dokumen itu jatuh ke tangan orang lain!" ucap pria itu dengan tegas.


"Baik, Bos!" serentak mereka.


Anak buah pria tua itu langsung mengeledah setiap sudut rumah Uncle D. Mereka tidak peduli jika rumah itu berubah menjadi berantakan. Yang penting dokumen itu mereka temukan.


"Kau tidak akan menemukannya BRENGSEK!" teriak Uncle D tersenyum menyeringai.


"Menyerah-lah Rodrigo! kau sudah tua dan kulitmu juga sudah mulai terlihat keriput. Jangan sampai kau menyesal dikemudian hari atas semua kejahatan mu!" ucap Uncle D tersenyum mengejek.


"Tersenyumlah sepuasnya sebelum kau menyusul para setan dan iblis di neraka. Karena sebentar lagi nyawamu akan melayang!" ucap Rodrigo tersenyum sinis.


"Aku tidak takut mati sama sekali Rodrigo. Apa lagi ditangan pria tua bangka sepertimu!"

__ADS_1


"Aku hanya mengingatkanmu sebelum kau menyesal." sarkas Uncle D.


"Tuan, kami tidak menemukan dokumen itu di dalam rumah. Apa pria ini sudah memberikannya kepada bosnya?" ucap anak buah Rodrigo.


"Sial! brengsek kau Dean!"


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


"Cih! dengan luka sebanyak itu, sebentar lagi kau juga akan mati kehilangan banyak darah!" ejek Rodrigo.


"Ayo kita kembali. hidup pria itu tidak akan bertahan lama. Apa lagi lokasi rumah ini, masih jauh dari rumah penduduk lainnya." ucap Rodrigo kepada anak buahnya.


"Ta-tapi, Bos. Bagaimana kalau pria itu selamat?" sela anak buah Rodrigo tidak setuju dengan keputusan bosnya.

__ADS_1


"Kalau kau ingin membunuhnya, maka tetaplah tinggal disini dan pastikan pria itu sudah jadi mayat atau belum." ucap Rodrigo keluar dari rumah Uncle D.


Anak buahnya pada akhirnya mengikuti langkah Rodrigo. Ia tidak mungkin tinggal sendirian disana. Bisa-bisa Ia juga ikut jadi mayat karena dihantui oleh Uncle D pikirnya. Memikirkan hal itu tentu saja membuat tubuh anak buah Rodrigo merinding.


lima menit kemudian, batang hidung Rodrigo dan anak buahnya sudah tidak terlihat lagi. Hari masih gelap dan bumi belum menunjukkan wujudnya.


"Wi-william...." lirih Uncle D dengan napas tersengal-sengal.


"William, apa kamu bisa turun dari atas sana?" sambung Uncle D berusaha menguatkan suaranya agar didengar oleh Dean kecil.


"Uncle D.... apa mereka sudah pergi? apa mereka melukaimu? kau baik-baik saja kan dibawah sana?" ucap Dean kecil beruntun.


"Uncle baik-baik saja, Nak. Apa kamu bisa turun dari atas sana?" tanya Uncle D menyembunyikan lukanya. Ia menarik kain kotor yang ada di sebelahnya menutupi darah yang mengalir dari Dadanya.


"Benarkah? tapi suara Uncle berkata lain. Dan juga, William tidak bisa turun Uncle. Atap plafon ini terlalu tinggi." ucap Dean kecil dengan lirih


"Apa kau merasa nyaman di atas sana sampai matahari terbit? karena hari masih gelap. Kita membutuhkan seseorang membantumu turun dari sana." sambung Uncle D


"Tidak apa-apa Uncle. Yang penting Uncle baik-baik saja. William akan merasa lebih tenang kalau Uncle baik-baik saja." ujar Dean kecil.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2