CINTA YANG BERBAHAYA

CINTA YANG BERBAHAYA
Chapter 9


__ADS_3

"Siapa nama anda Tuan?" tanya Dean menatap pria itu cukup intens. Pria itu juga merasakan getaran kerinduan di dalam hatinya. Ia merasa tidak asing dengan sorotan mata paruh baya yang berdiri di hadapannya.


"Antonio." singkat pria itu mengalihkan pandangannya ke arah laut biru saat melihat sorotan mata penasaran Dean.


"Kalian terdampar di kepulauan Baleares Spanyol tepatnya di Es Cubells." ucap Antonio termenung menatap kearah lautan lepas.


Dean menganggukkan kepalanya mendengar perkataan pria itu.


"Sebentar kemana tujuan kalian sebelum terdampar di kepulauan ini?" sambung Tuan Antonio penasaran. Ia kemudian membalikkan tubuhnya supaya lebih leluasa mengobrol dengan Dean.


"Kami berniat honeymoon di pulau seberang." bohong Dean. Pria itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah laut. Pria itu takut Tuan Antonio mencurigainya.


Tuan Antonio menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Dean.


Tak beberapa lama Tuan Antonio bergerak menarik jala ikan. Dean dengan cepat melangkah membantu pria paruh baya itu.


"Saya akan membantu Anda menariknya Tuan Antonio" tawar Dean tersenyum kecil menarik jaring dari sebelah kiri.


Sementara Olivia tertatih-tatih keluar dari gubuk mencari tahu dimana keberadaan suaminya.


"Ternyata pria itu lagi membantu nelayan itu. Ternyata dia masih memiliki hati nurani juga, terlepas dari apa yang Ia lakukan padaku." ucap Olivia menatap mereka dari kejauhan.


Setetes air mata mengalir dari sudut matanya mengingat-ingat kejadian dua hari yang lalu.


#


#


Kepulauan Baleares


"Apa kau tidak bisa berjalan lebih cepat lagi?" ujar Dean menatap jengah kearah Olivia. Wanita itu terlihat seperti seorang manusia yang phobia akan terik matahari.


"Apa kau tidak lihat jalan melewati tempat ini sangat panas. Apa lagi aku tidak mengunakan alas kaki. Ini benar-benar panas dan kakiku bisa terkelupas menapaki bebatuan bercampur pasir seperti ini." sahut Oliva mengomel.


"Cih manja." ujar Dean


Pria itu kemudian berjongkok di depan Olivia. "Naiklah ke punggungku. Aku akan menggendong mu." sambung Dean menawarkan bantuan ke istrinya.


Olivia merasa aneh dengan perubahan sifat tiba-tiba Dean.


"Apa kau berniat menjatuhkan ku dari tebing ini?" tanya Olivia berpikir yang tidak-tidak. Mereka sedari tadi berjalan mengikuti pria paruh baya yang menawarkan bantuannya kepada mereka berdua.


"Cih... Aku tidak senekat itu bertindak kriminal di daerah yang bukan kekuasaan ku." ujar Dean.

__ADS_1


"Jika tidak mau.... Ya sudah...." ujar Dean berniat berdiri dari jongkoknya namun dihentikan Olivia.


"Aku mau." ujar Olivia naik ke punggung Dean.


Dean berjalan sembari menggendong Olivia di punggungnya.


"Apa kau tahu. Aku cukup merasa lega bisa terdampar di sini. Ini membuatku bebas keluar dari dua dunia yang harus aku jalani." ujar Olivia tanpa sadar.


"Maksud mu?" tanya Dean penasaran dengan perkataan spontan istrinya.


"Ah.... Aku hanya bilang daerah ini cukup indah sebagai tempat wisata." ujar Olivia menutupi pertanyaan Dean.


#


#


Mereka tiba di sebuah rumah minimalis dikelilingi pohon Cemara.


"Tuan, apa anda tinggal sendiri di rumah sebesar ini?" tanya Dean menatap bingung ke pria paru baya itu. Dilihat dari rumah yang di tempati pria itu, bagaimana mungkin pekerjaan pria itu hanya seorang nelayan.


"Iya. Saya memilih menetap di sini menikmati hari tua saya sendirian." sahut Antonio


"Apa anda memiliki seorang istri atau seorang anak?" tanya Dean


"Mengapa Anda berkata seperti itu Tuan Antonio?" tanya Olivia penasaran. Ia sedari tadi menyimak interaksi antara suaminya dan pria paruh baya itu.


"Dulu saya bekerja sebagai seorang pilot. Rumah ini merupakan salah satu rumah singgah saya dan keluarga saya. Setiap hari weekend atau holiday, kami akan menghabiskan waktu bersama di pantai di bawah tebing yang kita lalui tadi. Namun suatu ketika saat kami sedang menghabiskan waktu bermain di pesisir pantai. Gelombang ombak besar membawa tubuh anak dan istri saya. Sampai saat ini, saya belum pernah mendapatkan informasi mengenai mereka lagi." lirihnya menatap sendu ke dalam rumahnya.


"Kami hanya memiliki seorang anak laki-laki. Dan istriku membawanya ikut bersamanya. Mungkin istriku takut Ia kesepian." sambung Tuan Antonio. Pria itu menghapus jejak air matanya yang tiba-tiba menetes keluar.


"Turut belasungkawa atas peristiwa itu Tuan." ujar Olivia tidak enak hati. Ia cukup tersentuh mendengar cerita masa lalu Tuan Antonio.


"Ah.... Saya terlalu serius menjawab pertanyaan anda Nona, sampai saya lupa mempersilahkan kalian masuk." ujar Antonio tersenyum tipis.


"Ayo silahkan masuk." sambung Antonio kepada sepasang suami-istri itu.


#


#


Di dalam rumah Antonio


Dean merasa sangat familiar dengan rumah itu. Ada beberapa hal yang cukup mengganjal di hatinya. Mengapa Ia merasa tidak asing dengan suasana di dalam rumah itu.

__ADS_1


"Tuan.... Apa Anda tidak memiliki asisten atau pekerja yang biasa membantu Anda membersihkan rumah sebesar ini?" tanya Olivia mengamati interior rumah minimalis modern Antonio.


"Terkadang saya akan menyewa seorang pekerja untuk membersihkan rumah ini sekali seminggu. Dan selebihnya saya melakukannya sendirian." sahut Antonio.


"Lagian saya juga sudah pensiun. Saya akan menghabiskan waktu saya dengan menjala ikan di pinggir pantai untuk diolah." sambungnya tersenyum tulus menatap Olivia.


"Siapa namamu?" tanya Antonio menatap wajah cantik Olivia.


"Olivia Raulse." sahut Oliva tersenyum tipis.


"Cih...."


"Apa kau pikir aku akan percaya dengan ucapan membual yang keluar dari mulut mu." monolog Dean dalam hati mendengar ucapan istrinya.


"Nama yang sangat cantik seperti paras mu." puji Antonio.


Olivia tersipu malu mendengar pujian tulus Antonio. Terselip sedikit rasa rindu di hati Olivia untuk kedua orangtuanya. Orang tua yang selalu memanjakannya dan menuruti semua kemauannya.


"Baiklah...."


"Mari ikut saya." ujar Antonio melangkah melewati sebuah lorong yang tidak terlalu lebar.


Cklek


Tuan Antonio membuka sebuah kamar yang cukup luas. Pemandangan di luar kamar itu cukup indah dan menawan. Mereka bisa melihat pemandangan pantai dari atas balkon kamar itu.


"Ini kamar yang akan kalian tempati selama tinggal disini. Berhubung kalian adalah sepasang suami isteri. Maka saya tidak perlu menambah satu kamar lagi untuk kalian tempati." ujar Antonio. Pria itu tersenyum tipis melihat wajah merah padam sepasang suami-istri itu.


"Anggaplah rumah ini seperti rumah kalian sendiri." sahut Antonio sebelum keluar dari kamar itu.


"Istirahatlah. Nanti saya akan memanggil kalian jika makan siang sudah matang." sambungnya lagi meninggalkan Dean dan Olivia.


"Apa kau akan diam saja disitu tanpa membersihkan diri?" tanya Dean dingin. Pria itu melangkah menuju balkon kamar yang mereka tempati.


Olivia mendengus mendengar perkataan sinis dan judes suaminya. Saat ingin melangkah menuju kamar mandi, tiba-tiba Olivia menghentikan langkahnya.


"Tunggu dulu...." ujarnya membalikkan tubuhnya menatap punggung suaminya sedang berdiri di luar balkon kamar itu.


"Kami berarti akan tidur di kamar yang sama? dan juga kami akan mandi di kamar mandi yang sama?"


"Tidak! tidak!!"


Ia berusaha membuang pikiran-pikiran kotornya sembari melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2