
"Tuan Gilbert." ucap King Douglas membalas sapaan pria itu.
"Saya tidak percaya, kalau kita akan bertemu di tempat ini. Apa yang Anda lakukan di tempat ini, Tuan Douglas?" tanya pria itu.
"Saya sedang mencari seorang pria tua. Sepertinya pria itu membawa informan kami kesini." ujar King Douglas tanpa ekspresi.
"Lalu, Anda, apa yang sedang Anda lakukan ditempat ini?" sambung King Douglas. Tanpa bertanya pun, Ia sudah tahu apa tujuan Gilbert disana.
"Mencari seorang tawanan." ujar Gilbert tersenyum menyeringai.
Mereka lalu duduk di kursi masing-masing, karena acara sebentar lagi akan di mulai.
Tuan Douglas duduk di kursi paling belakang dan Tuan Gilbert mendudukkan bokongnya di samping pria itu.
"Hari ini kami memiliki beberapa barang antik dan kuno yang akan dilelang."
"Yang pertama, ini adalah salah satu barang antik yang ditemukan seorang ilmuan beberapa ratus tahun silam. Dan harga penawaran pertama yang akan saya berikan senilai 1 juta dolar." ucap pemandu acara menunjukkan sebuah guci pusaka.
"1.1juta dolar." ucap seorang pria mengangkat tangannya.
"1.2 juta dolar." ucap pria lain menawarkan harga yang lebih tinggi.
"3 juta dolar." ucap Tuan Gilbert tersenyum menyeringai.
"Wow...."
"Apa dia gila menawar harga semahal itu." bisik-bisik para tamu lainnya.
Tuan Douglas tidak peduli dengan bisik-bisikkan orang-orang itu. Karena tujuannya datang kemari adalah menemukan keberadaan Dean kecil.
Ia sudah lama mengenal tuan Gilbert dan tahu kebiasaan pria itu.
Satu
Dua
Tiga
"Karena tidak ada lagi yang mau menawarkan harga lebih tinggi, jadi barang antik ini akan kami serahkan ke meja tuan Gilbert." ujar pria itu menggoyang-goyangkan lonceng ditangannya.
Teng
Teng
Teng
"Baiklah.... kita lanjut..."
"Kali ini kami akan menawarkan seorang gadis bisu kepada kalian. Meskipun Ia memiliki satu kekurangan, namun ia juga memiliki kelebihan. Ia masih perawan dan memiliki wajah yang sangat cantik jelita. Penawaran awal senilai 10 juta poundsterling." ujar pembawa acara.
Para tamu undangan pria menawarkan harga sesuai kemampuan mereka masing-masing. Mereka menawarkan harga wanita itu hingga mencapai 30 juta poundsterling. Namun penawaran harga tinggi dari salah satu orang pria yang disana, membuat beberapa orang dari mereka diam tak berkutik.
__ADS_1
"1 miliyar poundsterling." celetuk pria itu tersenyum menyeringai menatap kearah wanita di dalam sangkar itu. Ia dimasukkan ke dalam sangkar besar yang sudah di lapisi jeruji besi.
"Pria itu lagi yang mendapatkannya!" dengus seorang pria menatap kesal kearah Tuan Gilbert.
"Lagi-lagi Tuan Gilbert menawarkan harga yang sangat tinggi. Apa tidak ada lagi yang berani menawarkan harga di atas 1 miliyar poundsterling?" tanya pemandu acara.
Namun tidak ada satu orang pun yang berani menawarkan harga yang lebih tinggi lagi.
"Bawa wanita itu ke mansion ku." bisik Tuan Gilbert kepada asistennya.
"Tuan Douglas.... sepertinya saya harus pulang duluan. Karena saya sudah mendapatkan mangsa saya." ucap pria itu tersenyum kecil.
Sementara Tuan Douglas tidak menyahuti perkataan Tuan Gilbert, karena matanya menatap fokus kearah gorden yang menutupi satu sangkar yang dikeluarkan petugas. Dan saat gorden itu dibuka, Tuan Douglas melihat di dalam sana sudah ada satu orang anak kecil meringkuk ketakutan.
"Kali ini kami menawarkan seorang anak laki-laki kepada kalian. Ia memiliki otak yang sangat Genius. Kalian bisa menggunakan kemampuannya dimasa depan. Penawaran awal senilai 5 juta poundsterling." ujar pembawa acara.
"50 juta poundsterling." ujar Tuan Douglas mengangkat tangannya.
"Wah.... Tuan ditengah menawarkan harga senilai 50 juta poundsterling. Apa ada yang mau menawarkan harga diatas 50 juta?" tanya pemandu menatap para tamu undangan.
"100 juta poundsterling." ujar tamu undangan yang lain.
"Setengah miliyar poundsterling." ujar Tuan Douglas mengangkat tangannya.
Para tamu undangan terkejut mendengar penawaran Tuan Douglas. Mereka tidak berkutik sama sekali. Karena mereka takut bangkrut, apabila mereka menawarkan harga yang lebih tinggi lagi.
"Jika tidak ada lagi yang berani menawarkan harga yang lebih tinggi. Maka anak ini akan menjadi milik Tuan Douglas." ucap pemandu itu. Namun tidak ada lagi yang berani memberikan penawaran.
Teng
Teng
Teng
"Bawa anak itu ke mobil, Jackson. Jangan lupa menghabisi nyawa pria yang tega menjual anak itu." bisik Tuan Douglas keluar dari ruangan itu.
"Baik, Tuan." ujar Jackson melangkah mendekati pemandu acara itu.
"Siapa yang menjual anak itu?" tanya Jackson dengan wajah datar dan dingin.
"Pria tua disana, Tuan." ujar pemandu itu sedikit takut dengan aura yang dikeluarkan Jackson.
"Keluarkan anak itu dari dalam sana. Biarkan aku yang memberikan cek ini kepada pria itu." ujar Jackson menatap tajam pemandu itu.
Para petugas langsung mengeluarkan Dean kecil dari dalam sangkar besi.
Hati Jackson langsung tergerak mendekati Dean kecil. Karena Ia juga merupakan seorang ayah.
"Kemari lah. Siapa namamu?" tanya Jackson menatap lembut Dean kecil.
Dean hanya diam tak bergeming sama sekali.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin membawamu pulang." sambung Jackson mengelus lembut kepada Dean kecil.
"Naiklah ke punggungku. Tidak usah takut." ucap Jackson berjongkok membelakangi Dean kecil.
Dengan tubuh sedikit gemetaran, Dean kecil naik ke punggung Jackson. Jackson mengendong tubuh Dean kecil kearah pria tua yang dimaksud pemandu acara itu.
"Apa kau yang menjual anak ini?" tanya Jackson setibanya di depan pria itu.
"Ya, kau benar." sahut pria itu.
"Ikut aku. Aku sudah menyiapkan 3 koper uang di dalam mobilku." pancing Jackson berlalu melewati pria itu.
Rodrigo yang mata duitan, mau-mau saja mengikuti perkataan Jackson. Setibanya di sebuah gang kecil gelap dan sangat sunyi. Terdengar letusan tembakan beberapa kali. Suara orang meringis dan mengerang kesakitan terdengar bersahut-sahutan.
"Apa kau takut mendengar suara itu?" tanya Jackson menolehkan kepalanya kebelakang. Ia merasa tubuh Dean kecil gemetaran.
"Mulai dari sekarang kau akan mulai terbiasa mendengar suara-suara itu. Kau akan memiliki banyak teman disana, termasuk putraku. Kau bisa bergaul bersama mereka, terkecuali dengan Tuan Muda." ujar Jackson sedikit terbuka kepada Dean kecil.
"Jangan sekali-kali mendekatinya, sebelum waktunya tiba." sambung Jackson.
Dean kecil menyimak perkataan Jackson, namun tidak menyahuti ucapan pria matang itu.
Tak beberapa lama, mereka tiba di depan mobil yang ditumpangi Tuan Douglas.
"Kita langsung kembali ke mansion klan king. Aku tiba-tiba memiliki urusan di Korea selama beberapa hari ke depan." ucap Tuan Douglas melirik sekilas kearah Dean kecil.
"Apa kau sudah makan?" tanya Tuan Douglas. Tidak ada ekspresi hangat di wajah datar itu.
Dean kecil tidak berani menjawab pertanyaan Tuan Douglas ataupun menatap kearah pria matang itu.
Namun suara bunyi cacing dari perut Dean kecil menjawab pertanyaan Tuan Douglas.
Tuan Douglas langsung menghubungi nomor salah satu anggota klan king yang menunggu mereka di Bandara.
"Siapkan beberapa macam menu makanan untuk anak berusia 5 tahun." ucap pria itu dengan suara tegas. Ia langsung mematikan panggilannya.
"Bagaimana Jackson? apa mereka sudah mati?" tanya Tuan Douglas menatap asistennya.
"Sudah, Tuan. Tubuh mereka sudah dibawa oleh beberapa anggota klan king ke hutan sekitar sana." ujar Jackson tanpa mengalihkan pandangannya menatap kebelakang bangku penumpang.
"Raider.... jangan lupa menghapus CCTV sekitar area itu." ujar Tuan Douglas.
"Semua sudah beres, Tuan." sahut Raider.
Raider merupakan ayah Rain, sementara Jackson merupakan ayah Jack. Identitas mereka dirahasiakan hingga putra-putri mereka dewasa. Karena terlalu banyak ancaman yang mengintai pergerakan mereka. Mereka tidak mau nyawa anak dan istri mereka terancam.
Dean kecil perlahan-lahan mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan klan king selang setelah lebih dari 1 tahun tinggal disana. Itu pun berkat dukungan dan keramahan Rain dan Jack. Mereka sangat baik dan sedikit usil kepada Dean kecil.
Untuk mengenang Uncle D. Dean kecil mengubah namanya dari William Antonius menjadi Dean Albion Williams. Itu merupakan gabungan dari nama Uncle D dan nama asli Dean kecil.
Ia tumbuh besar dengan kehidupan barunya, kenangan tentang kedua orang tuanya mulai memudar dari ingatannya. Hingga ia menginjak usia 28 tahun.
__ADS_1
***Flashback off***
...***Bersambung***...