Cinta Yang Sempat Tak Terlihat

Cinta Yang Sempat Tak Terlihat
Berdebat


__ADS_3

Pagi hari yang baru, keluarga yang baru , suasana yang baru. Dara begitu asyik membatu Mira menyiapkan sarapan pagi yang sudah hampir selesai mereka tata.


" Apa tidur mu nyenyak sayang " Tanya Mira dengan tersenyum.


"Tidak Tante ... aku sangat terganggu dan ini ulah dari anakmu .." ingin rasa nya iya mengatakan seperti itu semalaman Rendi terus mengganggu nya laki-laki itu terus saja menyuruh nya melakukan hal - hal aneh seperti memijat nya , menata Dasi sesuai warna sampai iya tertidur di sofa kamar . Badan nya begitu pegal ketika iya bangun pagi tadi. " Nyenyak kok Tante !! "


" Mama .. Biasakan kau menyebut mertuamu seperti itu , dasar gadis kurang sopan santun " Oma berjalan dengan satu tongkat terlihat lambat karena sebab itu lah Dara mendekati nya dan membantu nya.


" Oma... " Dara membatu wanita tua itu berjalan " Aku masih belum terbiasa saja Oma .. aku minta maaf "


" Kalau sekali lagi aku dengar kau memanggil nya dengan sebutan Tante. Aku akan memukul mu dengan tongkat ku ini "


" Kau kejam pada istriku Oma !!! Pagi sayang ...cup " Rendi mencium kening Dara yang sedang menggandeng Oma berjalan.


Mira dan Oma senang melihat sikap yang di tunjukkan Anak nya itu pada istri nya, dari kejauhan Gunawan juga melihat adegan itu juga tersenyum, Dara memang telah mengubah suasana itu menjadi hangat di pagi hari.


Dara melihat papa mertuanya juga melakukan hal yang sama pada Mira, mengecup kening di pagi hari pada istri adalah kebiasaan turun temurun di rumah itu.


Mereka memulai sarapan pagi itu , beberapa menit berlalu mereka sudah menyelesaikan sarapan mereka , Gunawan lebih dulu ingin beranjak dari meja tersebut.


" Papa ... " Ucap Dara , semua orang melihat ke arah nya dengan penuh tanda tanya termasuk suami nya yang saat ini berada di samping nya. " Papa .. Dara ingin bicara sebentar pada kalian semua "


" Ada apa sayang ..?? " Gunawan kembali duduk dan menatap mata Dara mencoba menerka perihal hal yang ingin Dara bicarakan. "


" Papa Dara ingin kembali kerja .. "


Semua mata melihat ke arah nya , rasa nya iya begitu takut untuk sekedar membalas tatapan mereka hingga iya memilih untuk menundukkan pandangannya.


" Tidak aku ijin kan ... " Ucap Rendi dengan begitu tegas dan lantang.


" Kau ingin kerja di mana Dara ..?? "


ucap Gunawan dengan begitu tenang.


" Papah ... " ucap Rendi pada papa nya. " untuk apa papa menanyakan hal tersebut , Dara akan di rumah sama seperti mama "


" Rendi tenang lah " Ucap Mira meskipun iya merasa kecewa pada menantu nya tersebut namun iya masih bisa mengontrol perasaannya.

__ADS_1


" Dara , Rendi memiliki perusahaan dalam berbagai bidang kau cukup menunjuk nya saja sayang kau akan menjadi pimpinan di perusahaan tersebut "


" Papah , jangan berbicara hal yang aneh. Aku tidak mengijinkan dia berkerja... Ikut aku " Rendi menarik tangan Dara.


" Rendi jangan sakiti Dara , ucap Gunawan berdiri menghadang anak nya itu "


" Siapa yang ingin menyakitinya , aku hanya ingin berbicara dengannya Pah " Ucap nya begitu kesal pada papa nya.


" Papa ... " Ucap Dara menggelengkan kepala nya menampakkan wajah memelas nya agar papa mertuanya itu bisa mencegat Rendi.


" Rendi lepaskan Dara... kita bicara disini baik baik , kau tidak bisa juga untuk menentang keinginan istri mu , menyamakan nya dengan mama , mereka berdua mempunyai jaman, sikap , serta padangan hidup yang berbeda "


Rasanya Dara begitu senang mendengar nya , mertuanya itu begitu bijak , tapi sayang sifat nya jauh berbeda dengan anak laki laki nya itu.


" Pah ini urusan Rendi , Dara adalah istri Rendi kan ..??? " Tanya menatap bergantian Oma , mama , dan papa nya yang terlihat begitu khawatir.


" Iya tapi kamu sedang emosi sekarang ini tidak baik sayang " ucap Mira dengan penuh kelembutan berharap anak laki - laki nya itu mau medengarkan nya.


" Rendi kita bicarakan di sini , apapun keputusan mu akan kami dukung karena kamu lah yang berhak atas Dara. "


Mendengar itu Rendi melepaskan lengan tangan Dara yang sedari tadi digenggam nya erat.


" Aku tidak ingin dia kerja , dan keputusan ku tidak bisa di ubah atau di gangugugat lagi, sekarang apalagi yang ingin di bicarakan istriku "


Dara diam ,iya sudah tidak punya keberanian untuk menentang keputusan suami nya tersebut.


"Papa tidak setuju Rendi , kau terlalu memaksa keinginan mu , Kau tidak mau mendengarkan mau istri mu , ini tidak adil "


ucap Gunawan.


" Papa akan memperoleh kan istri mu bekerja selagi dia tidak mengandung anak mu di boleh bekerja , kalau kau tidak ingin dia bekerja buatkan segera cucu untuk kami !! "


" Papa .. "


" Kenapa itu fair kan "


" Uhuk... uhuk " Mendengar ucapan papah mertua nya iya menjadi tersedak oleh air liur nya sendiri mata nya membulat penuh, Mira memberikan air putih pada Dara.

__ADS_1


" Baiklah pah jika itu syarat nya akan aku kabulkan " Meskipun ucapan nya teruntuk pada papa nya mata nya menatap lekat istri nya yang terlihat gugup , canggung , dan mulai keringat dingin.


" Kamu ingin kerja di mana Dara ...?? " ucap Gunawan.


" Di salah satu perusahaan temanku pah "


" Ooh baguslah kalau begitu , kapan kau mulai kerja ..?? "


" Besok pah ... "


Dara melihat wajah Rendi , laki - laki itu tampak geram dengan pembicaraan ini , manik mereka bertemu terlihat jelas pada wajah dan gerak tubuh nya kalau iya sedang marah saat ini.


" Kau harus bekerja lebih keras Rendi setiap malam nya " Ucap Oma menatap Dara.


" Jelas dong mah , agar rumah ini ramai dengan suara anak kecil , aku sudah tidak sabar. " Ucap Mira


" Tentu saja mah " ucap Rendi


Rendi berdiri merapikan Dasi dan pakaian nya di ikuti Dara yang juga berdiri untuk mengantarkan suami nya pergi bekerja " Aku akan pulang cepat malam ini sayang , jadi bersiaplah !! " Mengecup bibir istri sejenak di depan orang tua dan Oma nya.


Rendi dan Gunawan beranjak dari tempat makan untuk berangkat kerja.


Dara teringat kembali wajah Rendi dan itu Lagi - lagi membuat nya panas dingin , membayangkan wajah Rendi yang bersusah payah menahan amarah tentu malam ini tidak akan berlalu dengan mudah.


Dia tidak akan melepaskan mangsa nya dengan mudah bukan.


" Memang seharusnya aku tidak perlu menentang nya, merusak mood nya sama halnya menembakkan pistol di kepala sendiri bukan. " ucap dara di dalam hati nya


" Sayang ..." suara itu mengusik lamunannya.


" Iya mah ..!! "


" Kalau dia menyakiti mu katakan pada mama sayang ..!! "


" Iya mah ..."


Happy reading sayang

__ADS_1


maksain up .. maaf kurang maksimal aku nya lagi kehilangan feel menulis suasana hati ku benar benar kacau saat ini.


Aku masih belajar untuk bisa mohon maaf kurang maksimal dan masih banyak typo nya ya ... 😊


__ADS_2