
" Apa perkataan ku kurang jelas di telinga mu ...?? "
Rendi mendekat pada tubuh laki laki itu namun Dara menarik nya " Jangan sakiti dia ..."
" Heh , aku begitu marah pada mu sekarang , jika kau tidak berangkat sekarang laki - laki ini akan berakhir di rumah sakit. " Rendi pergi meninggalkan mereka menuju Mobil yang telah siap mengantar mereka.
" Dara ..... "
" Maaf Nino , aku harus pergi....??? "
" Kemana ... "
" Jakarta " Dara berlali menuju mobil tersebut.
***
" Jakarta " Lirih Nino " Jadi Dara sudah memiliki suami....?? kenapa secepat itu Dara kau melupakanku ...?? "
" Aku mencintai mu "
pikiran nya menerewang menatap kosong kejadian yang lalu.
" Apa pah ....??? "
" Iya Nin ... Papa sedang di jebak oleh permaian pengusaha itu , karena ijin tambang yang mereka ajukan tidak bapa setujui "
" Pah ... " Ucap lirih." Gimana dengan rencana Pernikahan Nino dan Dara .."
" Nino Maafkan Papa ..." Ucap nya mengelus punggung laki - laki yang terlihat begitu rapuh. " Tolong saat ini fokus lah dulu pada Ibu Nin, dia pasti begitu membutuhkan mu , dia pasti akan shock mendengar ini "
__ADS_1
" Ini tidak akan lama Nino " Surya berusaha menyakinkan Nino." Hubungi Dara ..."
Setelah obralan diruang Kerja sang ayah, Nino kembali ke kursi nya dia menatap nanar dinding kerja. Inilah yang paling iya takutkan saat bekerja di pemerintahan namun Surya selalu memaksanya untuk mengikuti langkah nya karena kakek Nino dulu pernah berkata pada sang ayah "Di dunia pemerintahan masih banyak memerlukan orang baik jadi lah salah satu manusia itu untuk membantu sesama yang membutuhkan " Itulah ucapan kakek nya pada sang ayah sebelum pergi untuk selama nya dan itu lah yang juga selalu di gunakan nya untung mengintimidasi Nino putra semata wayang nya.
" Aku tidak percaya diri Dara " Dering telpon masuk dari layar telpon genngam nya menampilkan nama sang kekasih hati namun tangan nya menjadi kaku hati dan pikiran nya sedang beradu mencari cara yang terbaik keluar dari masalah ini.
Suara panggilan telpon itu tak henti berbunyi namun pikiran nya membenarkan sikap nya tidak mengangkat telpon itu. " Malu dan merasa tidak pantas " adalah hal konyol yang terngiang - ngiang di pikiran nya meskipun iya tau betul ayah nya tidak melakukan hal keji seperti itu.
Hari demi hari berita itu pun tersebar di Telivisi , surat kabar dan media lainnya dan masuk sebagai tranding topik jagat maya. Sudah satu Minggu semua telpon chat dari Dara tidak iya gubris. Fokus nya hanya pada ibu nya dan dia berhasil saat ini mereka sedang menyaksikan pada ruang tengah rumah dinas yang sudah beberapa tahun mereka huni penangkapan yang di lakukan pihak berwajib di kantor pemerintahan kota itu tidak membuat sang ibu menangis histeris beliau hanya berkata " Suami ku kamu tidak seperti itu , dan aku percaya itu " ucap nya dengan tersenyum membuat dia memeluk ibu nya dengan begitu erat " Kita akan sama mah ... " Ucap Nino.
" Kau sudah menghubungi Dara ...??"
" Tidak mah , Nino akan pergi dan memikirkan cara untuk membersihkan nama Papah setelah itu baru Nino pantas menjadi pendamping Dara. Nino tidak mau keluarga itu juga akan di pandang buruk masyarakat kerana hubungan yang Nino jalani dengan Dara. "
" Tapi Nin , Dara bukan wanita seperti itu "
" Mah , tolong dukung Nino jangan buat hati Nino bimbang , Nino percaya dengan Cinta Dara pada Nino. Dia akan menunggu Nino "
Nino mengangkukkan kepala nya meskipun jelas iya juga meragukan semua ini. " Mama sudah siap untuk pergi dengan Nino "
Ibunya pun mengangguk dan memeluk sang putra hebat nya yang telah berusaha meyakinkan nya dalam satu Minggu ini , yang telah membuat nya setegar ini.
Ibu dan anak itupun akhirnya pergi keluar Negri setelah menemui Surya untuk berpamitan, mereka telah merencanakan kepergian ini walaupun berat bagi mereka bertiga tapi Surya lebih rela melakukan itu ketimbang sang istri yang harus mendengar hujatan dan cacian dari teman ,keluarga atau warga atas kasus korupsi.
Nino sudah berada di dalam pesawat hati nya benar - benar berat melakukan ini. Ibu nya yang duduk di samping nya menggenggam tangan nya seolah merasakan kepedihan sang putra.
"Nin , apa kau menyesali keputusan mu ...?? "
Anak itu menatap manik mata sang ibu yang telah melihat nya penuh kekehawatiran. " Mamah apa Dara akan menunggu Nino ...?? "
__ADS_1
" Hubungi Dara sayang itu akan membuat hati mu lebih baik "
" Tidak Ma " Nino menggelengkan kepala nya " Nino akan datang pada nya sebagai Nino yang membanggakan "
" Nino sudah berapa kali mama bilang Dara bukan wanita seperti itu "
" Sudah lah ma , Nino tidak ingin membahas nya .."
****
Hari yang berganti bulan Usaha yang di rintis nya itu mengalami kemajuan yang pesat sudah 5 cabang Cafe yang iya bangun dengan kurun waktu 3 bulan dan satu resort yang iya lagi kembangkan di Negara Singa itu , siang malam tak kenal waktu lelah atau malas Nino terus memutas otak nya kepiyawan nya dalam memanfaatkan sosial media juga salah satu keberhasilan nya.
Meskipun sibuk iya tak pernah lupa memantau kasus sang ayah dari kejauhan perlahan kasus itu menemui titik terang namun Tim dari kuasa hukum sang ayah sedang mencari bukti yang lebih kongkrit untuk melepaskan sang ayah dari tuduhan kasus ini.
" Lakukan yang terbaik pak , bergerak lah lebih cepat dan bersihkan nama nya " Ucap nya mematikan panggilan telpon tersebut.
Selama hidup di Negri orang , Wajah nya yang tampak dan tubuh nya yang tegap begitu terlihat propesional itu tak luput dari incaran gadis - gadis cantik.
Salah satu nya adalah tetangga nya , Gadis yang bernama Meyra itu adalah anak kelas 3 SMA yang begitu terang - terangan mendakati nya tak hanya itu Meyra juga pandai menggambil hati ibu nya Nino. Hingga gadis itu sering makan dan tidur di rumah Nino. Selisih umur mereka yang terpaut sekita 5 tahun membuat Nino memandang Meyra sebagai bocang ingusan.
" Kak Nino baru pulang ...?? " tanya Meyra yang membuka pintu ingin pulang dari rumah Nino.
" Seperti yang kau lihat ." Jawab nya berlalu pergi tanpa memperdulikan gadis itu yang tersenyum begitu manis.
" Ka Nino ... "
Nino terus berjalan tanpa peduli Suara Meyra yang memanggil nya. " Kak .... " teriak nya lagi namun Nino begitu acuh dan tak memperdulikan nya.
Meyra menghembuskan nafas nya dengan kasar " Kenapa aku tidak pernah merasa benci dengan sikap tidak sopan santun nya itu " Meyra menggelengkan kepala nya dan melangkah pergi keluar dari rumah itu.
__ADS_1
Maaf ya.... aku lagi ketemu malas
Happy reading Aja lah sayang ... salam cium ku muachhh ...