
Belum sempat Rendi ingin mengumpat kesal pada Aldo seseorang memanggilanya.
" Kau di sini Sayang ...??? "
Rendi membalik kan tubuhnya , iya mengenali suara itu , Anya juga berada di pesta ini bersama dengan pacar setingan nya yang berdiri tegap di samping nya.
Tapi Rendi tidak memperdulikan nya. Saat Rendi ingin berjalan melangkah pergi mengabaikan sapaan Anya , tangan lembut itu memyentuh lengan tangannya.
" Kau mau kemana ?? "
" Jangan memanggil aku dengan panggilan sayang kau menghina ku jika melakukan itu " Ucap nya tegas dan menghempaskan tangan Anya.
" Apa kau tidak bisa bersikap sopan pada wanita " Ucap Hans .
" Kau mengajari ku bagaimana memperlakukan wanita , hebat sekali. Seperti nya kau sedang terbawa peran mu.??? "
" Rendi , kau kenapa ...??? kemarin kau baik - baik saja dengan kua !!! "
" Heh " Rendi menarik sudut bibirnya " ini adalah hari terakhir kita bertemu , aku harap setelah ini kau menghilang dari hidup ku. "
" Rendi ,. " Anya mencoba mengambil tangan Rendi " Ren , aku tidak mau " Anya menangis iya begitu mencintai pria ini
Sekali lagi Rendi menghempaskan tangan itu dan berlalu pergi, Anya mengikuti Rendi.
" Ikut aku ..." Tatapan nya begitu tajam, Rendi sudah mengabaikan peringatan yang Aldo berika. Iya sudah tidak bisa menahan diri lagi terus terusan melihat Dara tersenyum karena laki - laki lain membuat hati nya meringis kesakitan.
Tangan Dara di tarik begitu kasar. Dara memohon untuk di lepaskan karena cengkaraman Rendi begitu menyakiti lengan. Sedangkan Devan iya mematung melihat situasi itu. Iya kaget karena Rendi juga mengenal Dara dan memeperkakuan nya begitu kasar. Lalu seseorang menepuk pundak nya
" Dev , kau mengenal wanita itu ??? " tanya Anya yang menyadarkan nya pada lamunananya.
" Hah, ... " Devan melihat dengan jarak yang cukup jauh Rendi menarik tangan Dara begitu kasar. Lalu iya beranjak dari kursi ingin mengejar Dara. Kembali seseorang itu menahan lengan nya.
" Dev .... siapa dia ...??? "
" Aku tidak punya waktu menjelaskan ... " Devan berlari mengabaikan Anya langkah nya sedikit tergangu untuk mengejar Dara karena suasana pesta yang cukup ramai.
__ADS_1
" Sakit Ren ... Lepas ..."
Saat dirasa mereka sudah keluar dari ruangan pesta, Rendi menghempaskan tangan Dara begitu kasar setelah Dara yang meminta nya.
" Ini yang kamu sebut kerja ...??? "
Rendi masih sadar jika Aldo masih ada di samping nya biar bagaimana pun dia tidak tega jika harus memarahi istri nya di depan orang lain sekalipun itu Aldo asisten nya sendiri.
" Aldo pergilah Bookingkan satu kamar untuk ku , aku harus memberi nya pelajaran besar yang tidak akan dia lupakan seumur hidup nya "
" Baik pak " Aldo yang memahami keinginan Bos nya segera pergi meninggalkan mereka.
" Berapa tarif nya. ..??? " Rendi menangkup wajah Dara dengan salah satu tangannya membuat kedua pasang mata itu bertaut saling menatap.
Air mata Dara menetes , entah karena takut atau karena rasa sakit di hati nya mendengar perkataan suami nya yang merendahkan nya.
" Lepaskan ... " Tiba - tiba tubuh Rendi di dorong begitu keras karena dia tidak dalam keadaan yang siap dan siaga tubuh nya pun jatuh ke lantai.
Dia menarik sudah bibir nya berdecah kesal melihat Devan lah yang mendorong nya sepupu nya sendiri.
Dengan sigap Rendi bangun dan mencegah nya. " Gue tidak tau apa hubungan Lho dengan Dara, Gue hanya tidak mau Lho menyakiti nya .." Ucap Devan tegas menatap Rendi.
" Berapa lho udah bayar dia biar gue ganti ...?? "
Mata Dara menatap tajam , lagi - lagi Rendi merendahkan harga diri nya. " Aku gak seperti itu Ren ..." Ucap nya lemah di iringi derai air mata nya.
" Tidak seperti itu .??? bagaimana aku tidak berpikir seperti itu ??? Lihat penampilan mu dan Lihat bukan kah kau tadi sedang dengan pria ini ...?? "
" Ren.... " Iya semakin terisak.
" Hah, Kau sendiri yang bilang kau kerja dan kerja seperti apa yang tugas nya menemati pria datang di pesta selain pekerjaan wanita murahan "
Devan menonjok muka Rendi , Rendi tersungkur kembali di lantai. Devan kembali memukul Rendi hingga di sudut bibir itu sudah memar dan keluar darah segar. Rendi tidak membalas nya entah apa yang di pikirkan pria itu.
" Sudah Dev , lepasin ..." Dara mencoba menarik tubuh Devan menjauh dari Rendi dengan susah payah iya melerai itu akhir nya Devan melepaskan Rendi.
__ADS_1
" Ayok pergi ..." dia menarik tangan Dara , namun gadis itu mematung di tempat.
" Tinggal kan aku Dev ,.. "
" Dara.... " Ucap nya lirih mempertanyakan alasan dara.
" Please Dev ... " Ucap nya memohon pengertian.
Sebelum Devan beranjak pergi iye manatap Rendi begitu tajam dan mengatakan dengan tegas.
" Kalau kau menyakiti nya jangan pernah berharap aku akan mengganggap mu sebagai keluarga atau sepepu ku lagi karena aku akan hanya akan menganggapmu sebagai musuh ku "
Dara tercegat mendengar nya , Devan sudah berlalu pergi dari meninggalkan sepasang suami istri itu.
Rendi masih terduduk dilantai iya berdecah kesal mendengar penuturan sepupu nya itu.
" Ren ... kau berdarah " Dara mengambil satu lembar tissu di dalam tas nya iya berjongkok menyesuaikan dengan Rendi untuk menghapus darah yang keluar di sudut bibir Rendi.
Rendi menepis tangan Dara yang ingin menyentuh nya. " Aku tidak akan pernah membiarkan tanngan wanita murahan ini menyentuhku " Ucap nya begitu tajam seiring tatapan mata nya yang begitu mematikan.
" Hari ini juga , aku mengatakan kita bukan lagi suami istri aku sudah menceraikan mu dan kau bebas untuk berhubungan dengan laki - laki manapun "
Rendi berlalu pergi meninggalkan Dara sedangkan Daara tubuh nya begitu lemas mendengar ucapan Rendi. iya menatap tajam kedepan pikiran nya kosong menerawang entah kemana. Rasa nya iya tidak berdaya bahkan untuk bangkit berdiri saja.
" Mah... Pah... " Hanya kata itulah yang mampu keluar dari mulut nya. Iya tidak menyangka akan di ceraikan suami nya padahal usia pernikahan itu hanya sekitar satu bulan lebih.
" Mah. . Pah... " Lirih nya kembali.
****
Rendi berjalan tanpa tujuan ,tadi nya iya bermaksud untuk membuat Dara tidur dengan nya malam ini tapi karena ucapan Devan membuat nya emosi nya membuncak tinggi. hingga kata terkutuk itulah yang keluar dari mulut nya.
Air mata nya menetes rasa kecewa menjadi satu bergemuruh di dalam hatinya. Entah dengan cara apa iya mengatakan pada orang tua nya nanti tentang ini iya tidak memikirkan itu lagi.
Iya mengndarai mobil nya dengan kecepatan tinggi , membelah jalan menyalakan klapson nya dengan begitu bising saat ada mobil yang mengahalahi arus jalan nya. Rendi begitu kacau , sakit hati dan penyesalan sedang bergemuruh di dalam hati nya.
__ADS_1
Happy Reading