CINTA Yang Tak DIRESTUI

CINTA Yang Tak DIRESTUI
Bab 10


__ADS_3

"Apakah kita langsung pulang sekarang ?", tanya Pim.


Pim melirik kekasihnya.


"Tidak, aku rasa tidak", sahut Anita cepat.


"Lalu ? Apa yang akan kita lakukan sekarang ?", tanya Pim.


"Kita kembali lagi ke rumah Wijaya", sahut Anita.


"Apa ? Kembali ke rumah Wijaya ? Apa kamu baik-baik saja, sayangku !?", tanya Pim kaget setengah mati.


Dia langsung memegangi dadanya yang terkejut setelah mendengar jawaban Anita, kekasihnya.


"Aku rasa tidak aku saja yang sudah tidak waras tetapi kamu juga lebih tidak waras lagi, sayangku Anita", ucap Pim.


"Wajar karena keadaan yang memaksa kita menjadi setengah sinting", sahut Anita datar tanpa emosi.


"Ya Tuhanku ! Apa yang kamu pikirkan, sayang ?", tanya Pim menjadi bodoh.


"Tidak ada yang aku pikirkan sekarang tetapi jujur aku katakan padamu bahwa aku sedang sinting karena memikirkan nasib Tungga sekarang, Pim", sahut Anita.


"Sayangku...", ucap Pim prihatin.


"Kamu tahu bukan, jika kita tidak melihat Tungga di rumah Wijaya tadi dan keberadaannya benar-benar misterius sekarang, Pim !", ucap Anita setengah menjerit panik.


"Tenanglah, Anita !", jawab Pim.


"Bagaimana bisa aku bersikap tenang ? Dan coba kamu lihat tadi jika kita tidak benar-benar melihat Tungga disana !", jerit Anita cemas.


Anita mengusap rambut di kepalanya putus asa dan mengibaskan kedua tangannya asal-asalan.


"Tenang ! Tenang, sayangku !", sahut Pim.


Pim meminggirkan mobilnya ke tepi jalan lalu menghentikan laju mobilnya.


"Kita berpikir dengan tenang sekarang ! Dan jangan bersikap panik, kamu paham !", ucap Pim.


Pim mencoba menenangkan Anita yang tampak kacau balau.


"Bagaimana kita bisa setenang itu, Pim ? Aku tidak melihat Tungga !", sahut Anita cukup keras.


"Mungkin dia berada di dalam rumahnya sekarang karena itu kita tidak melihatnya tadi", ucap Pim.


Pim berusaha menghibur hati Anita lalu meraih wajah kejasihnya itu. Dan memandanginya lekat-lekat.


"Tatap kedua mataku, Anita !", perintah Pim.


"Apa... Pim... ?", sahut Anita.


Pim berusaha membuat Anita menatapnya serius dengan memegangi wajah wanita itu erat-erat agar pandangan Anita tertuju padanya.


"Aku harus kembali kesana, Pim", ucap Anita dengan bibir bergetar.


"Kembali ? Bagaimana jika kamu yang justru tidak pernah kembali padaku, Anita ?", tanya Pim dengan nada serius.


"Mungkin aku sudah mati...", sahut Anita.


Pim mengumpat pelan lalu mencium mesra Anita.

__ADS_1


Dia meraih tubuh Anita dalam dekapannya.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati konyol dan sia-sia, Anita", ucap Pim.


"Tapi aku harus kembali kesana dan mencari Tungga", sahut Anita.


Tatapan Pim menjadi kosong dan dia tidak mampu membayangkan jika dia akan kehilangan Anita.


"Aku tidak akan membiarkannya, sayang", ucap Pim malas.


"Maafkan aku... Pim... Ini sudah kewajibanku menjaganya...", sahut Anita.


Anita memejamkan kedua matanya saat Pim mendekap tubuhnya erat.


"Tapi aku tidak mampu kehilanganmu, Anita...", ucap Pim.


"Pim... Aku mohon... Bawalah aku kembali kesana ! Aku mohon !", sahut Anita memohon.


"Anita...", ucap lirih Pim.


Pim terpejam tak mampu menjawab pinta Anita.


Pria asing itu menghidupkan mobilnya kembali lalu memutar arah mobilnya menuju area perumahan elit.


Pim menahan air matanya yang hendak meleleh jatuh, dengan cepat dia mengusapnya tapi dia tidak mampu menyembunyikan kesedihannya dari dirinya sendiri maupun Anita.


"Aku akan turun dari mobil dan parkirlah mobil cukup jauh dari kediaman Wijaya, sayang", ucap Anita.


Pim hanya diam membisu tanpa menjawab ucapan Anita.


Menuruti perintah Anita dan memarkir mobilnya jauh dari area rumah Wijaya.


Anita turun dari dalam mobil lalu berjalan sambil memanggul karabinnya.


Pim menjadi salah satu pria paling tidak berdaya saat melihat orang yang dicintainya harus menghadapi bahaya sendirian.


Dia hanya mampu menundukkan kepalanya dan menahannya di atas setir kemudinya dengan perasaan hancur.


"Anita...", gumamnya lirih.


Anita mempercepat langkah kakinya dengan penuh percaya diri sambil mengarahkan karabin di tangannya ke arah depan.


Dia berjalan memasuki kembali area halaman rumah Mahatir Wijaya.


"Lihat ! Siapa yang datang !", ucap seorang pria saat melihat Anita masuk.


Beberapa pria menoleh ke arah Anita yang melangkah penuh percaya diri mendekati beranda rumah Wijaya.


"Wow ! Wow... Wow... Anita ! Rupanya kamu, sayang !", sapa pria kekar.


"Apa dia tidak salah mengarahkan senjatanya kepada kita ?", tanya salah seorang dari mereka.


"Aku rasa Anita tahu apa yang kini dia lakukan", sahut pria kekar tersenyum tipis.


"Apa perlu memanggil bos ?", bisik pria berambut ikal.


"Aku rasa tidak perlu selama kita mampu menanganinya sendiri", sahut pria kekar.


"Tapi dia anak angkat bos besar Wijaya, bagaimana kita mengabaikannya ?", ucap salah seorang pria kurus.

__ADS_1


"Selama dia tidak membuat masalah maka tidak perlu memberitahukannya kepada bos Wijaya", sahut pria kekar.


"Jangan bodoh, samuel !", ucap pria kurus.


"Tidak, Paulus ! Aku tidak bodoh, biarkan dia berbicara dan kita dengarkan apa keinginannya datang dengan karabin ditangannya", sahut pria kekar.


Pria kurus hanya memandang Anita yang berjalan cepat menaiki teras rumah besar milik Mahatir Wijaya.


"Selamat datang Anita !", sapa pria kekar sambil menyeringai.


"Kemana Tungga ?", tanya Anita.


"Astaga, Anita ! Tidak bisakah kamu bersikap manis kepada kami !?", sahut pria kekar.


"Jangan coba alihkan arah pembicaraan kita, kamu mengerti !", ucap Anita.


Anita menatap tajam pria kekar dihadapannya dengan sikap hati-hati.


"Untuk apa aku mengalihkan pembicaraan, Anita !? Bukan ranahku untuk berdebat dengan wanita secantik dirimu", sahut pria kekar.


"Katakanlah, Samuel ! Dimana Tungga ?", ucap Anita dingin.


"Nona Tribuana Tungga Dewi ?", sahut pria kekar.


"Iya ! Siapa lagi !", jawab Anita.


"Bagaimana kita akan mengatakannya sebaiknya kita laporkan kepada bos saja !?", bisik pria berambut ikal.


"Apa yang kalian sembunyikan ? Dimana Tungga ?", teriak Anita.


"Sabar Anita !", sahut pria kurus.


Pria kurus lalu menoleh ke arah pria kekar dan menatapnya tajam.


"Katakanlah, Samuel !", perintah pria kurus.


"Hufh !!!", desah pria kekar malas.


"Ada apa ?", tanya Anita mulai panik.


Pria kekar menundukkan kepalanya dan berulangkali menarik nafas panjangnya.


"Bos besar mengirim nona Tribuana", sahut pria kekar.


"Mengirimnya ?", tanya Anita kaget.


Anita lalu menoleh ke arah samping kanan dan kiri secara bergantian mencoba menangkap situasi yang sedang terjadi saat ini.


"Apa maksudnya ? Mengirim Tungga kemana ? Katakan dengan jelas !", bentak Anita.


Semua orang saling berpandangan dengan wajah cemas tanpa mampu menyembunyikannya dari Anita.


Tiba-tiba terdengar suara menjawab pertanyaan Anita.


"Ke dermaga", sahut seseorang dari dalam rumah besar.


Anita berdiri tertegun ketika dia melihat siapa yang keluar dari dalam rumah besar dan berjalan santai ke arah luar rumah.


"Apa kabarmu, Anita ?", sapa pria berkepala plontos sambil tersenyum.

__ADS_1


Anita semakin terkesiap saat melihat pria dihadapannya.


"Ayah...", sahut Anita dengan ekspresi wajah dinginnya.


__ADS_2