CINTA Yang Tak DIRESTUI

CINTA Yang Tak DIRESTUI
47 Penyesalan


__ADS_3

Pagi ini Aditya bangun dengan kepala berdenyut, dia terkejut saat dirinya tidak memakai apapun Dan lebih terkejut lagi saat melihat Vina tidur disampingnya dengan kondisi yang sama dengannya.


"Apa yang terjadi padaku?" ucap Aditya berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.


Deg, Aditya mengingat dengan jelas apa yang dia lakukan bersama Vina.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Apa yang sudah aku lakukan?!" teriak Aditya frustasi.


Dan karena suara teriakan Aditya tidur Vina jadi terganggu. Dengan kepala yang terasa berat Vina berusaha membuka matanya. Vina bingung dengan apa yang terjadi padanya.


"Aku dimana? Kenapa kepalaku pusing sekali," ucap Vina memegangi kepalanya.


Lalu Aditya menoleh pada Vina dan terkejut melihat penampilan Vina.


"Vina, tutup tubuhmu itu!" ucap Aditya sambil memalingkan wajahnya.


"Hah...Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan padaku Aditya?!" teriak Vina.


"Diamlah aku juga tidak tahu. Kepalaku juga pusing."


"Apa semalam kita melakukan-? Oh tidak, ini tidak mungkin. Apa yang harus aku lakukan Adi?" ucap Vina terisak dalam gulungan selimut.


"Sudahlah, nanti kita pikirkan lagi. Sekarang mandilah dulu, aku akan mandi di kamar mandi luar," ucap Aditya yang juga bingung harus melakukan apa.


Lalu Vina pergi ke kamar mandi dengan gulungan selimut. Aditya terkejut saat melihat ada bercak darah yang mengering di seprei.


"Astaga, apa yang sudah terjadi? Mama, pasti ini ulah Mama," ucap Aditya.


Lalu Aditya bergegas memakai celana pendek miliknya, dan Aditya pergi keluar mencari keberadaan mamanya.


"Ma! Mama! Dimana mama, apa mama pergi setelah membuat kekacauan?" gerutu Aditya berkeliling di dalam rumahnya.


Tapi mamanya tidak ditemukan dimana pun. Aditya semakin emosi mengingat kejadian yang harusnya tidak pernah terjadi.


Lalu Aditya memutuskan untuk mandi, karena sebentar lagi dia harus pergi ke kantor.


Sedangkan Vina menangis meratapi nasibnya saat ini. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Aditya sudah merenggut segalanya, tapi Aditya tidak pernah mencintainya.


"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa semua ini harus terjadi padaku?" lirih Vina di bawah guyuran shower.


Saat Aditya kembali ke kamarnya ternyata Vina belum juga keluar dari kamar mandi. Hingga Aditya selesai bersiap akan berangkat ke kantor Vina tak kunjung keluar dari kamar mandi.


Aditya jadi cemas dengan Vina, dia takut kalau Vina pingsan atau berbuat sesuatu yang tidak-tidak.


Tok...Tok...tok...


"Vina! Vin! Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Aditya didepan pintu kamar mandi.


Hening...


"Vina! Vina! Apa kamu mendengarkan ku?" teriak Aditya panik.


Lalu tak lama Vina keluar dengan wajah yang sembab dan berbalut handuk karena tidak sempat membawa baju ganti.

__ADS_1


"Keluarlah sebentar, aku ingin ganti baju," ucap Vina.


"Oh, iya baiklah. Aku tunggu di meja makan, aku sudah pesan makanan tadi," ucap Aditya lalu keluar meninggalkan Vina.


Vina bergegas memakai pakaiannya dan bersiap akan ke kantor. Setelah selesai Vina menyusul Aditya di ruang makan.


"Maaf, aku tidak sempat membuat sarapan tadi," ucap Vina setelah dia duduk di depan Aditya.


"Iya, tidak apa-apa. Ayo makanlah aku sudah memesan makanan kesukaanmu," ucap Aditya.


"Terimakasih."


Vina tetap makan sarapannya walaupun sebenarnya tidak lapar. Pikirannya masih kacau karena kejadian yang tidak diinginkannya.


Aditya juga makan dalam diam karena masih canggung untuk membahas kejadian semalam.


"Oh iya, dimana mama?" tanya Vina yang baru ingat kalau mamanya semalam menginap dirumahnya.


"Mama sudah kabur setelah membuat kekacauan ini," ucap Aditya menahan emosi bila mengingat mamanya.


"Apa maksudmu ini semua perbuatan mama?" tanya Vina terkejut.


"Tentu saja, siapa lagi. Sebelumnya kita baik-baik saja kan sebelum kedatangan mama," ucap Aditya.


Vina menghela nafasnya karena tidak menyangka kalau mama mertuanya akan melakukan hal ini.


"Aku minta maaf karena kejadian semalam, aku tidak mampu mengendalikan diriku," ucap Aditya.


"Biar aku antar," ucap Aditya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri," ucap Vina lalu pergi meninggalkan Aditya yang terdiam menatap kepergian Vina.


***


Pagi ini Nabila baru sadarkan diri setelah semalam dia pingsan.


"Aku dimana?" ucap Nabila sambil memegang kepalanya yang teras berat.


"Nabila, kamu sudah sadar?" tanya Lina dan Doris.


"Aku kenapa?" tanya Nabila bingung.


"Kamu pingsan sejak semalam, apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Lina.


"Kepalaku pusing."


Tak lama Nuri datang bersama Doni.


"Nabila, kamu sudah sadar?" tanya Nuri.


"Iya, kamu disini juga?" tanya Nuri.


"Iya. Doris, Lina kembalilah ke kafe, biar Nabila aku yang jaga."

__ADS_1


"Baiklah, kita pamit dulu ya."


Setelah kepergian Doris dan Lina, Nuri duduk di samping ranjang Nabila. sedangkan Doni memilih duduk di sofa.


"Nabila, apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Nuri.


"Sedikit pusing, Nuri. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak mengingat apapun?" ucap Nabila.


"Tidak ada apa-apa, mungkin kamu hanya kecapekan," ucap Nuri yang bingung harus bicara apa.


Sekilas Nabila mengingat pertengkaran nya dengan Aldi, lalu perlahan-lahan ingatannya mulai kembali. Lalu dengan panik Nabila segera turun dari ranjang, dan membuat Nuri dan Doni terkejut.


"Nabila, kamu mau kemana?" tanya Nuri ikut panik.


"Mas Aldi, dimana dia? Bagaimana keadaanya? Dia kecelakaan karena aku, ini semua salahku!" teriak Nabila histeris.


"Nabila, tenang dulu. Yang, tolong panggil dokter," teriak Nuri sambil memegangi Nabila.


Lalu Doni berlari keluar dan tak lama dia kembali bersama dokter dan perawat.


Karena Nabila yang histeris dan tak terkendali, perawat menyuntikkan obat penenang dengan susah payah.


Lalu Nabila mulai tenang dan tertidur.


"Saat ini pasien sepertinya sangat tertekan, kita harus bersama-sama membuat pasien tenang agar dia pasien tidak mengalami depresi," ucap dokter yang menangani Nabila.


"Iya Dok, terimakasih," ucap Nuri.


Lalu dokter dan perawat meninggalkan ruangan, tinggallah Nuri dan Doni yang menemani Nabila yang sedang tertidur.


"Bagaiman ini, Yang? Kak Aldi sedang koma, tapi Nabila malah seperti ini," ucap Nuri


"Sabar saja, Yang, kita akan melewati ini bersama-sama, aku akan membantu Nabila bila kamu izinkan," ucap Doni.


"Tentu saja, Nabila harus sembuh lebih dulu. Siapa tau Nabila akan bisa membantu membuat kak Aldi sadar."


"Baiklah, aku akan berusaha untuk membuat Nabila tenang dan bisa mengendalikan dirinya," ucap Doni yang berprofesi sebagai psikolog.


Sedangkan Meta sedang berada di depan ICU dimana Aldi sedang terbaring tak sadarkan diri.


Setelah Nabila sadar, Doni mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Nabila. Tentu saja ada Nuri yang mendampingi Nabila. Setelah Nabila lebih tenang, Doni mulai menanyakan hal yang lebih serius.


"Nabila, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Doni memulai percakapan dengan Nabila.


"Aku merasa bersalah pada mas Aldi, semua ini terjadi karena aku," ucap Nabila menangis.


"Kamu tenanglah, ceritakan pelan-pelan agar kamu bisa lebih lega."


Lalu Nabila menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, dari tentang masa lalunya dengan Aditya hingga ketakutannya akan merasakan rasa sakit yang sama bila dia menjalin hubungan dengan Aldi.


"Nabila, percayalah Aldi sangat mencintaimu, dan kami tidak seperti mereka yang sudah menyakitimu. Jadi aku mohon ikuti kata hatimu, lawan rasa takutmu itu," ucap Doni berusaha meyakinkan Nabila.


"Maafkan aku, maafkan aku!"

__ADS_1


__ADS_2