CINTA Yang Tak DIRESTUI

CINTA Yang Tak DIRESTUI
Ba b 5


__ADS_3

Pria berkepala gundul itu menyandarkan badannya seraya menatap Tribuana Tungga Dewi.


Mengibaskan tangannya yang tengah memegang cerutu.


"Jika kamu berhasil menyelesaikan misi ini maka ayah tidak akan mengganggumu dan tidak akan memaksakan perjodohan kamu dengan Daniel", ucap ayah.


Tribuana Tungga Dewi hanya membalas dengan menatap ayahnya dengan ekspresi dingin.


Diam dan berhati-hati dengan jawaban yang akan dia ucapkan.


"Bagaimana ? Kau setuju ? Kesepakatan bukankah cara yang paling kau sukai ?", tanya ayah.


Ayah mengisap kembali cerutu ditangannya sambil menyilangkan kedua kakinya ke atas.


"Apa yang harus aku lakukan ?", sahut Tribuana Tungga Dewi.


Perempuan berparas ayu itu memajukan badannya ketika dia duduk.


"Mengirim opium...", sahut ayah santai.


Tribuana Tungga Dewi mengangkat kedua alisnya.


"Opium !?", tanyanya.


"Iya, akan ada pengiriman dari dermaga ke pusat Kota Batavia yang dipesan oleh petinggi ketika mereka menikmati opium di club malam", sahut ayah.


"Berapa harganya ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.


"26 juta gulden", sahut ayah.


"Wow, harga yang menarik dan mampu menyumbang satu juta gulden pajak ke kas negara", ucap Tribuana Tungga Dewi.


"Ini hanya simbol ketinggian status para tuan besar", sahut ayah.

__ADS_1


"Dan sangat menguntungkan negara", ucap Tribuana Tungga Dewi.


"Itu urusan para aparat negara, kita hanya pebisnis tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pajak karena telah dihitung secara akumulatif dari pemasukannya kemari", ucap ayah.


"Apa kita tidak perlu menghitung biaya pajaknya ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.


"Amfioensocieteist telah mengurusnya", sahut ayah sambil mengisap cerutunya dalam-dalam.


"Ternyata korupsi juga ada di dalam pemerintahan Batavia", ucap Tribuana Tungga Dewi.


"Inilah bisnis opium bukan perdagangan makanan layaknya pasar", kata ayah


"Tapi penyelundupan opium memiliki jaringan yang sangat kuat saat ini", ucap Tribuana Tungga Dewi.


"Para petinggi menyukainya jadi kebebasan adalah mutlak sedangkan para pengedar juga menjualnya ke rakyat kecil", sahut ayah.


Pria gundul itu menghembuskan asap cerutunya.


"Berapa yang dijual ke rakyat kecil ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.


"Ya Tuhan... Mereka benar-benar gila ! Harga gaji mereka 25 sen perhari dan 10 sen untuk mabuk candu", kata Tribuana Tungga Dewi.


"Peredaran candu dibagi dalam wilayah-wilayah konsensi Pak Opium dan peredaran dilelang kepada kongsi-kongsi dagang yang sanggup memberi keuntungan tertinggi bagi pemerintah", ucap ayah.


Ayah lalu mengibaskan kembali tangannya.


"Ayah rasa itu hal wajar karena saat ini semua orang boleh memakai opium sesukanya tanpa takut dirazia polisi, asal ada uang bukan masalah", sahut ayah.


"Kapan aku harus mengambilnya ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.


"Malam ini di pelabuhan", sahut ayah.


"Apa kata sandinya ?", tanya perempuan berparas ayu itu.

__ADS_1


"Katakan saja elang tidak memanggil musuhnya", sahut ayah dengan cerutu dimulutnya.


"Lalu berapa persen yang aku dapatkan ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.


"50 persen", sahut ayah datar.


"Menarik..., sangat menarik dan aku suka misi ini", ucap Tribuana Tungga Dewi.


"Jika kamu berhasil mengantarkannya maka ayah akan memberikanmu sebuah rumah", ucap ayah lagi.


"Lalu apa yang akan ayah katakan pada Daniel ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.


"Entahlah..., mungkin baku hantam akan terjadi diantara gang mafia", sahut ayah.


"Tidak bisakah masalah ini diselesaikan secara baik-baik tanpa baku senjata ?", ucap Tribuana Tungga Dewi kesal.


"Ini dunia mafia tidak ada kata kesepakatan jika salah satu telah berkhianat atau menyalahi kesepakatan", sahut ayah.


Ayah memanggil anak buahnya.


"Sunny !", panggil ayah.


Seorang pria bertubuh tinggi dengan otot kuatnya berlari ke arah beranda rumah.


"Iya, bos, ada apa ?", tanya pria bernama Sunny.


"Ambilkan senjata api untuk nonamu ini !", ucap ayah.


"Baik, bos... Tapi... Senjata api terbaik atau yang paling modern !?", tanya Sunny.


"Ambilkan saja yang sesuai untuk menembak kepala musuh !", sahut ayah.


Sunny hanya menganggukkan kepalanya cepat lalu pergi berlari ke arah belakang rumah.

__ADS_1


Ayah duduk terdiam dengan mengisap cerutunya sedangkan Tribuana Tungga Dewi menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi rotan.


__ADS_2