
Suasana rumah besar terlihat mencekam.
Anita menatap tajam Mahatir Wijaya dengan perasaan amarah.
Bibirnya menggertak rapat menahan emosi di hatinya.
"Kurung dia ! Dan pastikan tidak ada yang tahu sampai semua urusan di dermaga selesai !", ucap Mahatir Wijaya pada anak buahnya.
"Baik, bos", sahut pria kekar.
"Beritahukan kabar kepada Daniel jika Tribuwana ada di dermaga mengurus pengiriman barang", perintah Mahatir Wijaya.
"Baik, bos", jawab pria berkulit sawo patuh.
"Katakan bahwa pihak petinggi sedang menunggu datangnya opium ke tangan mereka akan ada penjualan tanpa Pak opium dari pihak kita", kata pria berkepala plontos.
"Iya, bos", sahut pria kekar.
"Jangan sampai Tribuwana tahu akan masalah Anita di rumah karena aku tidak ingin bertengkar dengannya", ucap Mahatir Wijaya.
"Siap, bos", jawab pria kekar.
"Bawa beberapa anak buah ke dermaga dan pastikan rencana B kita berhasil", kata Mahatir Wijaya.
"Iya, bos", ucap pria itu lagi.
Anita yang mendengar ucapan Mahatir Wijaya tersentak kaget. Dan dia mulai berontak.
"Rencana apa yang ayah rencanakan untuk Tribuwana ?", ucap Anita.
Pria tambun berkepala plontos langsung mengalihkan pandangannya kepada Anita.
Menatap Anita dengan ekspresi wajah serius.
"Aku hanya merencanakan siasat kecil agar Tribuwana dan Marco menjadi erat satu sama lainnya", kata ayah.
"Erat !? Maksud ayah ?", sahut Anita.
"Tidak ada, hanya sedikit trik kecil supaya keduanya saling dekat satu sama lainnya", kata ayah.
"Apa yang ayah rencanakan sebenarnya ?", tanya Anita.
Anita memandangi keadaan sekitarnya dengan hati was-was.
Ada pikiran buruk yang menghinggapi pikiran Anita saat ini.
Dia tidak ingin membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi di dermaga, dimana Tribuwana kini berada.
"Ayah, tidak merencanakan hal jahat pada Tungga, bukan ?", tanya Anita.
"Hal jahat !? Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu ? Aku ini ayahnya dan tidak mungkin aku merencanakan kejahatan pada Tribuwana, anakku, Anita !?", sahut Mahatir Wijaya.
"Jangan bohong, ayah ! Katakan rencana B apa yang ayah kini rencanakan ?", ucap Anita.
"Tidak ada", sahut ayah.
__ADS_1
"Ayah ! Jangan katakan bahwa ayah kini sedang menyusun pertempuran yang ayah rekayasa", kata Anita.
Anita tidak mampu menyembunyikan emosinya dan mulai memberontak.
Dia berusaha melepaskan pegangan tangan anak buah Mahatir Wijaya yang mencengkeram lengannya erat-erat.
"Lepaskan aku !", teriak Anita.
Anita menerjang kedua anak buah Mahatir Wijaya dan mengarahkan pukulan kepada mereka.
Dia mengadakan perlawanan sengit dan berusaha menggapai karabin miliknya yang terjatuh saat kedua anak buah Mahatir Wijaya menangkapnya.
Namun, kekuatan Anita kalah dari anak buah pria berkepala plontos itu sehingga memaksa Anita untuk tunduk.
"Tenang Anita ! Tenang ! Tidak akan terjadi sesuatu pada Tribuwana karena ada Daniel yang menjaganya, nak !", kata ayah.
Mahatir Wijaya mendongakkan kepalanya sambil menatap dingin Anita.
"Lepaskan aku ! Biarkan aku menyusul Tungga ke dermaga !", sahut Anita menggeram keras.
"Kau ingin mencegah Tribuwana dan Marco bersama, bukan !?", ucap ayah.
"Tidak ! Aku ingin menyelamatkan Tungga dari rencana busuk ayah !", jawab Anita.
Deru nafas Anita tampak naik-turun karena melakukan perlawanan dan menyebabkan dia harus kehabisan tenaga.
"Anita... Anita... Apa kau kira aku tidak mengetahui rencanamu yang berusaha melarang Tribuwana menikahi Daniel Marco ?", kata ayah.
"Bukan itu rencanaku, ayah !", jawab Anita kasar.
Anita berusaha memberontak lagi tetapi dia mencoba mencari kesempatan agar dia dapat lari dari rumah besar.
"Aku hanya ingin membuat mu sadar bahwa kekuasaan bukanlah akhir dari segalanya, ayah", kata Anita.
Mahatir Wijaya terdiam.
"Kami bukan mesin mu yang akan selalu siap tersedia sepanjang waktu dan selalu bertahan untuk mu karena kami manusia, ayah", kata Anita.
Mahatir Wijaya bergeming.
"Apa yang kamu inginkan ?", tanya Mahatir Wijaya.
"Biarkan Tungga memilih kebahagiannya sendiri tanpa ayah mencampurinya dan tolong lepaskan dia, ayah !", sahut Anita.
Anita berusaha memohon belas kasih Mahatir Wijaya untuk melepaskan Tungga sebagai penerus organisasi yang membuat gadis malang itu sengsara.
Hingga saat ini membuat Tribuwana Tungga Dewi terombang-ambing dalam kekacauan.
Dia terjebak pada dunia yang menyesatkan serta menahannya sehingga Tribuwana tidak menikah.
"Aku mohon, ayah...", pinta Anita memelas.
Mahatir Wijaya menghela nafasnya dan terduduk.
Pria berkepala plontos itu hanya menundukkan kepalanya sambil memikirkan ucapan Anita.
__ADS_1
"Ayahlah yang membuat Tungga hingga detik ini tidak menikah !", kata Anita.
Mahatir Wijaya tersentak kaget.
"Apa yang aku ucapkan itu, Anita ?", sahut ayah.
"Kaulah yang sebenarnya membuat Tungga tidak memiliki pasangan hidup !", ucap Anita.
"Jaga bicara mu, Anita !", jawab salah satu anak buah Mahatir Wijaya.
"Diam...", kata ayah kepada anak buahnya.
Tangan Mahatir Wijaya terangkat memberi tanda kepada pria kurus bermata sipit.
"Bawa dia ke dalam rumah dan pastikan dia tidak kabur dari sini !", perintah ayah.
"Baik, bos", sahut pria kurus itu.
Pria kurus itu memberi isyarat kepada kedua anak buah Mahatir Wijaya untuk membawa masuk Anita ke dalam dan menyekapnya di salah satu kamar yang ada di rumah besar.
Kedua pria berotot itu lantas memaksa Anita untuk mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.
Namun, sekali lagi, Anita berontak dan melakukan perlawanan.
Anita menendang salah satu kaki anak buah Mahatir Wijaya sehingga pria berotot itu kesakitan.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Anita untuk melepaskan dirinya dari cengkraman kedua pria itu.
Saat dia berhasil membuat salah satu anak buah Mahatir Wijaya mengaduh kesakitan, Anita meraih tangan pria berotot lainnya dengan sigap lalu membantingnya ke lantai.
BUK...
Pria berotot terjungkal hingga dia terkapar di atas lantai sambil menahan sakit.
Anita lalu berlari melompati teras rumah besar seraya mengambil karabin miliknya yang terjatuh di tanah.
"Kejar dia ! Jangan sampai lolos !", teriak pria kurus kepada rekan lainnya yang berdiri di halaman.
Beberapa pria berpakaian kemeja putih tampak sigap dengan perkataan pria kurus itu dan langsung berlari mengejar Anita yang berlari cukup jauh dari halaman rumah besar Mahatir Wijaya.
"Kejar dia !", teriak beberapa anak buah Mahatir Wijaya.
Anita terus berlari cepat menuju luar halaman rumah besar.
Dia menfokuskan pandangannya ke depan untuk memastikan keadaan di depannya, melihat mobil milik Pim yang terparkir lumayan jauh darinya.
Anita melambaikan tangannya sambil berlari kencang ke arah mobil hitam sedangkan anak buah Mahatir Wijaya masih terus mengejar Anita di belakangnya.
Terdengar teriakan orang-orang Mahatir Wijaya kepada Anita.
"Berhenti, Anita !!!", teriak mereka.
"Jangan bodoh, Anita !!!, teriak mereka lagi.
Anita tidak memperdulikannya dan tetap berlari cepat menuju mobil milik Pim.
__ADS_1
Pim yang melihat dari dalam mobil terkejut saat dia melihat Anita berlari cepat ke arah mobil.
Dia melihat sekelompok pria tengah mengejar Anita.