CINTA Yang Tak DIRESTUI

CINTA Yang Tak DIRESTUI
28 Kedatangan Oma


__ADS_3

Saat jam pulang kantor, Aldi merasa malas untuk pulang. Karena pasti Nuri akan membicarakan hal yang sama.


Nuri masih saja mendesak agar Aldi mendekati Nabila, tapi sayangnya Aldi belum mempunyai kesempatan itu.


Saat hatinya sudah bertekad untuk menemui Nabila, tapi Nabila sedang sibuk.


Tak lama ponselnya berdering, terlihat Rio sang asisten yang menghubunginya.


"Lagi di mana, Bro?" tanya Rio yang memang sahabat Aldi. Mereka hanya profesional saat ada orang lain di sekitar mereka.


"Masi di ruangan."


"Kamu nggak pulang?"


"Nggak. Males kalau harus ketemu si burung beo."


"Woi, itu adik mu sendiri loh. Kalau dia tau kamu menyebutnya burung beo, pasti dia akan terus berkicau di telingamu," ucap Rio yang sudah tau apa maksud Aldi.


"Kamu juga jangan ikut-ikutan berkicau, tampah pusing kepala ku," gerutu Aldi.


"Ya udah deh aku kesitu," lalu Rio menutup teleponnya dan menuju ruangan Aldi.


"Emang kenapa kamu nggak turutin aja sih permintaan adik mu itu?" tanya Rio saat baru sampai di ruangan Aldi.


"Ck, belum ada kesempatan."


"Kalau nunggu kesempatan nggak akan datang Al, kamu yang harus mencari kesempatan itu."


"Aku sudah mencari kesempatan, tapi saat aku datang dia selalu sibuk."


"Jam berapa kamu datang?"


"Jam makan siang."


"Astaga, yang namanya kafe kalau jam makan siang ya pasti ramai, dan tentu saja dia pasti sibuk," ucap Rio.


"Lalu, aku harus bagaimana?"


"Ya cari waktu saat dia nggak sibuk lah."


"Caranya?"


"Kamu kan bisa tanya sama Meta kapan dia tidak sibuk," ucap Rio yang sangat geram dengan sahabatnya itu.


"Nanti lah aku tanya dia."


"Ck, sebenarnya perasaan kamu sama Nabila gimana sih?"


"Aku juga nggak tau, tapi-"


"Tapi apa?"


"Entahlah, aku seperti pernah melihatnya, dan aku juga merasa sudah lama mengenalnya."


"Kok bisa, apa mungkin sebelum keluar negeri kamu sempat bertemu dengannya?"


"Kata Nuri dia baru 5 bulan ada di kota ini."


"Lalu, kapan kamu bertemu dengannya?"


"Aku juga tidak tau."


"Aku jadi penasaran, gimana kalau kita ke kafe itu sekarang?" usul Rio.


"Mau ngapain?"


"Ya ketemu Nabila lah, kalau kamu nggak mau biar aku yang mendekatinya," ucap Rio yang langsung dapat lemparan pena dari Aldi.


"Enak saja, kamu jangan macam-macam," geram Aldi.


"Makanya dekati sekarang, kalau bukan aku mungkin masih banyak yang menginginkan Nabila," ucap Rio.


"Ya sudah ayo berangkat."

__ADS_1


"Kemana?" tanya Rio.


"Ck, mau ikut apa nggak?"


"Iya iya, sensi banget sih, tadi aja nggak mau," gerutu Rio.


Sedangkan Aldi terus berjalan tanpa menghiraukan sahabatnya itu.


Saat sampai di kafe, ternyata kafe lumayan sepi, hanya ada beberapa pengunjung.


Saat baru duduk, Doris langsung menghampiri mereka.


"Selamat sore Mas ganteng, mau pesan apa?" tanya Doris dengan genitnya.


Lalu Aldi dan Rio menyebutkan apa yang mereka mau.


"Maaf, apa Nabila ada?" tanya Rio.


"Kenapa nanyain Nabila? Dengan saya sama saja kok Mas, saya akan melayani Mas dengan seeeepenuh hati."


"Tolong panggilkan Nabila, saya ada perlu," tegas Aldi.


"Ih, Mas jutek ngapain sih cari Nabila?"


"ADA PERLU, tolong ya."


"Iya iya," lalu dengan kesal Doris menghentakkan kakinya.


"Kok ada manusia aneh sih di sini?" tanya Rio.


"Dia itu kesayangannya Meta, jadi jangan macam-macam sama dia," ucap Aldi


"Ih, serem ya."


Sedangkan di tempat lain teman-teman Doris heran saat Doris datang dengan wajah cemberut.


"Kamu kenapa princess? Kok cemberut," tanya Lina.


"Siapa?" tanya Nabila.


"Siapa lagi kalau bukan mas Aldi, musuh bebuyutannya Doris," jawab Ani.


"Pantesan cemberut," ucap Lina.


"Kenapa mas Aldi nyariin aku?" heran Nabila.


"Nggak tau, kamu temuin aja gih biar tau apa maksudnya," ucap Lina.


"Nih, bawa juga pesanan mereka. Ih, sebel deh ganteng-ganteng pada jutek," gerutu Doris.


Lalu Nabila mengantarkan pesanan Aldi.


"Ini Mas pesanannya, Em katanya Mas Aldi nyari saya, ada apa ya?" tanya Nabila.


"Silahkan duduk dulu."


Lalu Nabila duduk di depan Aldi, sedangkan Aldi tidak tau harus bicara apa.


"Bro, kalau kamu nggak mau biar sama aku saja," bisik Rio dan Aldi langsung menginjak kaki Rio.


"Aww," pekik Rio.


"Mas kenapa?" tanya Nabila kaget.


"Oh, nggak apa-apa. Kenalin nama saya Rio," ucap Rio sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Nabila," balas Nabila.


"Al, jadi ngomong nggak?"


"Maaf, sebenarnya ada apa ya?" tanya Nabila.


"Sebenarnya saya ingin mengenal kamu lebih dekat, karena kata Nuri kamu gadis yang baik," ucap Aldi spontan.

__ADS_1


"Maksudnya apa ya?"


"Maksudnya Aldi ini sedang mencari jodoh, dan dia mau kamu yang jadi jodohnya nanti," ucap Rio.


Nabila sedikit emosi mendengar apa yang mereka katakan, Nabila yakin kalau mereka hanya sedang bertaruh untuk mendapatkannya.


"Maaf kalian salah orang, lebih baik cari orang lain untuk jadi permainan kalian," ucap Nabila lalu Nabila segera meninggalkan mereka.


"Kamu sih, kenapa langsung ngomongin jodoh, kan dia jadi salah paham," ucap Aldi.


"Habisnya kamu kelamaan. Kalau aku langsung aku tembak saja tadi," ucap Rio membela diri.


"Nabila tidak sama seperti cewek yang sering kamu dekati selama ini."


"Memang dia seperti apa?" tanya Rio.


"Yang jelas dia berbeda, kalau mau mendapatkannya harus pelan-pelan. Ambil dulu hatinya, jangan buru-buru."


"Mati dong kalau di ambil hatinya," ucap Rio sambil tertawa ngakak.


"Terserah lah."


Lalu Aldi mendapat telepon dari Nuri, dengan berat hati Aldi menjawab telpon dari adiknya itu. Karena kalau tidak di angkat pasti Nuri akan terus menghubunginya.


"Iya ada apa?"


"Kak cepat pulang, ada Oma di rumah," ucap Nuri


"Apa? Kenapa Oma tidak kasih kabar kalau mau datang?"


"Aku juga nggak tau, sekarang Oma sedang menunggu Kak Aldi."


"Baiklah aku akan pulang," lalu Aldi memutus sambungan teleponnya.


"Kenapa?" tanya Rio.


"Aku harus pulang, ada Ima di rumah."


"Apa aku boleh ikut? Aku juga kangen sama Oma."


"Ya sudah ayo."


Aldi segera pulang setelah membayar pesanannya.


Saat sampai rumah, Aldi langsung di sambut oleh Oma nya.


"Aldi, kenapa kamu tidak mengunjungi Oma? Kenapa harus Oma yang datang mengunjungi kalian?" tanya Oma sambil memeluk Aldi.


"Maaf Oma, begitu sampai di sini Aldi langsung disibukkan dengan urusan kantor," jawab Aldi.


"Kamu selalu saja sibuk, kapan kamu punya waktu untuk mencari pendamping hidup kalau seperti ini?"


"Calonnya sudah ada Oma, tapi Aldi yang lambat untuk mendapatkannya," ucap Rio.


"Ah Rio, kamu apa kabar?" ucap Oma yang baru menyadari kedatangan Rio.


"Aku baik Oma, bagaimana dengan Oma?" Oma juga baik, tapi sayangnya Oma belum mendapatkan cicit. Bagaimana dengan orang tua mu?"


"Mereka juga baik Oma."


"Tadi apa maksud kamu kalau calonnya sudah ada? Apa Aldi sedang dekat dengan seseorang?" tanya Oma.


"Jangan dengarkan Rio Oma, dia hanya asal bicara," ucap Aldi.


"Aldi, seharusnya kamu sudah memberikan cicit untuk Oma. Oma sudah semakin tua, Oma hanya ingin melihat kalian menikah dan mempunyai anak."


"Iya Oma, doakan Kak Aldi cepat dapat jodoh ya Oma. Biar aku juga bisa segera menikah," ucap Nuri.


"Kalau mau menikah ya menikah saja, jangan bawa-bawa aku," ucap Aldi.


Lalu mereka berdebat seperti anak kecil yang sedang berebut mainan. Mereka selalu seperti itu saat di rumah. Berbeda saat mereka ada di kantor yang terlihat berbeda.


Oma hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan cucu-cucunya, mereka sudah besar tapi kelakuannya seperti anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2