
Anita tidak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya yang besar terhadap Mahatir Wijaya, sosok orangtua yang telah mengangkatnya menjadi anaknya, muncul dihadapannya hanya dengan membawa cerutu di tangannya.
Pria berkepala gundul itu berdiri menatap Anita dengan ekspresi datar.
"Ada apa, Anita ? Kenapa kamu mencari Tribuana Tungga Dewi ?", tanya Ayah.
Anita mendadak berubah gugup tatkala pria bernama Mahatir Wijaya berbicara padanya dengan nada serius.
"A--ayah...", sahut Anita.
Anita menyampingkan karabin di tangannya lalu berdiri seraya menundukkan pandangannya.
"A--aku hanya mencemaskan Tungga karena sejak tadi pagi hingga sore hari dia belum kembali ke rumah", lanjut Anita.
"Hmmm...", gumam ayah.
Ayah masih berdiri dengan salah satu tangan berada di belakang badannya sedangkan tangan yang lain yang tengah memegang cerutu, dia gerakkan ke arah mulutnya.
Pria berkepala plontos itu mengisap dalam-dalam cerutu di tangannya.
Menikmati aroma cerutu dengan tatapan beralih ke atas.
"Aku mengirimnya ke dermaga", ucap ayah.
Anita tersentak kaget lalu dia tanpa sadar menatap ke arah ayah dengan ekspresi serius.
Rasa curiga mulai menghinggapi pikiran Anita.
"Dermaga !? Untuk apa ayah mengirim Tungga kesana ?", tanya Anita.
"Kami berdua sedang menjalani sebuah kesepakatan serius", sahut ayah.
"Kesepakatan apa ayah ?", tanya Anita lagi.
"Apa kamu ingin tahu ?", sahut ayah bertanya.
"Memang bukan hakku untuk tahu hubungan diantara kalian yang tengah kalian sepakati tetapi aku berhak tahu akan keadaan Tungga karena aku dan dia seperti saudara", jawab Anita.
"Kenapa ?", tanya ayah.
Pria berkepala gundul itu hanya melirik sebentar ke arah Anita.
Dia lantas kembali mengisap cerutu miliknya dengan nikmatnya.
"Aku hanya menjalankan sebuah kewajiban saja dan tidak menampik keuntungan lainnya dari hubungan kami sebagai kakak-adik, ayah", sahut Anita.
"Tapi kalian tidak terikat hubungan darah, Anita", jawab ayah yang acuh.
"Haruskah ikatan hubungan darah menjadi sebuah alasan kami menjadi saudara yang baik, ayah !? Sedangkan kalian berdua yang terikat hubungan darah tidak memiliki hubungan yang sehat sebagai ayah dan anak", sahut Anita.
"Anita !", bentak pria kekar marah saat mendengar ucapan Anita.
__ADS_1
Anita terdiam tanpa mengacuhkan pria kekar disampingnya.
"Jaga cara bicaramu dengan bos besar meski kamu adalah anak angkatnya tetap dia atasanmu, Anita !", ucap pria kekar.
Pria kekar mengingatkan Anita dengan rasa cemas.
Anita masih terdiam ditempatnya.
"Hmmm...", gumam ayah.
Ayah menarik cerutu dari mulutnya lalu menghembuskan asap cerutu dari mulutnya sehingga membentuk kumpulan asap seperti awan.
"Aku tahu kamu yang merawat Tribuana sejak kecil hingga dewasa semenjak ibunya pergi darinya", kata ayah.
"Dia tidak pergi dari Tungga jika ayah lebih memperhatikan dia karena sikap ayahlah yang menyebabkan Tungga kehilangan sosok ibu kandung untuknya", sahut Anita.
"Tapi bukankah dia tahu bahwa inilah kehidupan para mafia dan tidak ada alasan yang tidak seharusnya dia lakukan untuk menentangku", ucap ayah.
"Wanita itu juga bukan urusanku", lanjut Anita.
"Oh iya !?", jawab ayah sambil terkekeh.
Mahatir Wijaya masih berdiri dengan sikap dinginnya dan terlihat jelas sosok pribadi seorang pimpinan mafia besar yang tangguh.
"Dermaga mana ayah mengirim Tungga ?", tanya Anita.
"Haruskah aku memberitahukan padamu, Anita ?", jawab ayah tanpa melihat Anita.
"Bukan tugasnya !?", kata Wijaya.
"Iya...", sahut Anita.
Wijaya kembali tertawa pelan sambil mengibaskan cerutu yang ada di genggaman tangannya.
"Dia anakku... Dan sebagai anak dari seorang pimpinan mafia besar dia pantas mengerjakan pekerjaan seperti mafia yang seharusnya dia lakukan sejak dulu, Anita...", sahut Wijaya.
Mahatir Wijaya menatap tajam Anita seraya tersenyum mengejek.
"Aku tidak berniat mengalihkan kursi pimpinan tertinggi organisasi padamu dikarenakan aku mengangkatmu sebagai puteriku, Anita", ucap Wijaya.
"Aku tidak berniat dengan jabatan pimpinan milikmu, ayah", jawab Anita.
"Benarkah ?", ucap Wijaya.
Terdengar gelak tawa pria berkepala plontos saat dia mendengar ucapan Anita.
"Lalu untuk apa kamu mencarinya ?", tanya ayah.
Pria bernama Mahatir Wijaya mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi seolah mencari tahu sebuah fakta yang menguatkan argumennya terhadap keinginan Anita dalam organisasi mafia.
"Karena dia tanggungjawabku", sahut Anita.
__ADS_1
"Tanggungjawabmu ? Dia bukan puterimu dan dia juga bukan siapa-siapamu, Anita", jawab Wijaya.
"Lepas dari itu semua Tungga tetaplah tanggungjawabku bukan hanya tanggungjawabku pada diriku sendiri ataupun pada Tungga ataupun denganmu, ayah", ucap Anita.
"Lantas ?", tanya ayah.
"Tapi ini berhubungan dengan tanggungjawabku kepada Tuhan yang harus aku pertahankan hingga ke tangan Tuhan ! Dan tidak akan pernah aku biarkan bendera itu jatuh ke tangan musuh", sahut Anita.
Mahatir Wijaya terhenyak kaget ketika mendengar jawaban dari puteri yang sudah dia angkat seperti anak kandungnya sendiri.
Pria berkepala gundul itu tidak pernah menyangka akan mendengar ucapan yang begitu dalam maknanya dari Anita.
Dia tahu bahwa selama ini Wijaya tidak terlalu memperdulikan nasib anak-anaknya karena kesibukannya sebagai pimpinan besar mafia yang menuntutnya harus bekerja 24 jam dalam hidupnya.
Wijaya sadar dia hanya menghujani anak-anaknya dengan kasih sayang berupa harta melimpah tanpa memikirkan perhatian dalam bentuk kasih sayang.
Saat dia mendengar Anita yang merupakan puteri angkatnya dia sedikit mulai terharu.
"Tuhan, ya... Tapi Tuhan tidak berbicara dalam konteks dunia mafia, nak karena Tuhan akan menghakimi kita sebagai mafia", sahut Wijaya tersenyum pahit.
"Jika ayah ingin kembali ke jalan Tuhan haruskah sebagai mafia kita melupakan Tuhan ?", sahut Anita.
"Entahlah..., karena aku tidak pernah berpikir sampai ke arah itu...", ucap ayah.
"Ayolah, ayah... Beritahukan padaku kemana ayah mengirim Tungga !", pinta Anita memelas.
"Aku sudah katakan jika aku mengirimnya ke dermaga", sahut Wijaya.
"Untuk apa ayah mengirimnya ke sana ?", tanya Anita menaruh curiga.
"Dan sudah aku katakan bahwa aku tidak perlu harus mengatakannya padamu, Anita", jawab ayah membalas pertanyaan Anita acuh tak acuh.
"Ayah... Aku mohon...", ucap Anita. "Tolong jangan libatkan Tungga, ayah !", sambungnya memohon iba.
"Kenapa ?", tanya ayah.
"Dia tidak berhak menerima ketidakadilan ini, ayah !", sahut Anita.
"Anita, hal yang perlu kamu ketahui dalam hidupmu adalah jangan ikut campur dalam urusan keluarga inti kami, dan kamu harus tahu itu, Anita", ucap ayah.
Anita terdiam tanpa menjawabnya meski dia ingin sekali melesakkan peluru yang ada di karabinnya ke arah pria berkepala gundul itu saat itu juga.
Namun, Anita menahannya karena dia sadar jika dia melakukannya maka Tribuana Tungga Dewi tidak akan pernah memaafkannya.
"Apakah kamu yang memberitahukan kepada Tribuana masalah tentang Daniel Marco ?", tanya ayah menatap tajam.
"Kenapa, ayah menanyakannya ?", balas Anita.
"Apa kamu yang menyuruh Tribuana kemari dan memaksanya menolak perjodohan Tribuana dengan Daniel ?", tanya ayah selidik.
Anita terdiam kembali dan mulai bersikap ekstra hati-hati dalam menyikapi ucapan Mahatir Wijaya.
__ADS_1