
"Ayah tidak mengerti denganmu, Tribuana", ucap ayah.
Pria gundul dengan hanya mengenakan kaos singletnya serta cerutu di mulutnya sedang menghitung lembaran uang yang dia keluarkan dari dalam saku celana pendeknya.
"Maksud ayah ?", sahut Tribuana Tungga Dewi.
"Apakah kamu harus menolak lagi ?", tanya ayah.
"Menolak !?", ucap Tribuana Tungga Dewi bingung. "Siapa ?"
"Apa kamu tidak menyukai laki-laki ?", tanya ayah.
Pria gundul itu menjilat jempol tangannya lalu menghitung lembaran uang yang lainnya yang dia keluarkan lagi dari dalam saku celananya.
Tribuana Tungga Dewi terdiam dan berjalan menuju ke beranda rumahnya.
"Adakah topik lainnya selain harus membicarakan pria ?", tanya Tribuana Tungga Dewi mengalihkan topik pembicaraan.
"Selain laki-laki lalu apalagi !? Apa mungkin ayah harus mengatakan perempuan ?", sahut ayah sambil melirik Tribuana Tungga Dewi yang duduk di depannya.
"Mana bisa seperti itu, Tribuana masih normal, ayah", ucap Tribuana Tungga Dewi meletakkan senapan apinya.
"Kau ini ! Seriuslah ! Kamu ini perempuan bukan laki-laki mana mungkin ayah menjodohkanmu dengan wanita !", sahut ayah.
"Jika wanita-wanita ayah sudah tidak terpakai lagi, kasihkan saja padaku akan aku didik mereka jadi anak buahku daripada ayah jual", lanjut Tribuana Tungga Dewi.
"Lebih baik kamu jual saja laki-laki daripada wanita-wanita milik ayah !", sahut ayah kesal.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku menjual laki-laki !? Bukankah stok pria lebih banyak di keanggotaan organisasi milik ayah sedangkan satu pria pun aku tidak punya", lanjut Tribuana Tungga Dewi datar.
"Haishhh... Kau ini ! Buat emosi saja !", sahut ayah.
"Jika ayah ijinkan aku menjual anak buah ayah maka aku dengan sangat senang hati melakukannya", ucap Tribuana Tungga Dewi.
"Kau akan menjual kemana ?", tanya ayah.
"Bukankah para menir menyukai pria maka aku akan menjualnya ke mereka", sahut Tribuana Tungga Dewi.
"Bagi hasil jika kamu mampu menjual mereka", ucap ayah segan.
"Tergantung kesepakatan yang kita buat", sahut Tribuana Tungga Dewi.
"Kenapa kamu menolak Daniel Marco ?"
"Dia sebaya denganmu dan usia kalian tidaklah jauh jaraknya, ayah rasa dia pria yang baik untukmu", ucap ayah.
Tribuana Tungga Dewi mulai menangkap arah pembicaraan ayahnya yang seolah-olah mengetahui hubungan percintaannya dengan Achmad Firdaus.
"Berapa wanita yang dia miliki ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.
"Yah..., setahu ayah, dia tidak pernah mengencani wanita tapi jika ayah perhatikan dia hanya gemar ke tempat Kunti", sahut ayah.
"Kunti penari malam di club !? Bukankah dia simpanan tuan baron Van Coenrad anak buah jendral Markus ?", ucap Tribuana Tungga Dewi terbelalak kaget.
"Bukan urusan ayah, hanya itu yang ayah tahu tapi setahu ayah dia tidak menjalin hubungan dengan Kunti", sahut ayah sambil mengisap cerutunya.
__ADS_1
"Tapi dia mendatangi kamar Kunti !? Apa tidak sama saja !?", lanjut Tribuana Tungga Dewi jengah.
"Tidak...", sahut ayah.
"Bagaimana ayah tahu jika dia tidak mendatangi kamar Kunti ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.
"Karena Daniel Marco adalah kakak kandung Kunti", sahut ayah kalem.
"Apa !? Kakak kandungnya ? Bagaimana bisa ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.
Ayah hanya mengangkat kedua bahunya ke atas seraya mengikat lembaran uang menjadi lima tumpukan uang.
"Ambil ini ! Untuk kebutuhan pribadimu dan jangan lupa beramal !", ucap ayah.
Pria gundul berbadan tambun itu menyerahkan setumpuk lembaran uang yang sudah dia ikat dengan karet kepada Tribuana Tungga Dewi.
"Untuk Tribuana ?", sahut perempuan berparas ayu itu kaget.
"Iya... Ambillah !", ucap ayah.
"Terimakasih tapi bukankah ayah masih punya batangan emas !? Kenapa tidak batangan emas saja yang ayah berikan ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.
Tribuana Tungga Dewi dengan cepat mengantongi uang pemberian ayahnya ke dalam saku bajunya.
"Nanti..., jika kamu berhasil menyelesaikan misi yang ayah berikan", sahut ayah.
Ayah menatap Tribuana Tungga Dewi dengan ekspresi serius.
__ADS_1