
Aditya merasa tertekan karena setiap hari mamanya selalu mendesak agar Aditya segera menikahi Vina.
Waktu dua bulan yang diberikan mamanya untuk mencari Nabila waktu itu nyatanya tidak berlaku lagi.
Mama Aditya tetap memaksanya untuk menikah dengan Vina, bahkan sampai memaksa akan bunuh diri. Sebenarnya Vina merasa tidak enak dengan Aditya karena hubungan Vina dan Aditya baru membaik beberapa bulan ini.
Sebenarnya Vina ingin menikah dengan Aditya karena cinta, bukan karena paksaan dari mamanya Aditya.
"Baiklah, aku akan menikah dengan Vina," ucap Aditya saat mamanya memegang pisau.
"Tapi Adi, kita bisa membicarakannya lagi. Tante Vina mohon jangan seperti ini."
"Apa sekarang kamu sudah tidak ingin menjadi menantu Tante?"
"Bukan begitu Tante, tapi kan kita bisa bicara baik-baik bukan seperti ini."
"Lihat Adi, gara-gara kamu terus mementingkan wanita itu Vina jadi tidak ingin menjadi menantu Mama. Lebih baik Mama ma*i dari pada melihat mu bersama wanita itu."
"Ma, Adi janji tidak akan mencari Nabila lagi, Adi akan menikah dengan Vina sesuai keinginan Mama."
"Kamu janji?"
"Iya Ma, Adi janji. Sekarang letakkan pisaunya ya."
Lalu Mama Aditya langsung memeluk Vina yang masih mematung setelah mendengar pria yang di cintai nya akan menikahinya.
Entah Vina harus bahagia atau sedih, karena Vina tau kalau Aditya masih sangat mencintai Nabila, dan Aditya menikahinya hanya karena terpaksa.
Mama Aditya memutuskan kalau Minggu depan Aditya dan Vina akan bertunangan, dan bulan depan mereka akan melangsungkan pernikahan.
Dengan semangat mama Aditya menyiapkan persiapan pertunangan putra pertamanya.
Kebahagiannya semakin lengkap karena adik anak bungsunya juga akan pulang untuk liburan.
Sebentar lagi keluarga Aditya akan berkumpul seperti dulu lagi. Tapi bedanya hubungan papa dan mama Aditya tidak akan bisa kembali seperti dulu.
Mereka kini memang tinggal satu atap, bahkan satu kamar. Tapi mereka tidak tidur seranjang. Walaupun papa Aditya sudah meminta maaf pada istrinya, tapi hati istrinya terlanjur sakit saat melihat penghianatan suaminya.
Papa Aditya terpaksa pulang ke rumah karena Mario sedang di rumah, apalagi sebentar lagi Aditya akan tunangan dan menikah dan juga Alya, putri bungsu keluarga Laksmana juga akan pulang saat libur kuliah.
***
Satu Minggu berlalu, kini tiba waktunya Aditya dan Vina tunangan. Karena acaranya sedikit dadakan mereka hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat saja.
"Adi, apa kamu yakin dengan keputusan ini?" tanya Vina untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi, semuanya sudah disiapkan seperti ini. Aku juga tidak ingin terjadi sesuatu pada mama."
"Tapi aku tidak ingin kamu melakukan ini karena terpaksa, aku punya perasaan Adi."
Vina menunduk sedih, dia memikirkan bagaimana nasib pernikahannya nanti bila Aditya tidak mencintainya.
"Aku mengerti perasaanmu Vina, beri aku waktu. Aku akan berusaha melupakan Nabila."
"Bukan cuma itu yang aku mau Adi, tapi aku mau kamu bisa mencintaiku suatu saat nanti," gumam Vina dalam hati.
"Kalian sudah siap? Ayo turun, sebentar lagi acara akan di mulai," ucap mama Aditya.
Acara malam ini berlangsung tanpa ada halangan, seluruh keluarga terlihat bahagia, tapi Aditya terlihat murung begitu juga dengan Vina. Dia menampilkan senyum terpaksa untuk menghargai mama Aditya yang sangat menyayanginya.
Mario yang melihat kakak dan calon kakak iparnya menjadi heran. Seharusnya mereka bahagia malam ini, tapi kenapa mereka terlihat sebaliknya.
Hingga acara selesai dan para tamu sudah pulang dan hanya menyisakan keluarga inti. Saat melihat kakaknya sedang sendiri Mario mendekati Aditya.
"Kakak, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apa maksudmu?" tanya Aditya bingung.
"Kenapa kakak terlihat tidak bahagia?"
"Aku bahagia, tapi kamu tau sendiri aku tidak bisa mengekspresikan kebahagiaan itu seperti apa."
"Sudahlah, aku capek aku istirahat dulu."
Lalu Aditya meninggalkan adiknya yang masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Aditya memilih kembali ke kamar dan merenungkan bagaimana hidupnya ke depan. Karena saat ini Aditya masih sangat mencintai Nabila dan berharap bisa bersatu lagi dengan Nabila.
Tapi sekarang statusnya sudah bertunangan, kalaupun dia bisa menemukan Nabila, apakah Nabila masih mau untuk bersamanya.
Tapi disisi lain Aditya juga kasihan pada Vina. Kalau dia terus seperti ini pasti Vina akan kecewa dan sakit hati.
Aditya sungguh bingung memikirkan semua itu.
***
Entah kenapa malam ini Nabila begitu gelisah. Padahal sebelumnya dia biasa saja, tapi saat menjelang malam Nabila terus teringat dengan Aditya.
Saat ini Nabila sedang merenung di dalam kamarnya. Dia teringat pesan Oma beberapa hari lalu.
"Nabila, bolehkah Oma meminta sesuatu padamu?"
__ADS_1
"Kalau aku bisa pasti akan aku lakukan Oma."
"Tolong bantu Aldi, selama ini dia tidak pernah dekat dengan siapapun. Aldi selalu menyimpan masalahnya sendiri, selalu memendam kesedihannya sendiri. Oma berharap kamu bisa menjaga Aldi, menghibur bila dia sedih dan memberi solusi saat dia ada masalah.
Oma berharap suatu saat nanti kamu mau menjadi pendamping Aldi, Oma tau kamu gadis yang baik, kamu pasti bisa memberikan kasih sayang dan perhatian yang selama ini dibutuhkan Aldi."
Nabila tersadar dari lamunannya, dia jadi bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.
Saat ini Nabila sudah mulai mengagumi Aldi, tapi dia masih belum bisa melupakan Aditya. Rasa cintanya pada Aditya masih sama seperti dulu, sekuat apapun dia berusaha melupakan Aditya tapi perasaanya tidak berubah sama sekali.
Karena lelah akhirnya Nabila tertidur karena hari juga sudah malam.
"Nabila! Nabila!"
"Mas Adi!" Nabila terkejut karena ada Aditya di sana. Padahal saat ini Nabila sedang bersama Aldi.
"Nabila, akhirnya aku menemukanmu. Aku sangat merindukanmu. Sudah lama aku mencari mu kemana-mana."
"Kenapa mas Adi mencari ku? Bukankah Mas Adi sudah bahagia bersama mbak Vina?"
"Tidak Nabila, aku hanya mencintaimu.Aku hanya ingin menikah denganmu."
"Tapi orangtuamu tidak menyukaiku Mas!"
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin bersamamu, aku sangat mencintaimu Nabila."
"Maaf Mas, kita tidak akan mungkin bisa bersatu."
"Tidak Nabila, ayo kita pergi dari sini. Kita akan membuat rumah kita sendiri."
"Tidak Mas, aku tidak bisa. Aku harus pergi sekarang."
"Kamu hanya milikku Nabila, selamanya hanya milikku."
"Tidak Mas, aku tidak bisa. Ada seseorang yang sedang menungguku."
"Pergilah bersamaku Nabila, aku janji akan membahagiakan mu. Kita akan menikah dan mempunyai banyak anak."
"Maaf Mas, aku harus pergi. Lupakan aku kerena aku tidak pantas untukmu. Berbahagialah dengan kehidupan barumu."
"Tidak Nabila, kebahagiaan ku hanyalah kamu, aku sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, tapi kita tidak akan bisa bersatu. Biarkan aku pergi Mas."
"Jangan, jangan pergi, Nabila jangan pergi!"
__ADS_1
Tapi Nabila tetap melangkah pergi dengan pria yang tidak terlihat wajahnya. Aditya hanya melihatnya dari belakang.
"Nabila, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Kembalilah, aku sangat mencintaimu. Nabila!!!"