
Meta dengan setia menemani Roy yang masih belum sadarkan diri. Meta sengaja tidak memberitahu keadaan Roy pada ibunya karena ibunya Roy sudah tua dan sering sakit-sakitan.
Siang ini Nuri dan Doni datang membawa makan siang untuk Meta.
"Ayo makan dulu, Kak Meta," ucap Nuri sambil membuka kotak makanan untuk mereka bertiga makan.
"Kalian makanlah dulu, aku belum lapar."
"Kak Meta harus makan biar nggak ikut sakit. Kalau kak Meta sakit siapa yang akan jaga Mas Roy?"
Setelah dengan bujuk rayu akhirnya Meta mau makan. Nuri dan Aldi sudah hafal dengan sifat Meta, kalau ada masalah pasti Meta tidak mau makan dan akan berakhir di rumah sakit. Maka dari itu Nuri dan Aldi berusaha agar Meta mau makan.
Setelah selesai makan mereka berbincang sejenak.
"Gimana perkembangan kasus mas Roy, Doni?"
"Polisi masih terus menyelidiki, tapi karena tidak ada bukti dan saksi polisi masih belum bisa mengungkap kasus ini."
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Sabar ya Kak, kita doakan saja mas Roy bisa cepat sadar."
"Makasih ya kalian selalu membantu setiap aku ada masalah".
"Kita ini kan keluarga Kak, sudah seharusnya kita saling membantu."
Lalu keduanya berpelukan, Meta yang begitu rapuh tak bisa menahan air matanya. Hanya dukungan dari keluarga yang dia butuhkan saat ini.
Tanpa sengaja Doni melihat jari Roy bergerak, begitupun bola matanya.
"Mas Roy!" teriak Doni.
Lalu Meta dan Nuri melihat ke arah Roy yang terbaring. Melihat ada pergerakan Meta langsung menghampiri kekasih hatinya.
"Mas Roy! Sadarlah, aku merindukanmu, bukankah bulan depan kita akan menikah? Tentu kamu tidak lupa dengan janjimu kan?" ucap Meta dengan deraian air mata.
Lalu Roy membuka matanya perlahan. Doni segera memanggil dokter dan tak lama dokter pun datang.
"Maaf, tolong biarkan Kami memeriksa pasien dulu," ucap perawat.
Dan Nuri segera membawa Meta menepi. Lalu dokter memeriksa kondisi Roy, setelah beberapa pemeriksaan Roy dinyatakan sudah stabil dan tinggal pemulihan saja.
Meta bernafas lega, karena sebelumnya Meta sangat khawatir bila terjadi sesuatu dengan calon suaminya. Lalu Meta mendekati Roy sedangkan Nuri segera menghubungi Aldi.
"Mas, kamu baik-baik saja?"
"Iya, hanya sedikit pusing. Tapi tidak apa-apa asal ada kamu di samping ku."
"Baru juga sadar sudah langsung gombal," sindir Doni.
"Sayang, apaan sih, jahil banget," tegur Nuri.
"Ya sudah yuk kita pulang, ngapain nungguin orang pacaran," ucap Doni.
"Iya,pulang sana. Lagian di sini cuma ganggu aja."
__ADS_1
"Mas, jangan gitu dong. Mereka yang nemenin aku saat kamu belum sadar."
"Denger tuh, jadi orang jangan sombong," ucap Doni.
"Kenapa sih kalian nggak pernah akur. Ribut terus kalau ketemu," ucap Nuri.
"Tau tuh, Doni selalu sensi kalau sama aku."
Mereka memang selalu begitu, tidak pernah akur dan selalu berdebat. Tapi sebenarnya mereka adalah teman baik.
"Ya udah aku pulang dulu ya Kak, mungkin sebentar lagi kak Aldi ke sini. Tadi aku sudah kabarin kalau mas Roy sudah sadar."
"Iya, makasih ya Nuri."
Setelah Nuri pergi, tak lama Aldi dan Rio, asistennya datang.
"Bagaimana keadaan Mas Roy?"
"Aku sudah lebih baik."
"Lalu apa kata dokter?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik-baik saja," jawab Meta.
"Jadi biasalah Mas Roy jelaskan apa yang terjadi?" tanya Aldi, dan dengan sikap Rio merekam pembicaraan mereka.
"Waktu itu aku menuju ke kafe Meta, kami berencana untuk fitting baju di tempat Nuri, tapi saat melintasi jalan sepi itu ada seseorang yang minta tolong di pinggir jalan, aku pikir bannya kempes.
Saat aku turun dan melihat mobil itu, tiba-tiba ada yang memukul kepalaku dari belakang. Mereka berempat langsung menyerang ku. Aku kewalahan dan tidak ingat apapun lagi," jelas Roy.
"Aku seperti pernah melihatnya, tapi aku lupa. Dia hanya mengatakan kalau dia tidak bisa memiliki Meta, berarti aku juga tidak bisa."
"Apa mungkin itu Joni?" ucap Meta.
"Oh iya, aku baru ingat. Dia adalah orang yang kita temui di pernikahan teman kamu bulan lalu," ucap Roy pada Meta.
"Iya, pasti itu Joni. Dia sempat menyuruhku untuk meninggalkanmu Mas, dia akan melakukan apapun asal aku mau kembali padanya."
"Jadi kemungkinan ini karena dendam?"
"Bisa jadi. Karena aku tidak merasa punya musuh sebelumnya."
"Baiklah, aku akan memberikan rekaman ini pada polisi. Mungin nanti akan ada polisi yang datang untuk minta keterangan langsung darimu," ucap Aldi.
"Iya, terimakasih ya atas bantuannya."
"Tidak perlu sungkan, kita akan jadi keluarga sebentar lagi."
Lalu Aldi dan Rio pamit karena mereka masih ada pekerjaan setelah ke kantor polisi.
***
Siang ini seperti biasanya kafe terlihat ramai setiap jam makan siang. Nabila dan teman-temannya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Mereka semua tetap bertanggung jawab dengan pekerjaan meski pemilik kafe tidak ada di tempat. Karena kebaikan Meta mereka sangat nyaman bekerja di kafe tersebut, jadi mereka melakukan pekerjaan dengan jujur dan semangat.
__ADS_1
Saat kafe mulai sepi mereka bergantian untuk makan siang.
"Bila, kamu makan dulu gih sama Lina," ucap Doris.
"Nggak apa-apa nih aku makan dulu?"
"Iya nggak apa-apa, cepetan nanti kita gantian!"
"Oke, aku duluan ya!"
Lalu Nabila makan bersama Lina. Mereka di beri waktu masing-masing 30 menit untuk makan siang dan istirahat.
"Bila, gimana hubungan kamu sama mas Aldi?" tanya Lina.
"Hubungan apa? Aku nggak ada hubungan apa-apa kok sama mas Aldi."
"Masa sih? Kemarin kan kamu jalan sama dia, dan tadi juga gitu?"
"Nggak kok, kemarin mas Aldi cuma minta ditemenin beli kado dan tadi kebetulan dia ada di rumah sakit. Jadi sekalian bareng karena dia juga mau pulang."
"Tapi kan mbak Meta sama Nuri sepertinya mendukung hubungan kamu sama mas Aldi."
"Jujur aku masih takut untuk memulai sebuah hubungan, Lin. Apalagi mas Aldi berasal dari keluarga berada."
"Nggak semua orang kaya sombong, Bila. Buktinya keluarga mbak Meta, Nuri, juga mas Aldi. Bahkan kamu sudah mengenal Oma. Mereka orang baik, Bila."
"Entahlah Lin, aku masih bingung. Biarkan semuanya mengalir seperti air."
"Baiklah, aku akan selalu mendukung apapun keputusan mu. Semoga nanti kamu mendapatkan jodoh yang terbaik."
"Makasih ya, semoga kamu juga."
Lalu keduanya berpelukan, mereka sudah seperti keluarga juga dengan yang lainnya.
"Eh, malah peluk-pelukan! Kenapa aku nggak di ajak?"
Lalu Doris langsung ikut memeluk dua gadis tersebut.
"Eh, ada Teletubbies! Tunggu, aku datang!"
Yudi yang berlari akan ikut berpelukan bersama mereka langsung ditarik oleh Ani dari belakang.
"Mau ngapain?" tanya Ani sambil melotot.
"Eh, sayang nggak kok," ucap Yudi cengengesan.
Yudi dan Ani baru saja jadian beberapa Minggu yang lalu.
Rani yang melihat itu tertawa terbahak bahak. Ada saja tingkah konyol para pramusaji itu.
Hingga ada orang yang berteriak memanggil dari dari arah depan.
"Permisi! Apa kafe nya masih buka?"
Lalu mereka semua langsung kelabakan berlari ke arah depan.
__ADS_1
Sungguh kekonyolan yang menghibur.