
"Doris, aku ingin bicara serius denganmu," ucap Lina setelah acara resepsi pernikahan Meta.
Saat ini mereka masih ada di hotel dan akan menginap satu malam lagi.
"Kenapa sih Lin, kalau mau ngomong ya ngomong aja," ucap Doris sambil menikmati suasana malam di balkon kamar hotel.
"Kembalilah seperti dulu, aku mohon. Aku sangat merindukan dirimu yang dulu," ucap Lina untuk kesekian kalinya.
Lalu Doris menatap tajam ke arah Lina yang tidak pernah putus asa untuk menyadarkan Doris.
"Hentikan omong kosong mu ini Lina, aku sudah bosan mendengar ocehan mu."
"Dion, aku mohon lupakan semua masa lalu mu. Jalani hidupmu dengan baik."
"Jangan panggil aku Dion, namaku Doris hanya DORIS," ucap Doris penuh penekanan.
Doris menahan emosinya agar tidak meledak, dia tidak ingin menyakiti hari Lina, sahabatnya sejak kecil.
"Namamu adalah Dion, kembalilah Dion ku, aku mencintaimu," ucap Lina dengan berlinang air mata.
Doris terpaku dengan pengakuan Lina, dia masih tidak percaya bahwa Lina memendam rasa padanya, padahal penampilan saat ini jauh berbeda dengan yang dulu.
"Jangan bo*oh Lina, aku tidak akan pernah berubah seperti dulu. Inilah aku yang sekarang," ucap Doris lalu pergi meninggalkan Lina yang menangis sesenggukan karena penolakan dari Doris.
Nabila yang sejak tadi pura-pura tidur mendengar semua pembicaraan Lina dan Doris. Setelah Doris pergi Nabila bangun dan mendekati Lina yang masih menangis di balkon.
"Lina! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nabila.
Tanpa menjawab Lina langsung memeluk Nabila dan menumpahkan segala kesedihannya.
Nabila hanya mengelus punggung Lina dan membiarkan Lina untuk tenang dulu. Setelah Lina lebih tenang Nabila mengajaknya duduk dan memberikan air minum.
"Apa kamu sudah lebih tenang?" tanya Nabila.
"Iya, terimakasih."
"Kamu bisa menceritakan semua masalah mu denganku, aku akan mendengarkan mu walaupun aku tidak bisa membantu menyelesaikan masalahmu."
"Nabila, aku mencintai Doris, bukan, namanya adalah Dion. Kami bersahabat sejak kecil," ucap Lina.
"Lalu kenapa sekarang namanya jadi Doris?"
Flashback on
Lina dan Dion adalah sahabat sejak masa kanak-kanak, mereka selalu bersama dari mulai masuk sekolah taman kanak-kanak sampai SMP.
Seperti biasa Dion menghampiri Lina untuk berangkat sekolah bersama. Karena jarak rumah dan sekolah lumayan dekat jadi mereka hanya berjalan kaki menuju sekolah.
Saat ini mereka sudah di kelas 3 SMP, dan sebentar lagi mereka akan menjalani ujian akhir.
"Lina, nanti kamu pulang saja duluan karena aku ada kelas tambahan dengan Bu Sita," ucap Dion saat istirahat sekolah.
"Kelas tambahan? Tapi aku tidak ada kelas tambahan," ucap Lina heran.
__ADS_1
"Entahlah, tadi Bu Sita memberitahuku untuk ikut kelas tambahan."
"Siapa saja yang ikut?"
"Aku tidak tau, sudahlah cepat habiskan makananmu sebentar lagi waktu istirahat habis."
Lina sedikit heran, kenapa dia tidak mendapat pelajaran tambahan seperti Dion. Padahal mereka satu kelas.
"Dion, apa aku harus menemanimu?" tanya Lina yang khawatir pada Dion.
"Tidak perlu, kamu pulang saja duluan," tolak Dion.
"Ya sudah, aku duluan ya!"
Lalu Lina meninggalkan Dion yang masih menunggu kedatangan bu Sita.
Dion terkenal murid yang cukup cerdas dan lumayan tampan, tapi di sekolah ini Dion tidak punya banyak teman. Hanya Lina dan beberapa teman laki-laki saja. Dion lebih pendiam dan tidak mudah bergaul.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Bu Sita datang, tapi dia tidak sendiri, dia datang bersama satu guru lagi yang Dion tidak tau namanya.
"Apa ini yang namanya Dion Bu Sita?" tanya guru itu.
"Iya Bu, bagaimana? Tampan kan?" ucap Bu Sita.
"Iya, sangat tampan. Aku suka."
Dion sedikit bingung dengan apa yang dibicarakan dua guru tersebut.
"Baiklah, ayo Dion kita keruang guru saja," ucap Bu Sita.
"Iya Bu," ucap Dion lalu mengikuti dua guru tersebut tanpa ada curiga.
Setelah sampai di ruang guru yang sudah sepi, dua guru tersebut langsung menyuruh Dion untuk duduk,dan mereka duduk di samping kanan dan kiri Dion.
Dion semakin heran dengan apa yang dilakukan dua guru tersebut.
"Bu, kita akan belajar menteri apa?" tanya Doris yang sedikit risih saat dua guru itu menatap dirinya.
"Ibu akan mengajarimu yang enak-enak Dion, ibu yakin kamu akan menyukainya," ucap Bu Sita dengan mengelus paha Dion.
"Bu jangan seperti ini, katanya ibu mau memberi pelajaran tambahan?"
"Iya sayang, ini ibu mau memberikan pelajaran tambahan untukmu."
Lalu satu guru menyerang Dion di bagian wajah dengan penuh na*su. Sedangkan bu Sita menggerayangi tubuh Dion.
"Bu, jangan Bu. Lepaskan!" ucap Dion berusaha melepaskan dua guru itu.
Sedangkan Lina yang khawatir dengan Dion kembali lagi ke sekolah sebelum sampai di rumah. Saat akan menghampiri Dion, ternyata Dion sedang berjalan mengikuti dua orang guru menuju ruang guru.
"Kok mereka ke ruang guru, terus yang satu itu siapa? Sepertinya aku belum pernah melihatnya," gumam Lina heran.
Lalu dengan mengendap-endap Lina mengikuti mereka dan mendengar pembicaraan mereka dari luar.
__ADS_1
Saat Lina mendengar ada yang tidak wajar dengan pembicaraan dua orang dewasa itu, Lina segera berlari ke belakang sekolah untuk memanggil penjaga sekolah.
"Pak, Pak Parman! Tolong teman saya!" teriak Lina sambil mengetuk pintu.
"Ada apa Neng? Kok belum pulang?" tanya penjaga sekolah heran.
"Tolong Pak, teman saya ada diruang guru, dia...dia..." Lina bingung harus bicara apa.
"Ada apa, bicara yang jelas biar bapak mengerti?"
"Ayo Pak ikut saja," lalu Lina menarik tangan penjaga sekolah dan satu orang lagi mengikuti mereka.
Saat sampai di ruang guru terdengar suara Dion meronta-ronta.
"Pak tolong teman saya!" ucap Lina menghiba.
Lalu penjaga sekolah langsung membuka pintu dan terlihatlah Dion yang setengah tela*jang sedang di pegang oleh dua orang wanita.
"Apa yang kalian lakukan?!" teriak pak Parman.
Lalu kedua wanita itu melepaskan Dion dan merapikan bajunya. Sedangkan Lina langsung berlari ke arah Dion dan membantunya untuk bangun.
"Siapa kamu? Kamu bukan guru disini kan?" tanya pak Parman.
"Dia te-teman saya Pak," jawab Bu Sita gugup.
"Lalu apa yang kalian lakukan?" tanya Pak Seno tukang kebun sekolah.
"Tadi itu hanya salah paham kok pak," ucap Bu Sita.
"Salah paham apanya?"
"Tadi kami cuma mau memberi pelajaran tambahan untuk Dion,"
"me-mereka bohong, mereka mau melecehkan saya," ucap Dion dengan bergetar.
"Jangan sembarangan ya kalau ngomong, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah ini karena memfitnah guru."
"Saya tidak bohong Pak, mereka memaksa saya melakukan hal menjijikkan itu!" teriak Dion.
"Sudah tenang, sekarang kalian pulang saja. Biar saya yang akan menyelesaikan masalah ini," ucap pak Parman.
Lalu Lina mengajak Dion pulang. Sedangkan pak Parman masuk ke dalam ruang guru dan entah apa yang mereka lakukan.
Tapi setelah itu tidak ada kejelasan tentang kejadian waktu itu. Yang jelas Dion jadi tertekan setelah itu dan karena itulah Dion berubah hingga lulus sekolah.
Apalagi setelah kematian ibunya, Dion tidak mempunyai siapapun lagi. Rumah yang dia tempati bersama ibunya juga di rampas oleh adik dari mendiang ayahnya. Dan Dion diusir dari rumah itu.
Setelah itu entah kemana Dion pergi.
Dua tahun kemudian saat Lina pergi merantau ke kota, tanpa sengaja Lina bertemu dengan Dion. Tapi Dion yang dia temui sudah jauh berbeda, dan namanya pun menjadi Doris.
Flashback off
__ADS_1