
Mobil berwarna hitam bergerak pelan saat memasuki halaman rumah besar dengan pagar besi yang terbuka.
Terlihat penjagaan ketat di rumah Mahatir Wijaya saat ini.
Anjing-anjing penjaga jenis Beauceron berkeliaran di area halaman rumah berasitektur eropa itu.
Tidak hanya itu anak buah Mahatir Wijaya tampak sibuk di beranda rumah sambil menenteng senjata api.
"Apa yang sedang terjadi saat ini ? Kenapa banyak anak buah Wijaya berkerumun di teras depan rumah ?", tanya Anita.
Anita mengawasi dari dalam mobil sambil mengernyitkan keningnya.
"Apa sebaiknya kita turun sekarang ?", ucap Pim.
Pim turut memperhatikan gerak-gerik anak buah Mahatir Wijaya dari kaca mobilnya yang gelap.
Dia memarkir mobilnya cukup jauh dari rumah besar itu.
"Tunggu saja, aku kira mereka sedang mempersiapkan sesuatu sekarang ini, Pim sayang", sahut Anita.
Anita menahan tangan Pim yang hendak membuka pintu mobilnya.
"Jika kita ketahuan mengawasi mereka justru nyawa kita melayang sangat cepat, sayangku", ucap Pim.
Pim mengalihkan pandangannya dari luar mobil ke Anita yang sedari tadi mengamati keadaan sekitar rumah Mahatir Wijaya yang tampak sibuk.
"Aku tahu itu... Tidak mungkin mereka akan langsung menembaki mobil kita jika mereka menyadarinya...", ucap Anita yang masih menatap lurus keuar kaca depan mobil.
"Nah ! Dan kamu tahu itu, Anita !", sahut Pim.
"Tidak, jika mereka sekarang tengah sibuk dan aku tahu mereka tidak akan memperhatikan kita", ucap Anita.
"Bagaimana kamu begitu yakin ?", tanya Pim.
"Tidak... Tidak... Karena aku tahu saat ini semua orang tertuju pada sesuatu dan aku tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan", sahut Anita.
"Lalu !?", ucap Pim.
Pim mengangkat kedua alisnya ke atas saat mendengar jawaban Anita.
"Tunggu sampai Wijaya keluar dari rumahnya maka kita langsung menemuinya", lanjut Anita.
"Baiklah..., jika itu yang kamu inginkan...", sahut Pim.
Pim mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil dan kembali duduk di dalam mobil sambil memperhatikan keadaan di luar rumah Mahatir Wijaya.
"Apa kau yakin, sayang ?", tanya Pim ragu.
"Iya... Dan percayalah sayang...", sahut Anita.
Keduanya duduk dengan menatap serius gerak-gerik anak buah Mahatir Wijaya. Dan Pim mematikan mesin mobilnya serta berjaga-jaga dari dalam mobil.
Hal kemungkinan buruk yang bakal mereka hadapi nanti.
"Bagaimana jika mereka sadar dan langsung menembaki mobil ini ?", seloroh Pim.
"Berarti kita tinggal menunggu kabar berita kematian kita berdua, sayangku", sahut Anita.
"Yah, baiklah... Dan katakan saja bahwa itu memang hal yang sangat pantas untuk kita", jawab Pim.
__ADS_1
"Memang itu resikonya karena kita memata-matai rumah orang, Pim", ucap Anita datar.
"Ayolah ! Jangan mencoba membual hal yang tidak perlu, nyonya ! Terdengar sangat menyeramkan", ucap Pim berkelakar.
"Lebih menyeramkan mana melihat hantu daripada melihat mafia ?", sahut Anita.
"Aku rasa tidak dua-duanya", jawab Pim.
"Hal konyol yang kita lakukan selama kita hidup adalah memata-matai rumah mafia padahal kita tahu bahwa itu adalah pekerjaan paling konyol", ucap Anita.
"Hmmm...", gumam Pim acuh.
"Kenapa ?", tanya Anita.
Anita menoleh ke arah Pim sambil menatapnya bingung.
"Tidak apa-apa, ada apa ?", tanya balik Pim yang juga keheranan.
"Apa kamu takut ?", balas Anita.
"Dan bagaimana aku harus menjawabnya ? Tidak takut begitu ? Sedangkan kita tengah memata-matai mafia besar !? Dan bagaimana aku tidak merasa tidak takut ?", ucap Pim.
"Ayolah, sayang !", sahut Anita.
Anita memukul bahu Pim cukup keras.
"Apa yang kamu lakukan, sayang ?", tanya Pim.
Pim meringis saat Anita memukul kembali bahunya.
"Jika kamu takut sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum mereka melihatmu, Pim sayang", sahut Anita setengah mencandai Pim.
Pria bertubuh kekar itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memperlihatkan deretan giginya.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah rumah besar itu.
Membuat Anita tersentak kaget.
"Astaga !", pekik Anita tertahan.
Darah Anita mendadak berhenti mengalir dan terkesiap dingin ketika melihat beberapa anak buah Mahatir Wijaya berjalan mendekat ke arah mobil yang mereka berdua naiki.
"Apa mereka menyadari keberadaan kita, Pim ?", tanya Anita kaku.
"Entahlah, sayang...", jawab Pim.
Pim berlahan-lahan menggerakkan tangannya ke arah setir mobil dan memutar kunci mobilnya cepat.
"Aku rasa kita segera kabur dari tempat ini, sayang", sahut Pim.
"Tapi aku ingin menemui Wijaya sekarang", ucap Anita.
"Tidak sekarang aku rasa dan ini bukanlah waktu yang tepat untuk kita, Anita sayang", kata Pim.
Pim menginjak pedal gasnya pelan-pelan saat dia melihat anak buah Mahatir Wijaya mulai mendekat cepat.
"Siapa itu ?", teriak seorang pria berambut ikal.
Pria itu mengarahkan karabin di tangannya dan mulai membidik ke arah mobil hitam yang ada di depannya.
__ADS_1
"Turun !", teriak pria berambut ikal.
Anita bergeming lalu membuka pintu mobil untuk keluar.
Namun, Pim menginjak pedal gas mobilnya sangat keras dan memundurkan mobilnya cepat-cepat.
Mobil berdecit keras sehingga menimbulkan kepulan besar asap yang keluar dari knalpot mobil hitam itu yang mengepul di udara.
"Pergi Pim !", teriak Anita kencang.
Beberapa anak buah Mahatir Wijaya menembaki mobil hitam yang Anita dan Pim naiki.
Mobil bergerak cepat, menghindari tembakan karabin.
Pria berpakaian atasan putih dengan celana hitam tampak berlari mengejar mobil warna hitam milik Pim seraya terus mengeluarkan tembakan ke arah mobil.
Pim dengan cepat memutar setirnya dan membawa mobil miliknya keluar dari halaman rumah besar.
Pria asing itu berhasil melajukan mobilnya meninggalkan rumah milik Mahatir Wijaya.
"Cepat Pim ! Cepat !!!", teriak Anita.
"Iyaaa !!!", sahut Pim.
Masih terdengar suara tembakan dari arah belakang mobil saat mobil melaju cepat.
"DRRRT... DRRRRT... DRRRT... !!!"
"Ya Tuhan ! Kita hampir mati !", ucap Pim.
Pim menghela nafasnya kasar kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Ahaaay !!!", pekik Pim senang.
Anita langsung menoleh ke arah Pim dengan pandangan terheran-heran.
"Apa yang kamu tertawakan ?", tanya Anita polos.
"Ha... Ha... Ha... Tidak ada, tidak ada sayangku...", sahut Pim.
"Kamu benar-benar gila, Pim !", ucap Anita.
"Bukankah kamu yang membuat kegilaan ini, sayangku", sahut Pim masih tertawa.
"Iya, aku memang yang salah dan menciptakan kekacauan ini !", jawab Anita kesal.
"Apa tidak ada yang mengejar kita ?", tanya Pim.
Pim melirik ke arah kaca spion depan mobilnya untuk memastikan tidak ada yang mengejar mereka berdua.
"Aku rasa mereka pasti mencari kita dan aku sarankan kamu mengganti warna mobilmu serta nomor platmu, Pim sayang", sahut Anita mengingatkan kekasihnya.
Anita menoleh ke arah belakang mobil cepat dan memastikan tidak ada yang mengejar mereka.
"Sebaiknya aku menjualnya setelah mengganti seluruh badan mobil ini", ucap Pim.
"Aku rasa itu idea yang baik, Pim", sahut Anita.
Keduanya lalu terdiam ketika mobil melaju menjauh dari area perumahan elit, tempat tinggal Mahatir Wijaya, pemimpin besar mafia sekaligus ayah kandung Tribuana Tungga Dewi.
__ADS_1