
Tidak sampai 24 jam akhirnya pelaku pengeroyokan terhadap Roy sudah di tangkap. Mereka tidak dapat mengelak lagi, karena selain pengakuan dari Roy, polisi juga menemukan barang bukti berupa kayu balok yang digunakan untuk memukul Roy. Dan di sana terdapat sidik jari pelaku.
Salah satu pelaku yang bernama Joni mengakui kalau dia cemburu pada Roy. Dia adalah mantan kekasih Meta, dia juga tidak terima saat mendengar Meta akan menikah dengan Roy.
Joni berencana akan membunuh Roy, tapi karena saat itu ada orang yang melintas mereka segera kabur agar tidak ketahuan.
Meta yang mendengar kabar itu merasa bersalah pada Roy, karena dirinya sang kekasih harus mengalami kekerasan fisik, bahkan hampir saja nyawanya melayang.
"Mas, maafin aku ya. Gara-gara aku kamu jadi seperti ini," ucap Meta sambil menangis sesenggukan.
"Ini bukan salahmu sayang, sudahlah yang penting aku tidak apa-apa," hibur Roy.
"Tapi kalau bukan karena aku semua ini pasti tidak akan terjadi."
"Sudahlah, sekarang kamu pulanglah dan istirahat. Sudah beberapa hari kamu menemaniku disini."
"Aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri."
"Tidak usah khawatir, asistenku sebentar lagi datang, dia yang akan menemaniku."
"Tapi aku ingin tetap disini."
"Sayang, dengarkan aku. Kamu harus istirahat, kamu nggak boleh terlalu lelah. Nanti kalau kamu sakit siapa yang akan merawat ku? Pulang ya, bisik kamu ke sini lagi."
Dengan berat hati meta meninggalkan kekasihnya. Sebenarnya dia memang merasa lelah setelah tiga hari berada di rumah sakit.
Meta memutuskan pulang ke kafe, karena bila dia pulang ke rumah dia akan sendirian. Meta mempunyai kamar pribadi di ruangannya di kafe. Jadi bila malas untuk pulang dia akan menginap di kafe.
Saat sampai di kafe, terlihat kafe sangat sepi padahal baru setengah sembilan.
"Mbak Meta! Aku kangen loh, gimana keadaan mas Roy?" sambut Doris langsung memeluk Meta.
"Aku juga kangen kalian semua. Alhamdulillah mas Roy sudah lebih baik."
"Maaf ya Mbak kami tidak menjenguk ke rumah sakit."
"Iya tidak apa-apa, lalu tidak ada pembeli tutup saja kafenya. Aku ingin makan malam bersama kalian."
"Siap Mbak Meta, Mbak mau makan apa?"
"Apa saja, aku mandi dulu ya."
"Iya Mbak."
Lalu Doris langsung berlari ke depan untuk menutup kafe, takutnya keburu ada pelanggan datangš¤
Sedangkan Nabila, Lina, dan Ani menata meja, ada beberapa meja yang di jadikan satu untuk mereka makan bersama.
Sedangkan Yudi dan Rani menyiapkan makanan di dapur. Mereka sangat bersemangat karena sangat jarang mereka bisa makan bersama.
Apalagi dengan keadaan Meta yang baru saja ditimpa musibah. Mereka juga akan menghibur Meta agar tidak terlalu sedih.
Setelah semuanya siap Meta pun datang, belum sempat mereka duduk ponsel Meta berdering.
"Halo Al, ada apa?"
"Kenapa kafenya sudah tutup? Aku sekarang ada di depan, tadi ke rumah sakit katanya kamu pulang."
"Iya aku pulang, tunggu sebentar biar Nabila membuka pintu untukmu." Lalu panggilan berakhir.
__ADS_1
"Nabila, tolong buka pintu, ada seseorang yang akan bergabung bersama kita."
"Iya Mbak."
Lalu Nabila segera membuka pintu tanpa tau siapa yang datang.
Sedangkan Meta sibuk mengatur tempat duduk. Meta meminta menyisakan dua tempat duduk bersebelahan.
Saat membuka pintu Nabila terkejut saat melihat Aldi yang sudah berdiri di depannya.
"Silahkan masuk, Mas."
"Iya, terimakasih ya."
Lalu keduanya berjalan beriringan, membuat semua mata tertuju pada mereka. Nabila jadi salah tingkah karena semua temannya melihat ke arahnya.
"Ehm, ehm kok suaraku jadi serak ya," goda Doris.
"Ish, apaan sih. Sirik aja," tegur Lina.
"Jangan di godain, nanti mereka malu," bisik Meta.
"Iya maaf, habisnya aku gemes banget lihat pasangan ini."
lalu Nabila celingukan karena hanya ada satu kursi kosong yaitu di samping Aldi. Mau tidak mau Nabila duduk di sana.
"Ayo kita makan!"
Doris lah yang paling semangat karena dia bahagia bila orang-orang disekitarnya juga bahagia.
Sedangkan Nabila makan dengan canggung, walaupun sebelumnya dia sudah pernah makan bersama Aldi. Tapi kali ini berbeda, semua temannya seakan menggoda dirinya.
Aldi mengajak Nabila untuk bicara sebentar, jadi mereka berdua masih di kafe saat yang lainnya sudah kembali ke kamar.
"Nabila, kapan kamu libur?"
"Nggak tau, karena aku nggak pernah libur sebelumnya. Memang kenapa?"
"Oma memintaku untuk mengajak mu ke rumah. Karena Oma akan pulang ke rumahnya."
"Kenapa Oma nggak ke sini saja?"
"Oma sudah tua, beliau gampang capek bila bepergian."
"Jadi kamu dan Oma tidak tinggal serumah?"
"Oma tidak ingin meninggalkan rumahnya, sedangkan aku dan Nuri punya kesibukan di kota ini."
"Ya sudah, besok aku akan tanya sama mbak Meta kapan aku bisa libur."
"Tidak perlu, aku yang akan bicara pada Meta. Besok kamu bersiaplah aku akan menjemputmu."
"Baiklah, aku akan menunggumu," ucap Nabila dengan senyum manisnya yang membuat Aldi semakin terpesona.
"Ada lagi yang ingin kamu katakan?"
"Tidak, aku akan pulang. Kamu istirahat ya."
"Iya."
__ADS_1
Lalu Aldi berjalan keluar dan Nabila mengikutinya untuk menutup pintu.
"Aku pulang ya."
"Iya."
"Nabila, kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?"
"Apa?"
Sebenarnya Aldi ingin Nabila mengatakan salam perpisahan yang manis. Tapi sepertinya Nabila tidak akan melakukannya.
"Lupakan, masuklah dan kunci pintunya.
"Iya."
"Hati-hati di jalan," ucap Nabila lagi saat Aldi sudah berbalik.
Aldi langsung terdiam dan kembali menatap Nabila yang malu-malu. Aldi sangat bahagia hanya dengan perhatian kecil yang di berikan Nabila.
"Masuklah, aku akan menjemputmu besok."
Lalu Nabila langsung masuk dan mengunci pintu, hatinya berdebar-debar saat Aldi menatap matanya.
Sedangkan Aldi mengendarai mobilnya dengan senyum lebar. Ini adalah pertama kali baginya dekat dengan perempuan, dia merasa hidupnya lebih berwarna setelah mengenal Nabila.
Sebelumnya hidupnya hanya untuk bekerja dan merawat Nuri adiknya. Hingga tak terasa Nuri sudah dewasa dan punya kehidupan sendiri.
Saat sampai di rumah Oma dan Nuri memperhatikan sikap Aldi yang berbeda.
"Aldi, kamu dari mana?" tanya Oma.
Lalu Aldi duduk di samping Oma.
"Aldi dari kafe Oma."
"Apa Kakak bertemu dengan Nabila?" tanya Nuri penuh selidik.
"Tentu saja, memang kenapa?"
"Tidak ada, aku hanya bertanya saja."
"Ya sudah, Oma mau istirahat."
"Oma, besok Nabila akan kesini."
"Benarkah?" tanya Oma yang senang mendengar Nabila akan datang.
Sebenarnya bisa saja Oma meminta Nabila langsung untuk datang, tapi Oma sengaja meminta Aldi yang mengajak Nabila. Oma ingin hubungan Aldi dan Nabila semakin dekat agar mereka bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.
"Iya Oma, apa Oma senang?"
"Tentu saja, Oma ingin kamu segera menikah dan hidup bahagia. Oma yakin Nabila adalah pilihan yang tepat, dia adalah gadis yang baik."
"Doakan Aldi ya Oma."
"Oma selalu berdoa yang terbaik untuk cucu-cucu Oma. Hanya kalian yang Oma miliki saat ini."
Lalu Nuri dan Aldi memeluk Oma, selama ini mereka mengalami kesedihan yang mendalam setelah kepergian dua anak dan menantu Oma, yaitu orang tua Meta, Aldi, dan Nuri.
__ADS_1
Kapankah kebahagian menghampiri keluarga Meraka?