CINTA Yang Tak DIRESTUI

CINTA Yang Tak DIRESTUI
44 Kesedihan Aditya


__ADS_3

Hari ini tiba waktunya hari pernikahan Aditya dan Vina. Semua persiapan sudah selesai dan acara akan digelar di sebuah hotel mewah di kota ini.


Saat keluarga antusias dan bahagia tapi tidak dengan Aditya, dari semalam Aditya terlihat murung dan tak banyak bicara. Bahkan makan pun tidak. Entah apa yang dipikirkan Aditya saat ini.


Saat ini Aditya sudah siap di depan penghulu yang akan menikahkannya dengan Vina, tapi pikirkan Aditya sedang tidak ada di sana.


Yang lebih mengejutkan, Aditya sampai salah menyebut nama mempelai wanita saat ijab qobul. Siapa lagi kalau bukan Nabila yang disebutkan oleh Aditya.


Mama Aditya menahan malu dan amarah melihat apa yang dilakukan oleh Aditya. Dengan segera mamanya langsung mencengkram kuat tangan Aditya.


"Jangan membuat Mama dan Vina malu, Adi. Atau kamu sengaja ingin membuat Mama mati sekarang juga?" bisik Mama Aditya dengan geram.


"Maaf," ucap Aditya.


Sedangkan Vina yang ada di samping Aditya tak kalah malu dan sedih karena ulah Aditya. Tapi dia bisa apa, karena memang kenyataannya Aditya tidak pernah mencintainya.


Tapi dengan sekuat hati Vina tetap melanjutkan pernikahan ini, dan bertekad akan meluluhkan hati Aditya.


Hingga tida kali diulang akhirnya pernikahan mereka sah secara agama dan negara. Senyum bahagia tampak di wajah Vina juga keluarga besar, kecuali Aditya.


Hingga saat resepsi pun Aditya hanya menunjukkan senyum palsu karena teguran dari sang Mama.


Dilain tempat, tampak Nabila sedang sibuk melayani pelanggan kafe yang sangat ramai malam ini, begitu juga yang lainnya.


"Doris! Apa Meta ada di ruangannya?" tanya Roy yang baru datang.


"Ada, Mas. Kenapa dah kangen ya? Tumben dijemput?" tanya Doris.


"Ya iyalah pengantin baru, pasti bawaannya kangen terus," goda Nabila yang kebetulan lewat.


"Ah, kamu ini. Kita mau pergi ke acara pernikahan, itu loh yang dapat bunga pengantin waktu kita nikah," ucap Meta yang menghampiri mereka.


Deg. Nabila yang mendengar itu langsung berhenti sejenak.


"Mungkinkah mas Adi?" gumam Nabila dalam hati. Tapi dia tidak berani bertanya siapa nama pengantinnya.


Doris yang mengerti reaksi Nabila segera bertanya pada Meta.


"Siapa nama pengantinnya Mbak?" tanya Doris.


"Namanya Aditya dan Vina. Kenapa? Kamu mau ikut? Kayak bocah saja," ledek Meta.

__ADS_1


"Nggak ah, ngapain juga ikut," ucap Doris lalu melenggang pergi.


"Ya sudah, kita berangkat ya Bila," ucap Meta.


Nabila yang sedang melamun terkejut dengan tepukan di pundaknya.


"Eh, iya Mbak,Mas hati-hati dijalan."


Saat pelanggan kafe mulai sepi, Doris mendekati Nabila yang dia tau saat ini Nabila tidak baik-baik saja.


"Bila, kamu istirahat lah, biar kami yang lanjutin," ucap Doris.


"Nggak apa-apa kok, aku nggak capek."


"Sudah kembalilah ke kamarmu, ayo aku antar," ucap Doris lalu menggandeng tangan Nabila dan sedikit memaksa.


"Aku nggak apa-apa Doris," lirih Nabila.


"Ayolah, atau mau aku temani atau kamu mau sama Lina atau Rani?"


"Tidak usah, biarkan aku sendiri," ucap Nabila saat sampai didepan pintu kamar.


"Menangis lah bila itu bisa membuat kamu lega. Tapi ingat, setelah itu lupakan kenangan mu bersamanya. Dia sudah menikah, dan saat ini ada hati yang harus kamu jaga. Mas Aldi sangat tulus mencintaimu, jangan kecewakan dia," nasehat Doris panjang lebar.


Lalu Nabila memeluk Doris dan menumpahkan tangisnya di depan pintu kamar.


"Terimakasih Doris kamu sudah mengerti aku, kamu adalah jawaban dari doa-doa ku selama ini. Aku ingin punya kakak yang bisa menyayangiku dan perhatian padaku. Dan aku menemukan itu di dirimu. Maukah kamu jadi kakakku?" ucap Nabila dengan sesenggukan.


"Tentu saja, kamu adalah adikku yang manis. Sekarang masuklah, dan tenangkan dirimu" ucap Doris.


Lina yang mengikuti mereka dan melihat semuanya sampai meneteskan air mata, Lina terharu melihat dua orang yang tidak punya siapapun dan tidak punya hubungan apapun bisa saling menyayangi.


Setelah Nabila masuk kamar, Lina segera menghapus air matanya dan menghampiri Doris.


"Nabila kenapa?" tanya Lina.


"Pria itu menikah hari ini."


"Siapa?"


"Mantan pacarnya Nabila, siapa lagi?" ucap Doris sambil berjalan meninggalkan kamar Nabila.

__ADS_1


"Darimana kalian tau?" tanya Lina penasaran.


"Tadi mbak Meta sama mas Roy datang ke pernikahan mereka. Kamu ingat kan siapa yang dapat bunga pengantin di pernikahan mbak Meta waktu itu. Dan setelah aku pastikan Memeng benar mantannya Nabila," ucap Doris lalu duduk di depan teman-temannya yang lain.


"Jadi saat ini Nabila sedang patah hati? Pasti sedih banget saat mendengar mantannya menikah," ucap Ani.


"Tapi kan sudah ada mas Aldi, kenapa harus sedih," ucap Yudi dengan entengnya.


Lalu Rani menoyor kepala Yudi dari belakang, dan Yudi pun mengaduh.


"Ya tetap saja kalau dengar mantan menikah pasti sedih, apalagi Nabila masih ada rasa kan perpisahan mereka bukan karena keinginan mereka sendiri," ucap Rani.


"Iya iya, tapi nggak usah melakukan kekerasan juga," protes Yudi.


"Makanya kalau ngomong dipikir dulu," ucap Doris lalu pergi melayani pelanggan yang baru saja datang.


"Tadi aku juga melihat adegan yang mengharukan," ucap Lina.


"Apa?" tanya temannya serentak.


"Tadi Doris menasehati Nabila, dan Nabila menangis sedih juga bahagia karena seperti memiliki kakak seperti Doris. Sedih nggak sih kalau ingat mereka berdua sama-sama sebatang kara," ucap Lina lalu menangis.


"Mereka bukan sebatang kara lagi, ada kita semua sebagai keluarga mereka," ucap Rani mengelus pundak Lina.


"Iya Lin, kita semua saudara jadi jangan bilang kalau mereka sebatang kara lagi," ucap Ani memeluk Lina dengan isak tangis.


"Eh, kalian kenapa malah nangis disini? Apa kalian juga patah hati seperti Nabila?" tanya Doris dengan gaya centilnya, berbeda saat tadi bersama Nabila.


"Kita kan juga ikut merasakan kesedihan Nabila, emang nggak boleh?" protes Ani.


"Ya sudah terserah kalian, nih ada pesanan, cepat disiapkan, nggak pakai lama," ucap Doris pada Yudi.


"Iya iya!"


Sedangkan Nabila dikamar nya sedang menumpahkan tangisnya dan segala emosinya. Hatinya benar-benar sakit saat ini. Pria yang pernah berjanji akan menjaga dan membahagiakan nya, nyatanya saat ini menikah dengan orang lain.


Saat ini Nabila sedang terpuruk lagi, dia juga semakin ragu pada Aldi. Aldi juga menjanjikan hal yang sama seperti Aditya dulu. Nabila takut kalau Aldi juga akan melakukan hal yang sama dengan dengan Aditya saat ini.


Saat pikirannya sedang kacau,Nabila dikagetkan dengan suara ponselnya. Tertera nama Aldi yang sedang menghubunginya.


Tangis Nabila semakin menjadi memikirkan kalau Aldi juga akan meninggalkannya. Hingga beberapa panggilan tidak diangkat oleh Nabila.

__ADS_1


Aldi merasa khawatir kenapa Nabila tidak menjawab panggilannya. Padahal Aldi sudah sangat merindukannya. Aldi juga ingin mengatakan kalau beberapa hari lagi Aldi akan pulang. Aldi juga berencana setelah kepulangannya Aldi akan melamar Nabila.


"Kemana Nabila ya, bukankah jam segini harusnya kafe sudah sepi?" gumam Aldi.


__ADS_2