
Anita yang mendengar kata-kata Pim sempat terharu tanpa dia sadari Anita berhambur cepat ke dalam pelukan Pim.
"Oh, Pim...", bisik lembut Anita.
Pim merangkul bahu Anita dan hanya memandangi sudut ruangan dengan tatapan teduhnya.
"Jika Achmad mendengar ini semua, aku yakin dia akan sangat senang dan tanpa ragu-ragu menerimamu sebagai ayahnya, Pim", ucap Anita.
Sebentuk senyuman tersungging di kedua sudut bibir Anita yang berhias pewarna merah bibir.
"Ciumlah aku, untuk menguatkan hatiku, sayangku !", ucap Pim.
"Pim...", sahut Anita melembut.
Anita menengadahkan wajahnya ke arah Pim lalu menatapnya lama.
"Ciumlah aku, Pim !", pinta Anita.
Anita menatap teduh pujaan hatinya dengan perasaan haru.
"Bawalah aku selalu bersamamu, Anita !", sahut Pim.
Pria asing itu mencium bibir Anita mesra.
Terasa keharuan meliputi kedua pasangan beda bangsa itu saat keduanya berciuman.
Seakan-akan kedua pasangan yang saling mencintai itu akan hidup untuk hari itu. Dan merasa bahwa hari itu adalah hari terakhir keduanya.
Pim melepaskan dirinya dan berjalan menjauh ke arah pintu rumah.
Dia mengulurkan salah satu tangannya ke arah Anita sambil tersenyum lembut.
"Mari kita pergi, sayang !", ucap Pim.
Anita berdiri menatap Pim sesaat lalu dia membalas senyuman pria asing itu cepat-cepat.
"Iya, sayangku...", sahut Anita.
Anita melangkahkan kakinya menghampiri Pim seraya membalas uluran tangan Pim dan tertawa renyah.
Seakan-akan dia hendak melepaskan rasa gundah yang ada di hatinya.
"Dan jangan lupa hari ulangtahunku, sayangku", bisik lembut Pim.
Pim mencium pipi Anita sekilas lalu membuka pintu rumah.
"Aku tidak akan pernah melupakannya dan selalu mengingatnya, sayangku", jawab Anita.
"Ayo, kita bawa Tungga kita kembali pulang lalu menikahkan keduanya, Anita !", ucap Pim.
"Apa !? Menikahkahkan Tungga dan Achmad ?", ucap Anita terhenyak kaget.
Pim hanya menganggukkan kepalanya dan menggandeng tangan Anita.
__ADS_1
"Kau serius, Pim !?", tanya Anita hampir tak percaya.
"Iya... Aku mengatakannya dengan sangat serius !", sahut Pim.
"Benarkah ?", ucap Anita sedikit berubah riang.
"Yah...", jawab Pim sambil memeluk Anita.
"Mereka pasti akan senang mendengar kabar ini dan langsung menyetujuinya, Pim", ucap Anita.
"Aku harap begitu, sayang", sahut Pim.
Pim mempererat pelukannya dan mempercepat langkah kakinya.
Keduanya lalu berjalan menuju mobil berwarna hitam yang terparkir di halaman rumah.
Menaiki mobil itu kemudian pergi dengan cepat.
Anita tidak berharap hal buruk menimpa Tribuana Tungga Dewi dan tetap menjaga pikirannya positif meski itu nol persen dari yang Anita harapkan.
Karena Anita tahu dengan siapa dia akan berhadapan nanti.
Bukan orang biasa melainkan seorang pemimpin mafia besar Kota Batavia yang terkenal kuat dan keras.
Mahatir Wijaya bukanlah sosok yang bisa dipandang sebelah mata oleh siapapun karena dia merupakan penguasa dari Kota Batavia yang sepak terjangnya sangat ditakuti oleh petinggi negeri bahkan pemimpin di luar negeri juga sangat segan dengan pria bernama Mahatir Wijaya.
Dia salah satu mafia terkuat yang memiliki akses bebas dan luas hingga mancanegara.
Jaringan bisnisnya juga tidak main-main karena telah menembus pasar luar negeri sehingga mampu meraup jutaan gulden untuk mengisi pundi-pundi kekayaannya bahkan mampu memberikan suntikan dana besar bagi kas negara.
Anita menghela nafas panjang, sesekali dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil yang sedang melaju cepat.
Gerak dari jalan-jalan di luar sana mampu membuat pikiran Anita teralihkan dari pikirannya yang tertuju pada Tribuana Tungga Dewi saat ini.
Sedikit terhibur bahkan membuatnya merasa cukup tenang.
Tidak lagi cemas meski itu sesaat dalam pikiran Anita.
"Apakah kau tahu bahwa santer terdengar jika para pengedar tengah memasuki area dermaga ?", ucap Pim.
"Maksudmu ?", tanya balik Anita.
"Ada selentingan kabar jika ada pengiriman opium secara besar-besaran dari luar negeri yang datang ke dermaga", sahut Pim.
"Pengiriman opium ?", tanya Anita lagi.
DEGH !
Tiba-tiba jantung Anita terasa berhenti dengan cepat.
Raut wajah wanita yang masih ayu itu mendadak berubah total yang tadinya cerah menjadi pucat pasi.
"Apakah barang itu dari daerah pasir ?", tanya Anita.
__ADS_1
Anita mencoba bertanya hati-hati sambil menata detak jantungnya.
"Entahlah, aku hanya mendengarnya dari para kaki tangan kalangan pengusaha tapi pastinya aku tidak tahu akan kebenarannya", sahut Pim.
Pim memutar kemudinya dengan cepat seraya membelokkan mobil warna hitam itu ke kanan jalan.
Melewati perempatan jalan utama menuju area perumahan elit.
"Jika kabar itu benar adanya maka aku harus mengkhawatirkan keadaan Tribuana Tungga Dewi", ucap Anita.
Tampak Anita terkesiap dingin ketika dia membayangkan nasib Tribuana Tungga Dewi sekarang.
"Kenapa ? Apa ada hubungannya dengan Tungga ?", tanya Pim.
Pim mengerutkan dahinya, berpikir keras dengan perkataan kekasihnya, Anita.
"Tidak mungkin benar tetapi tidak mungkin juga jika Wijaya akan melepaskan Tungga begitu saja", sahut Anita.
Anita mulai merasa cemas dengan Tribuana Tungga Dewi.
"Maksudmu ?", tanya Pim.
Pim sangat keheranan dengan jawaban Anita mengenai Tribuana Tungga Dewi.
"Katakanlah dengan sangat jelas, sayang", lanjut Pim.
Pim menginjak pedal gasnya agar laju mobil berjalan lebih cepat.
"Aku tidak bisa memastikannya sendiri sampai aku bertemu Mahatir Wijaya dan bertanya padanya secara terang-terangan, Pim", sahut Anita.
"Hmmm...", Pim hanya bergumam mendengar ucapan Anita tetapi dia mulai mengerti arah dari pembicaraan kekasihnya itu.
"Aku tahu dan tahu betul bahwa Tungga akan menolak mati-matian perjodohannya dengan Daniel Marco", ucap Anita.
Anita mengusap wajahnya dengan kedua matanya lalu melanjutkan kembali ucapannya.
"Dan tidak mungkin jika Wijaya akan menerima penolakan dari Tungga, puterinya, akan perjodohan yang telah dia rencanakan dengan rapi itu akan mudah berakhir dengan mudah", ucap Anita.
"Maksudmu... Wijaya tidak akan segan-segan untuk melakukan apapun agar keinginannya terkabul meski dia tahu Tungga adalah puteri kandungnya dan dia akan memaksanya", sahut Pim.
"Mungkin saja, Pim", jawab Anita.
Anita kembali mengusap wajahnya dan mencoba menenangkan pikirannya yang terfokus pada Tribuana Tungga Dewi.
"Tuhan ! Bagaimana seorang ayah akan tega terhadap puteri kandungnya hanya untuk memenuhi keinginannya !?", sahut Pim.
Pim membelalakkan kedua matanya hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar tentang sosok Mahatir Wijaya.
"Dia, ayahnya ! Dan bagaimana mungkin dia membawa puterinya dalam sebuah masalah besar !? Itu sulit dipercaya !?", ucap Pim.
"Itulah Wijaya yang sebenarnya dan tidaklah mungkin dia mengambil keputusan yang berbahaya", jawab Anita.
"Tuhan... Apakah kekuasaan melebihi hati nurani ?", ucap Pim.
__ADS_1
"Kekuatan itu yang diinginkan Wijaya yang seorang pimpinan mafia besar dan tidaklah hal itu wajar dalam pertarungan dunia mafia, Pim", jawab Anita.
Pim berdecak keras kemudian membanting setirnya cepat ke arah jalan menuju sebuah area rumah berasitektur eropa.