
Ardi dan Nora mempunyai anak berusia 5 tahun yang bernama Aldi. pernikahan mereka sangat harmonis tanpa masalah yang berarti.
Berbanding terbalik dengan sahabatnya, Rini, yang sebelumnya pernah dijodohkan dengan Ardi. Mereka sama-sama menolak karena sudah punya pasangan masing-masing.
Hingga kini Rini belum juga mendapat restu dari orangtuanya untuk menikah dengan pria pilihannya. Alasannya karena pria itu tidak sepadan dengan keluarga Rini.
"Rini, bagaimana hubunganmu dengan Rudi? Apa ada kemajuan?" tanya Nora sang sahabat.
"Masih sama seperti kemarin," ucap Rini lesu sambil tetap bermain dengan Aldi, anak Nora.
"Lalu apa rencana mu selanjutnya?" tanya Nora lagi.
"Kalau mama tetap tidak merestui hubunganku dengan mas Rudi, aku akan pergi dari rumah saja dan hidup bersama mas Rudi," ucap Rini.
"Jangan nekat, Rin, coba bicara lagi dengan namamu. Siapa tau masih ada jalan keluar," nasehat Nora.
"Entahlah, mama tetap saja ingin menjodohkan ke dengan anak rekan bisnisnya. Padahal aku sudah menolaknya," ucap Rini.
"Sabar saja, semoga nanti mama mu bisa berubah."
"Aku juga berharap seperti itu. Aku juga ingin punya anak yang lucu seperti Aldi. Semoga nanti mereka berteman baik," ucap Rini.
Rini sudah sangat dekat dengan Aldi, karena Rini sering berkunjung. Rini sangat rindu bila tidak bertemu dengan Aldi kecil.
Mama Diana yang melihat dan mendengar obrolan Rini dan Nora merasa sedih. Mama Diana sangat menyayangkan sikap sahabatnya yang egois itu.
"Ayo makan siang dulu, nanti dilanjut lagi ngobrolnya," ucap mama Diana, mertua Nora.
"Iya Ma, ayo Rin kita makan dulu. Aku sudah lapar ini," ajak Nora.
Lalu mereka makan bertiga, sedangkan Aldi dijaga oleh pengasuhnya.
"Rini, sering-seringlah kesini temani Nora. Karena besok Tante akan pergi bersama om ke luar kota," ucap mertua Nora.
"Iya Tante, aku akan sering kesini."
Sore harinya Rini pulang ke rumahnya, sebenarnya dia malas pulang ke rumah. Karena mamanya selalu menekannya untuk menikah dengan pria pilihannya.
Dan benar saja, saat Rini baru menginjakkan kaki di rumah, terlihat mama dan papanya sendang berbicara dengan seorang pria.
"Nah, itu dia Rini sudah pulang. Sini sayang, Hendra sudah lama loh nunggu kamu," panggil Marina, mama Rini.
Dengan malas Rini duduk di samping mamanya.
"Rin, kamu dari mana?" tanya Hendra.
"Dari rumah temen," jawab Rini malas.
"Ya sudah kalian ngobrol saja, Tante dan om masih ada pekerjaan," ucap Marina.
Lalu orang tua Rini meninggalkan Rini dan Hendra di ruang tamu.
"Rin, nanti malam kita jalan yuk, ada kafe yang baru buka loh, pasti banyak diskon di sana," ajak Hendra.
__ADS_1
"Maaf aku lelah sekali, aku ingin istirahat. Lalu tidak ada keperluan lagi sebaiknya kamu pulang," usir Rini tanpa basa-basi.
"Kamu ngusir aku? Aku bisa adukan kekakuan mu ini pada tante Marina," ancam Hendra.
"Terserah kamu saja," ucap Rini lalu meninggalkan Hendra yang sedang menahan amarah.
Tak lama pintu kamar Rini dibuka kasar oleh mamanya.
"Rini, jangan keterlaluan pada Hendra. Dia adalah calon suami mu!" ucap Marina emosi.
"Ma, aku tidak ingin menikah dengan Hendra. Dia itu sangat pelit dan tidak bertanggungjawab," ucap Rini.
"Tidak usah mencari alasan, dia itu pria yang baik. Kamu pasti akan bahagia bila hidup dengannya," ucap Marina.
"Aku tidak mau Ma, aku sudah punya pilihan sendiri," ucap Rini.
"Siapa? pria miskin itu? Kamu akan menderita bila hidup dengan. Dia tidak akan bisa memberimu apa-apa," ucap Marina.
"Cukup Ma, aku mencintai mas Rudi begitu juga sebaliknya. Dia akan melakukan apa saja untuk ku," ucap Rini.
"Omong kosong, Mama tidak mau tau. Bulan depan kamu akan bertunangan dengan Hendra, dan satu bulan kemudian kalian akan menikah," ucap Marina lalu pergi meninggalkan Rini.
"Kenapa hidupku jadi seperti ini?" lirih Rini di sela isak tangisnya.
***
Sudah satu Minggu ini ruang gerak Rini jadi tidak bebas, kemanapun dia pergi pasti ada orang-orang ayahnya yang mengikutinya.
Karena itu Rini tidak bisa bertemu dengan Rudi, kekasihnya. Bahkan ponsel pun disadap.
Hingga Rini yang tidak tahan lagi dengan keadaan ini, membuat rencana untuk kabur bersama Rudi.
"Rin, apa kamu yakin? Apa kamu tidak kasihan pada mama mu?" tanya Nora.
"Mereka juga tidak kasihan padaku, jadi untuk apa aku kasihan pada mereka?" jawab Rini.
"Tapi kalian akan pergi kemana?" tanya Nora lagi.
"Aku punya saudara di kampung, jadi untuk sementara kami akan ke sana," jawab Rudi. lagian Rudi tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini semenjak ibunya meninggal satu bulan lalu.
"Apa kalian sudah menyiapkan semuanya?" tanya Nora.
"Aku tidak akan membawa apa-apa, bahkan aku meninggalkan ponselku karena sudah di sadap," ucap Rini sedih.
"Apa kalian akan pergi hari ini juga?"
"Iya, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku sudah seperti tawanan di rumahku sendiri," ucap Rini. Bahkan sedari kecil hidup Rini selalu diatur oleh orangtuanya.
"Baiklah, bawalah beberapa bajuku. Tidak mungkin kan kamu tidak membawa baju ganti sama sekali?" ucap Nora.
"Terimakasih ya," ucap Rini lalu memeluk sahabat baiknya itu.
"Aku dan Aldi pasti akan sangat merindukanmu," ucap Nora.
__ADS_1
"Aku juga. Aldi, Tante pergi dulu ya. Kamu jangan nakal," ucap Rini sambil memeluk Aldi.
"Iya Tante, becok Tante kecini lagi kan?" tanya Aldi dengan polos.
"Iya sayang," ucap Rini menyeka air matanya.
"Lalu bagaimana caranya kalian pergi dari sini? Kan ada pengawal mu di depan sana," ucap Nora.
Apa tidak ada jalan di belakang?" tanya Rudi.
"Ada, tapi aku tidak tau jalan dibelakang menuju kemana," jawab Nora
"Baiklah kita lewat sana saja, terimakasih ya atas semua bantuan mu," ucap Rini sekali lagi memeluk Nora.
"Hati-hati ya, jaga diri baik-baik. Jangan lupa kabari aku," ucap Nora.
"Iya, aku pamit ya."
Lalu Rini dan Rudi berjalan menuju pintu belakang. Sedangkan di depan Diana bingung melihat ada dua orang berbaju hitam berdiri di gerbang rumahnya.
"Kalian ini siapa? Kenapa berdiri disini?" tanya suami Diana.
"Maaf, kami sedang menunggu nona Rini yang ada didalam," jawab pria tersebut.
Lalu Diana dan suaminya segera masuk kedalam dan menanyakan kenapa ada orang-orang tersebut.
"Nora, apa ada Rini di sini?" tanya Diana.
"Dia sudah pergi Ma," jawab Nora.
"Pergi kemana?"
"Eh, sudah pulang maksudnya," ucap Nora menyadari kesalahannya.
"Tapi kenapa pengawalnya masih ada didepan?" tanya Diana menatap curiga pada menantunya.
"Aku tidak tau Ma."
Sedangkan di tempat lain terlihat Marina yang menahan amarah melihat Hendra yang sedang bermesraan dengan wanita lain. Calon menantu yang dibanggakannya sedang berjalan mesra dengan wanita dan memasuki kamar hotel.
"Kurang ajar, ternyata dia mau menipuku. Tidak akan aku biarkan!"
Lalu Marina berjalan menuju kamar yang dimasuki oleh Hendra. Lalu dengan kasar dia mengetuk pintu tanpa jeda.
"Kenapa menganggu saja?!" teriak Hendra setelah membuka pintu.
"Tante, sedang apa Tante disini?" tanya Hendra yang terkejut melihat kedatangan Marina.
"Siapa sih sayang? Mengganggu saja!" ucap wanita yang hanya berbalut handuk berdiri di belakang Hendra.
Plakkk... Seketika wajah Hendra menoleh kesamping akibat tamparan Marina.
"Dasar bajingan! Jangan pernah menampakkan dirimu di hadapanku lagi! Dan jauhi putriku!" ucap Marina lalu pergi tanpa mendengarkan panggilan dari Hendra.
__ADS_1
"Rini, maafkan Mama. Hampir saja Mama menyerahkan mu pada orang yang salah," gumam Marina menyesal.