
Setelah Lina pergi, Nabila memutuskan untuk berbaring sejenak, dia merasa lelah dengan keadaan yang menimpanya hari ini. Tak butuh waktu lama akhirnya tertidur, kerena badannya juga lelah setelah dikejar pria tadi.
"Lina, kenapa kamu dipanggil mbak Meta? Kamu dapat bonus ya?" tanya Doris, si pria gemulai yang centil dan jahil.
"Nggak ya, tadi aku disuruh ngantar anak baru ke kamar belakang."
"What? Ada anak baru? Cewek apa cowok?" tanya Doris dengan semangat.
"Cewek, namanya Nabila. Kasian deh, kayaknya dia lagi sedih banget," cerita Lina.
"Sedih kenapa? Cantik nggak orangnya?" tanya Yudi, si cowok normal yang disukai oleh Doris.
"Heh, nggak usah ganjen. Kamu nggak peka banget ama perasaanku" ucap Doris.
"Emang kamu punya perasaan?" cibir Yudi yang langsung mendapat jeweran di telinganya ulah Doris.
"Kamu ya!"
"Heh, kenapa kalian selalu ribut sih? Berisik tau, bisa mengganggu ketenangan pelanggan, PAHAM!" omel Rani yang baru datang dari depan.
"Tau tuh," gerutu Lina.
"Gimana aku nggak sebel kalau Yudi nanyain cewek lain, aku kan cemburu," ucap Doris.
"Huek, najis aku sama makhluk jadi-jadian kayak kamu."
"Ih, Yudi jahat. Sebel aku," ucap Doris meninggalkan mereka.
"Cewek mana lagi sih Yudi yang bikin princess kita patah hati?" ledek Rani.
"Itu, tadi kata Lina ada anak baru, yang sekarang ada di kamar belakang."
"Beneran Lin ada anak baru?"
"Iya, tadi aku yang ngantar kok," ucap Lina sambil menata pesanan pelanggan ke dalam nampan.
"Oh, syukur deh ada tambahan tenaga. Jadi kita nggak kewalahan saat kafe lagi ramai," ucap Rani.
Tak lama Doris datang dengan catatan pesanan.
"Sayangku, cepat siapkan pesanan ini ya. Orangnya udah nunggu," ucap Doris pada Yudi yang memang seorang koki di kafe itu.
"Ih, amit-amit," ucap Yudi bergidik saat mendengar panggilan sayang dari Doris.
Lalu Lina pun datang setelah mengantarkan pesanan pelanggan.
"Lina, itu anak baru sudah kamu kasih makan apa belum?" tanya Rani yang juga sibuk menyiapkan makanan, Rani juga bisa memasak bila dibutuhkan. Jadi selain jadi pelayan, dia juga bisa jadi koki.
"Oh iya belum, ya udah aku siapin dulu," lalu Lina menyiapkan makanan untuk Nabila sebelum jam sibuk. Karena biasanya di jam setengah tujuh malam biasanya kafe mulai ramai pengunjung.
Sedangkan Nabila yang sudah selesai mandi merasa badannya lebih segar, setelah tidur beberapa saat.
"Tok...Tok...Tok!"
"Nabila!"
__ADS_1
"Iya," jawab Nabila sambil membuka pintu.
"Ini ,makanlah dulu kamu pasti belum makan kan?"
"Eh iya, terimakasih ya Lina. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot mengantarkan makanan."
"Nggak apa-apa, kamu pasti malu kalau disuruh ke dapur. Ya sudah ya aku ke depan dulu, biasanya bentar lagi kafe bakalan ramai."
"Iya, terimakasih ya. Eh Lina boleh nggak kalau setelah ini aku bantu-bantu di kafe?"
"Apa kamu nggak capek? Kalau masih capek istirahat saja dulu."
"Nggak kok, aku malah bosan kalau di kamar terus."
"Ya sudah, terserah kamu saja. Aku tinggal dulu ya."
"Iya."
Lalu Nabila segera makan, karena memang dia merasa lapar, dari siang dia belum makan. Setelah selesai makan, Nabila membawa piring kotornya ke depan. Dan benar saja, kafe mulai terlihat ramai.
Para pekerja pun terlihat bolak balik mengantar pesanan pelanggan.
"Apa aku boleh membantu?" tanya Nabila dan membuat Yudi, Rani dan Doris melongo melihat Nabila.
"Eh, Nabila, kamu sudah selesai makan?" tanya Lina.
"Sudah. Apa boleh aku membantu kalian?"
"Boleh, apa kamu bisa?" tanya Rani.
"Ya sudah terserah kamu saja."
Lalu dengan cekatan Nabila membersihkan meja yang baru ditinggalkan oleh pelanggan. Setelah selesai Nabila segera mencuci piring dan gelas yang kotor.
Mereka belum sempat berkenalan karena begitu Nabila datang kafe dalam keadaan ramai, sehingga Nabila langsung bantu-bantu tanpa sempat mengenalkan diri terlebih dulu.
Kedatangan Nabila sangat membantu mereka, karena sebelumnya mereka sedikit kewalahan saat jam-jam tertentu.
Saat hari beranjak malam, kafe mulai terlihat lengang, hanya ada beberapa pengunjung yang masih terlihat.
"Untung saja ada Nabila yang bantu kita, kalau nggak mungkin kita akan kalang kabut hari ini," ucap Lina.
"Eh, iya saking sibuknya kita belum kenalan. Kenalin aku Rani."
"Aku Doris, si cantik dan baik hati."
"Hai, Aku Yudi."
"Halo semuanya, kenalin nama aku Nabila."
"Sebenarnya ada teman kita satu lagi, tapi dia lagi sakit. Namanya Ani," ucap Doris.
"Kamu sudah lama ya kerja di restoran. Kok cara kerja kamu cekatan banget," tanya Rani.
"Aku hampir 3 bulan kerja di restoran."
__ADS_1
"Terus kenapa kamu bisa dipecat?" tanya Lina.
"Ceritanya panjang, tapi yang jelas bukan masalah kriminal. Jadi kalian nggak usah khawatir," ucap Nabila dengan nada sedih.
"Bukan begitu maksud aku, aku cuma heran saja saat melihat cara kerja kamu tapi kok malah dipecat."
"Sebenarnya aku memang berencana untuk keluar dari restoran itu, tapi aku masih mencari tempat dimana aku harus tinggal. Tapi entah kenapa sepertinya ada yang sengaja membuat aku keluar lebih cepat."
"Kenapa kamu mau keluar, apa ada masalah?" tanya Doris.
"Maaf, aku belum bisa bercerita sekarang," ucap Nabila yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Ya sudah tidak apa-apa kok," ucap Doris merasa tidak enak.
"Maaf karena sudah sepi bolehkah aku kembali ke kamar?"
"Iya silahkan, lagian kan sebenarnya kamu belum mulai bekerja" ucap Lina.
"Mau aku antar?" tanya Doris.
"Tidak usah, terimakasih. Aku permisi dulu."
Nabila cepat-cepat pergi dari kafe karena dia sudah tidak tahan ingin menumpahkan air matanya. Sementara Lina, Rani, Doris,dan Yudi hanya diam saja.
"Sepertinya dia sangat sedih. Mungkin ini masalah hati," ujar Doris, lalu pria kemayu itu bergegas melayani pelanggan yang baru saja datang.
Sedangkan dikamar Nabila menumpahkan segala rasa sedihnya yang sudah dari tadi dia tahan. Nabila teringat dengan Aditya, lelaki yang beberapa bulan ini mengisi kekosongan hatinya, dan memberikan perhatian yang belum pernah dia rasakan selain dari mendiang orangtuanya.
"Ayah, ibu, Nabila kangen. Kenapa kalian ninggalin Nabila sendirian? kenapa kalian tidak membawa Nabila bersama kalian?" raung Nabila.
Setelah lelah menangis Nabila akhirnya tertidur, sedangkan Aditya saat ini juga merasa gelisah. Entah kenapa sejak pagi perasaanya tidak tenang.
Aditya teringat dengan Nabila, dia ingin menghubungi Nabila, tapi ponselnya hilang entah kemana? Yang membuatnya tambah khawatir adalah visa dan paspornya juga hilang. Aditya akan kesulitan bila ingin kembali ke Indonesia.
"Adi, kenapa kamu belum tidur?" tanya Vina saat baru sampai di Apartemen milik mamanya Aditya.
"Aku tidak bisa tidur. Bagaimana keadaan mama? Dan kenapa kamu pulang?"
"Tante Meri sudah lebih baik, dia sendiri yang menyuruh aku untuk pulang dan istirahat."
"Vin, apa kamu punya nomor telepon anak-anak di restoran?"
"Tidak ada, aku kan tidak begitu mengenal mereka."
"Tapi kamu kan kenal dengan Nabila, apa kamu tidak punya nomornya?"
"Aku tidak seakrab itu dengan Nabila. Seharusnya kamu lebih fokus pada kesembuhan Tante Meri, bukan malah sibuk memikirkan hal lain," lalu Vina segera meninggalkan Aditya, Vina merasa cemburu karena Aditya masih saja memikirkan Nabila.
Lalu Vina menghubungi seseorang,
"Bagaimana pekerjaan kalian?" tanya Vina dengan seseorang di seberang telepon.
"Beres, tapi perempuan itu lolos. Kita tidak sempat memberinya pelajaran."
"Baiklah, yang penting dia sudah pergi dari restoran," lalu Vina mengakhiri panggilan dan segera berendam di bathtub untuk merilekskan tubuh dan pikirannya.
__ADS_1
sebenarnya Vina sangat lelah harus berpura-pura baik di depan Aditya. Tapi mau bagaimana lagi, demi rasa cintanya pada Aditya Vina akan melakukan apapun.