CINTA Yang Tak DIRESTUI

CINTA Yang Tak DIRESTUI
53 Kisah Masa Lalu 2


__ADS_3

Marina segera mencari putrinya saat baru sampai di rumah.


"Rini! Rini! Mbok, Rini kemana ya?" tanya Marina pada art nya.


"Tadi mbak Rini pergi Nyonya."


"Pergi kemana?"


"Maaf, saya kurang tau Nya."


"Ya sudah," ucap Marina lalu menghubungi pengawal yang ditugaskan untuk mengawasi Rini.


"Kalian dimana?" tanya Marina begitu telponnya terhubung.


"Kami sedang di rumah nyonya Diana,"


"Minta Rini untuk segera pulang."


"Baik Nyonya."


Setelah sambungan telepon terputus, salah satu pengawal segera memencet bel rumah Diana. Dan kebetulan Diana juga akan keluar untuk menemui pengawal tersebut.


"Maaf Nyonya, kami diminta untuk membela non Rini pulang," ucap pengawal tersebut.


"Loh, tapi kata menantu saya Rini sudah pulang," ucap Diana bingung.


"Tapi non Rini belum keluar dari rumah ini Nyonya."


"Tapi Rini tidak ada di dalam," ucap Diana lagi.


"Benarkah Nyonya? Bisa gawat, bagaimana ini?" pengawal itupun panik dan segera menghubungi majikannya.


"Maaf Nyonya, nona Rini tidak ada di rumah Nyonya Diana," lapornya pada Marina.


"Apa?! Bagaimana bisa? Bukanya kalian selalu mengawasinya? Sebenarnya apa yang kalian kerjakan?" teriak Marina.


"Maaf Nyonya."


"Cari dia sampai ketemu!" ucap Marina lalu mematikan sambungan telepon.


Marina ganti menghubungi Diana untuk memastikan apa yang terjadi.


"Iya Marina," sahut Diana saat telpon tersambung.


"Diana, sebenarnya kemana Rini? Tadi katanya dia berkunjung ke rumahmu?" tanya Marina.


"Aku juga tidak tau pasti, karena aku baru sampai dari luar kota. Saat aku pulang ada pengawal di depan, tapi kata menantuku Rini sudah pulang," jawab Diana.


"Ya sudah kalau begitu aku tutup telponnya ya, terimakasih," ucap Marina.


Lalu Diana segera masuk kedalam untuk bertanya pada menantunya, dia merasa ada yang tidak beres disini.


"Nora, coba ceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Dimana Rini?" tanya Diana.


"Aku juga tidak tau Ma," jawab Nora gugup.

__ADS_1


"Kamu pasti tau sesuatu, tolong ceritakan pada Mama. Mama janji tidak akan memberitahu siapapun," ucap Diana.


Akhirnya dengan ragu-ragu Nora menceritakan semuanya pada mertuanya. Nora tida berani membohongi mertuanya yang sudah sangat baik padanya.


Diana hanya menghela nafas setelah mendengar cerita dari Nora.


"Dari dulu Marina memang egois, mungkin ini sudah waktunya dia menerima hasil dari keegoisan nya," ucap Diana.


"Mama tidak marah padaku?" tanya Nora yang khawatir akan mendapat masalah dengan mertuanya.


"Tidak, untuk apa aku marah padamu? Ini semua keinginan Rini sendiri kan?" tanya Diana.


"Iya Ma," jawab Nora.


"Ya sudah biarkan saja, kita tidak perlu ikut campur urusan mereka. Mama mau istirahat dulu ya," pamit Diana karena dia baru pulang dari luar kota.


***


Marina sangat cemas memikirkan putri semata wayangnya. Karena sampai malam hari dia tidak mendapatkan kabar sama sekali, bahkan suaminya tidak mengangkat telpon darinya.


"Rini, maafkan Mama. Pulanglah nak, mama janji tidak akan memaksakan kehendak mama lagi," ucap Marina sambil menangis meraung.


Tapi semua sudah terlambat, menyesal pun tidak ada gunanya. Sekarang Rini sudah pergi jauh dari kehidupannya.


Marina tidak bisa tidur hingga tengah malam, dia begitu cemas memikirkan suaminya yang sampai saat ini belum memberi kabar. Bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi. Padahal Marina ingin menanyakan apakah suaminya sudah menemukan putrinya atau belum.


Hingga pagi hari suaminya belum juga pulang. Marina bertambah khawatir karena supir dan pengawal yang bersama suaminya juga tidak bisa dihubungi.


Saat jam menunjukkan pukul 8 pagi terdengar bel rumah berbunyi. Marina segera berlari menunju pintu tapi art sudah dulu membuka pintu.


"Maaf apa benar ini rumah saudara Beni Pramana?" tanya polisi.


"Iya benar Pak, kenapa dengan suami saya?" tanya Marina yang pikirannya sudah cemas.


"Saudara Beni mengalami kecelakaan tadi malam, dan sekarang dirawat di rumah sakit harapan," ucap polisi itu lagi.


"Apa? Lalu bagaimana keadaan suami saya Pak?" tanya Marina panik.


"Lebih baik ibu segera datang ke rumah sakit karena kondisinya cukup parah. Mobil yang dikendarainya ringsek. Kalau begitu kami permisi," pamit kedua polisi tersebut.


Marina terdiam untuk sesaat, tapi dia harus kuat. Lalu Marina segera berlari ke kamar untuk mencari tas dan ponselnya. Lalu Marina bergegas menuju rumah sakit.


Saat sampai di rumah sakit, Marina segera berlari menuju resepsionis untuk bertanya dimana suaminya. Lalu dia diarahkan menuju ICU.


Saat Marian baru saja sampai terlihat dokter dan perawat berlari menuju ruang dimana suaminya dirawat.


"Suster! Suster ada apa? Apa yang terjadi dengan suami saya?" tanya Marina ketakutan.


"Maaf Bu, kami harus segera menangani pasien," lalu perawat menutup pintu ruangan tersebut.


Marina hanya bisa menangis sendirian didepan ICU tanpa tau bagaimana kondisi suaminya.


Setelah beberapa saat dokter keluar dengan wajah lesu. Dan Marina segera menghampirinya.


"Dokter, bagaimana suami saya?" tanya Marina.

__ADS_1


"Maaf Bu, kami sudah berusaha semampu kami. Tapi Tuhan berkehendak lain," ucap sang dokter.


"Apa maksud dokter? Suami saya baik-baik saja kan? Katakan suami saya baik-baik saja!" teriak Marina histeris. Dan seorang perawat menenangkan Marina karena Marina hanya sendiri.


Setelah beberapa jam terdengar sirine ambulance yang menuju kediaman Marina. Bunga ucapan belasungkawa sudah berjejer rapi di sepanjang jalan menuju rumah Marina.


Diana segera memeluk sahabatnya yang sangat terpukul karena kehilangan suaminya. Belum lagi Putrinya yang tidak ada kabar.


***


Satu Minggu berlalu, tapi Marina masih saja berduka.


"Maaf Mbak aku baru bisa datang karena aku baru mendapat kabar duka ini," ucap adik ipar Marina.


"Iya tidak apa-apa, aku mengerti," ucap Marina.


Adik iparnya yang bernama Joni tinggal di kampung yang sangat susah sinyal. Hubungan mereka juga tidak terlalu baik karena Joni memilih hidup sederhana dengan istrinya.


"Oh iya, beberapa hari yang lalu Rini datang ke rumahku," ucap Joni.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Marina.


"Aku tidak tau, dia hanya datang dan minta dinikahkan dengan pria pilihannya. Rini juga sudah menceritakan semuanya padaku," ucap Joni yang juga kurang suka dengan Marina yang egois. Lalu Joni pergi meninggalkan Marina sendiri.


Marina hanya tertunduk menyesali semua perbuatannya. Karena keegoisannya dia harus kehilangan anak dan suaminya.


Tak lama Diana datang menyapa Mariana. Diana selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi sahabatnya itu, dan berusaha menghibur Marina.


"Marina, apa kabar?" sapa Diana.


"Masih sama seperti kemarin, selamanya aku akan hidup dalam penyesalan dan sendirian," ucap Marian dengan tatapan kosong.


"Sabarlah, kamu jangan putus asa. Pasti Rini akan kembali lagi," hibur Diana.


"Itu tidak mungkin, karena kesalahanku sudah sangat fatal. Mungkin dengan pergi dariku dia akan lebih bahagia," ucap Marina mengingat kelakuan Hendra, calon menantu idamannya.


Marina tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau Rini jadi menikah dengan Hendra.


"Jangan bicara seperti itu, mungkin saat ini dia hanya emosi saja."


"Dia sudah menikah dengan pria itu," ucap Marina lirih.


"Bagaimana bisa? Kamu tau dari siapa?" tanya Diana kaget.


"Adik ipar ku yang menikahkanya. Diana aku mohon, bila suatu saat nanti kamu bertemu dengan Rini sampaikan permintaan maaf ku padanya," ucap Marina yang sudah putus asa.


***


"Begitulah kisah ibumu yang Oma tau, tapi kehidupannya setelah menikah sampai sekarang Oma sama sekali tidak tau," ucap Oma Diana.


"Lalu dimana nenekku?" tanya Nabila menghentikan tangisnya.


"Nenekmu meninggal lima tahun yang lalu," ucap Oma.


"Jadi aku benar-benar sebatang kara?"

__ADS_1


__ADS_2