
Saat Nabila pulang ternyata Rima sudah tidur, padahal Nabila membawakan oleh-oleh untuk sahabatnya itu. Karena hari sudah malam akhirnya Nabila tidur juga.
Pagi harinya Rima bangun lebih dulu, dan membereskan sisa barangnya yang sebagian sudah dipacking sejak semalam.
"Rima, kenapa kamu membereskan barang-barang kamu? Kamu sudah nggak betah ya sekamar sama aku?" tanya Nabila yang baru bangun.
"Bukan begitu Bila, hari ini aku akan pulang kampung."
"Loh, kok mendadak begitu? Terus berapa lama kamu pulang kampung nya?"
"Aku akan menetap di kampung Bil, aku harus merawat orangtuaku dan adik-adik ku," ucap Rima.
"Jadi kamu nggak akan kembali lagi?" tanya Nabila dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, maaf ya kalau selama ini aku ada salah sama kamu," ucap Rima.
"Kenapa kamu tega ninggalin aku Rima? Aku pasti kesepian kalau nggak ada kamu."
"Kan sekarang ada mas Aditya yang akan selalu jagain kamu."
"Ya beda lah Rima."
"Sudah jangan nangis, kan kapan-kapan kita bisa ketemu lagi. Sudah sana cepetan mandi, nanti kamu terlambat loh!"
Lalu Nabila dengan gontai menuju kamar mandi. Dia sangat sedih karena harus kehilangan sahabatnya yang selama ini selalu baik padanya.
Sedangkan di lain waktu, Dino juga sudah berencana akan mengundurkan diri, karena tidak tahan bila harus melihat kemesraan Nabila dan Aditya setiap hari.
Rima benar-benar tidak berpamitan dengan teman kerjanya yang lain, dia bahkan tidak sanggup untuk melihat Dino. Setelah pamit pada Nabila, Rima segera pergi sebelum ada teman lainnya yang tau tentang kepergiannya, terutama Dino.
Nabila tidak bersemangat hari ini saat pergi ke restoran tempat dia bekerja. Saat baru masuk dia berpapasan dengan Dino yang juga baru datang.
"Kok sendirian aja, Bila? Rima mana? Tumben nggak bareng?" tanya Dino dengan bertubi-tubi.
"Rima pulang kampung dan nggak akan balik lagi, ini semua pasti karena Kak Dino yang nggak peka," gerutu Nabila.
"Loh, kok jadi aku yang disalahkan? Emangnya aku ngapain?"
"Rima itu suka sama Kak Dino, masa Kak Dino nggak ngerasa kalau perhatian Rima selama ini berbeda sama Kak Dino?" Lalu Nabila meninggalkan Dino yang diam mematung mendengar penuturan Nabila barusan.
Nabila yang geram pada Dino hanya menghembuskan nafasnya kasar.
"Dasar cowok nggak peka. Kalau sudah jauh aja baru menyesal nantinya." gerutu Nabila
"Kenapa sih sayang pagi pagi udah marah-marah?" ucap Aditya yang baru datang.
"Aku lagi sebel sama kak Dino, masa nggak peka sih kalau selama ini Rima itu suka sama kak Dino. Sekarang Rima pergi pasti gara-gara kak Dino."
__ADS_1
"Itu karena Dino mencintaimu Nabila," ucap Aditya dalam hati.
"Eh, kok Mas Adi sudah ada disini? Ini masih pagi loh Mas!"
"Memangnya ada larangan untuk aku berangkat pagi?"
"Nggak juga sih. Tapi tumben mas Adi sudah ada disini sepagi ini."
"Karena aku mau ketemu kamu dulu. Aku kangen sama kamu sayang."
"Mas, kan aku udah bilang kalau jam kerja harus profesional. Udah ah aku mau kerja," ucap Nabila hendak meninggalkan Aditya. Tapi dengan cepat Aditya menahan tangan Nabila
"Tunggu sebentar, aku belum selesai bicara. Aku mau ngenalin kamu sama mama aku."
"Hah, secepat ini? Tapi aku belum siap mas!"
"Kenapa belum siap? Kan cuma kenalan saja, nggak langsung nikah. Kalau kamu mau langsung nikah juga nggak apa-apa."
"Nanti lah mas aku pikir-pikir dulu. Ya sudah aku mau beres-beres di depan," Lalu Nabila segera meninggalkan Aditya untuk menghindari obrolan yang semakin serius.
Sedangkan Dino merenungkan apa yang dikatakan oleh Nabila. Kalau benar apa yang dikatakan Nabila, Dino sangat menyesal karena dia Rima harus keluar dari pekerjaannya. Dino semakin mantap untuk keluar dari pekerjaannya juga.
Saat jam makan siang Dino menemui Aditya.
"Mas, aku mau bicara sesuatu," ucap Dino saat sudah duduk dihadapan Aditya.
"Aku mau keluar dari restoran ini."
"Kenapa begitu tiba-tiba? Apa karena aku dan Nabila?"
"Bukan karena itu mas,aku ditawari kerja sama dengan kakak ipar aku untuk mengelola bengkel nya yang baru buka cabang di luar kota."
"Beneran? Atau itu hanya alasanmu saja?"
"Saya tidak bohong mas, kalau mas Aditya tidak percaya saya bisa telpon kakak ipar saya sekarang."
Sebenarnya Dino tidak ditawari pekerjaan oleh kakak iparnya, tapi memang Dino yang meminta pekerjaan pada kakak iparnya.
"Ya sudah, tapi tunggu sampai kita dapat pengganti kamu dulu ya. Karena Rima juga baru saja keluar. Kalau kamu langsung keluar restoran akan kekurangan pegawai."
"Nggak usah khawatir mas, aku sudah ada teman yang mau menggantikan aku. Sebelumnya dia bekerja di rumah makan Padang, pasti sistem kerjanya tidak jauh beda dengan restoran ini."
"Baiklah kapan dia bisa kesini?"
"Hari ini juga bisa mas, karena memang dia sudah menunggu pekerjaan ini."
"Kalau begitu suruh dia datang secepatnya!"
__ADS_1
"Baik mas, kalau begitu saya permisi dulu."
Lalu Dino meninggalkan ruangan Aditya dengan perasaan lega, karena sebentar lagi dia akan pergi dari restoran ini. Dia tidak akan melihat Nabila dan Aditya setiap hari.
Sedangkan Aditya mendapat telepon kalau Vina sedang menunggunya di bawah.
"Katakan kalau aku sedang sibuk, dan tidak bisa diganggu," ucap Aditya lalu memutuskan sambungan telepon.
"Maaf mbak, mas Aditya tidak bisa diganggu karena beliau sedang sibuk."
"Baiklah aku mau pesan makan siang saja."
"Silahkan mbak."
Lalu Vina mencari tempat duduk, dia berniat untuk mencari tau siapa perempuan semalam yang bersama Aditya. Karena Vina yakin perempuan itu salah satu pelayan di restoran ini.
Tak lama dia melihat perempuan yang dia cari sedang membawa makanan dan menuju lantai atas dengan wajah berbinar.
Lalu pesanan Vina datang.
"Silahkan dinikmati," ucap pelayan.
"Maaf, boleh saya tanya sebentar?"
"Boleh, mau tanya apa mbak?"
"Siapa pelayan yang baru saja naik ke lantai atas?"
"Oh, itu namanya Nabila mbak, memangnya kenapa ya?"
"Ada hubungan apa antara dia dan Aditya?"
"Mereka pacaran mbak, nggak tau deh kenapa mas Aditya bisa kepincut dengan cewek kayak gitu.," ucap Mela.
"Oh ya sudah, ini tips buat kamu. Bolehkah aku minta nomor hp kamu?"
"Boleh banget mbak, ini nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi saja." ucap Mela begitu senang karena dapat uang dan ada jalan untuk membalas rasa sakit hatinya pada Nabila, karena dia yakin kalau perempuan di depannya ini juga tidak suka pada Nabila.
Sedangkan di ruangan atas, Aditya sedang makan siang bersama Nabila. Awalnya Nabila menolak, tapi Aditya punya banyak cara untuk menahan Nabila agar mau makan siang bersamanya.
"Maaf mas, aku nggak bisa sering-sering makan siang bersama mas Adi seperti ini."
"Kenapa? Kamu nggak suka makan siang bersama ku?"
"Bukan begitu mas, aku nggak enak sama anak-anak lain."
"Kenapa merasa nggak enak? Aku bosnya di sini. Sudah tidak usah khawatir, habiskan makananmu.
__ADS_1
Nabila hanya menghela nafas, rasanya percuma kalau harus berdebat dengan Aditya.