CINTA Yang Tak DIRESTUI

CINTA Yang Tak DIRESTUI
Bab 12


__ADS_3

Anita tidak mampu menjawab pertanyaan dari Mahatir Wijaya tentang perjodohan antara Tribuwana Tungga Dewi dengan Daniel Marco.


Dia sedikit merasa bersalah akan masalah ini karena dirinyalah yang membuat Tribuwana tahu akan hal tersebut.


Pria berkepala plontos itu berdiri menatap tajam ke arah Anita hampir tidak berkedip.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan dari ku ?", tanya Mahatir Wijaya.


"Mmmm...", gumam Anita.


Tampak jelas jika Anita kebingungan harus menjawab pertanyaan itu.


Anita sedikit salah tingkah saat ayah angkatnya bertanya kepadanya.


"Apa kamu yang mengatakan kepada Tribuwana Tungga Dewi akan hal ini ?", lanjut ayah.


"Apakah dia datang kemari menanyakan hal itu ?", tanya Anita.


"Tidak... Dia kemari hanya berbicara akan kesepakatan untuk menendang Daniel Marco jauh-jauh dari hidupnya", jawab ayah.


"Ehm... Bukan salahku jika dia tahu hal itu karena aku hanya menyampaikan yang aku dengar padanya dan itu wajar, aku rasa, ayah...", sahut Anita.


"Seharusnya kamu memahami betul mana yang harus kamu sampaikan atau yang tidak perlu kamu utarakan padanya sehingga dia mengetahuinya langsung dari mulutku, Anita", ucap ayah.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk memperburuk keadaan di antara mereka, ayah", sahut Anita.


"Benarkah ?", tanya ayah.


Ayah menunjukkan ekspresi wajah yang sangat kecewa kepada Anita karena terlalu ikut campur dalam urusan Tribuwana Tungga Dewi.


"Karena kamulah hingga puteri ku itu kini urung menikah dan kamu tahu mengapa aku membuat perjodohan ini ???", ucap ayah sedikit kesal.


Anita terdiam dan hanya menundukkan kepalanya.


"Dia sudah berkepala empat dan belum menikah, Anita ! Dan aku ingin dia memiliki keturunan agar nantinya organisasi ini terus berlanjut", ucap ayah.


"Aku paham maksud ayah...", jawab Anita.


"Paham ? Apa yang kamu pahami ? Dalam pikiran kalian hanyalah ketidakadilan, itu bukan yang ada di kepala kalian ? Hah !?", ucap ayah.


Ayah sedikit meninggikan nada bicaranya dan menatap tajam ke arah Anita sambil membungkukkan badannya.


"Aku ingin garis keturunanku terus berlanjut agar aku bisa mati dengan tenang", ucap ayah.


"Ayah..., jangan bicara seperti itu...", sahut Anita.

__ADS_1


"Bagaimana aku tidak berbicara seperti itu ? Ini dunia yang kejam buat kami yang seorang mafia dan aku ingin memiliki penerus dari garis keturunanku", ucap ayah.


Ayah merentangkan kedua tangannya ke atas.


"Sewaktu-waktu aku mungkin bisa mati tanpa sebab yang jelas dan mungkin saja saat ini ada pihak musuh yang tengah memata-matai ku, nak !", sambung ayah.


Ayah berdecak keras lalu memandangi Anita yang berdiri di hadapannya.


"Jika kamu menyangkut pautkan ini semua dengan Tuhan maka aku akan menjelaskan padamu bagaimana aku hidup dan bagaimana caraku mencari uang", ucap ayah.


Anita bimbang ketika dia mendengar ucapan ayah angkatnya.


"Tidak ada yang membantu kita, Anita anakku... Tidak ada, nak...", lanjut ayah.


Anita membisu bersalah.


"Meski kita terus berdoa, tapi Dia...tidak akan memperdulikannya...", ucap ayah.


"Ayah... Tuhan selalu mendengar ucapan kita bahkan doa-doa kita... Cobalah ayah mengerti dan mengenal Tuhan...", sahut Anita sedih.


"Aku mengenal Tuhan sejak aku dilahirkan, Anita..., tapi kehidupan tidak pernah berpihak pada kita meski kita terus berdoa... sehingga memaksa ku terjun ke dunia mafia ini...", ucap ayah sendu.


"Tuhan akan membalas doa-doa mu ayah, entah nanti atau kapan kita tidak akan pernah tahu dimana dan bagaimana cara Tuhan membalas doa-doa mu ayah", sahut Anita.


"Aku tahu, nak...", jawab ayah.


"Aku hanya ingin anakku bisa lebih tegar menghadapi ujian hidup ini ketimbang diriku yang penuh lumpur dosa karena itulah aku selalu menuntut Tribuwana keras", ucap ayah.


Anita terhenyak mendengar ucapan ayah, ada rasa penyesalan telah mengkhianati kepercayaan Mahatir Wijaya karena lebih berpihak pada hubungan antara Tribuwana Tungga Dewi dengan Achmad Firdaus.


Mengenyampingkan hal yang lebih besar dan utama daripada hubungan antara Tribuwana Tungga Dewi dengan Achmad Firdaus, terutama perasaan ayah.


"Ayah, apakah ayah mengirim Tungga ke dermaga karena hal ini ?", tanya Anita.


Anita mencoba berhati-hati dengan sikap dan ucapannya sendiri.


"Yah..., aku terpaksa melakukannya tapi aku salah karena aku lupa akan bahayanya...", sahut ayah.


"Bahaya ? Maksud ayah ?", tanya Anita gamang.


Darah Anita terkesiap mendengar perkataan ayah angkatnya dan dalam pikirannya dia mulai berpikir macam-macam.


"Opium akan tiba di dermaga dalam satu malam dan malam ini adalah malam opium sampai di negara ini dari luar negeri, pihak anak buah kapal telah mengirimkan berita padaku", ucap ayah.


"A--apa ? Opium ?", tanya Anita kaget.

__ADS_1


Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri semua dan dia merasakan tubuhnya merinding ketika mendengar ucapan ayah.


"Iya, akan ada pengiriman opium secara besar-besaran atas pemesanan para petinggi negeri serta Don Juan, hanya saja kami harus bersikap lebih hati-hati karena Intel Belanda tengah menyelidikinya", sahut ayah.


"Astaga ! Tuhanku ! Ayah mengantarkan kematian kepada puteri kandung ayah sendiri !? Tungga bisa mati ayah ! Ini penyelundupan !", sahut Anita panik.


"Tidakkah ini sudah merupakan kebijakan dari Pak Opium?", tanya balik ayah.


"Bukan masalah tentang kebijakannya tapi keselamatan Tungga dipertaruhkan disini, ayah !", jawab Anita kesal.


Anita mengusap wajahnya berulangkali.


"Opiumpacht terbagi menjadi dua proposal besar dalam regi opium dan pak opium sedangkan Amfioensocetiest telah lama dihapuskan oleh Daendels, peraturan itu mengurangi produsen candu", sahut Anita.


"Apa pihak intelijen tengah menyelidikinya ?", tanya ayah.


"Tidak hanya tengah menyelidikinya tetapi mereka mulai membatasinya dan mengejar para penyelundup opium berskala internasional saat ini", sahut Anita.


"Ini permainan, Anita ! Dan setidaknya kita akan mendapatkan kesenangan dalam hal ini, nak, apa yang perlu kamu takutkan ?", kata ayah santai.


"Kesenangan akan nyawa Tungga ? Tidak akan ! Aku akan menghentikannya dan membawanya kembali pulang bersamaku, ayah !", sahut Anita.


"Anita !", ucap ayah dengan suara lantang.


Anita tidak menghiraukan panggilan Mahatir Wijaya dan terus berjalan menuruni anak-anak tangga beranda rumah besar milik ayah.


"Anita ! Kembali !", teriak ayah.


Anita masih terus berjalan dan telah berada di tengah-tengah halaman rumah.


Ayah menolehkan kepalanya ke arah anak buahnya.


"Cegah dia ! Dan pastikan kalian mengurungnya sampai opium sampai di tangan Tribuwana !", perintah ayah.


Kedua anak buah Mahatir Wijaya hanya menganggukkan kepalanya cepat dan segera mengambil tindakan.


Tanpa banyak bicara kedua pria bertubuh kekar itu berjalan menuruni teras rumah.


Melangkah cepat ke arah Anita.


"Apa ? Apa-apaan ini ? Lepaskan aku !!!", teriak Anita.


Ketika kedua anak buah Mahatir Wijaya memaksanya untuk ikut dengan mereka secara paksa.


"Ayah ! Apa maksud ini ?", teriak Anita.

__ADS_1


Ayah hanya berdiri terdiam tanpa bersuara dan mengisap kembali cerutu di tangannya saat melihat kedua anak buahnya menahan Anita.


__ADS_2