CINTA Yang Tak DIRESTUI

CINTA Yang Tak DIRESTUI
43 Rindu


__ADS_3

Nabila menghela nafas setelah mengetahui nasib Doris yang juga tidak beruntung. Nabila berpikir bahwa selama ini nasibnya adalah yang paling buruk, tapi ternyata masih banyak yang mengalami hal yang lebih buruk lagi.


"Tapi kamu harus menyimpan rahasia ini Bila, Doris akan marah jika aku menceritakan masa lalunya pada orang lain," ucap Lina.


"Iya, kamu tenan saja. Ya sudah ayo tidur ini sudah malam. Besok kita harus bekerja lagi."


Lalu Lina dan Nabila masuk dan menutup pintu balkon. Mereka harus tidur karena besok mereka akan bekerja kembali.


Sebenarnya Meta mengizinkan bila besok mereka akan libur dulu, tapi karena tidak enak jadi mereka sepakat untuk bekerja besok.


Pagi-pagi sekali Nabila dan teman-temannya meninggalkan hotel dan menuju ke kafe. Mereka diantar oleh Aldi dan Doni.


"Terimakasih ya Mas Aldi dan Mas Doni sudah mengantar kami," ucap Rani mewakili semua teman-temannya.


"Iya sama-sama, kalau begitu aku duluan ya," pamit Doni.


"Nabila, aku mau bicara sebentar," ucap Aldi.


"Iya iya, yang lagi kasmaran. Ya udah yuk kita masuk, dari pada jadi nyamuk disini," ucap Doris.


"Ada apa Mas?" tanya Nabila.


"Aku mau pamit sama kamu, besok aku akan berangkat ke luar negeri untuk mengurus pekerjaan di sana," ucap Aldi.


"Kenapa mendadak sekali?"


"Sebenarnya tidak mendadak, aku sudah mengatakan padamu sebelumnya."


"Kapan?"


"Waktu di pasar malam."


"Entahlah aku lupa. Kamu akan kembali lagi kan?"


"Tentu saja, karena aku tau ada yang menungguku di sini," ucap Aldi menggoda Nabila.


"Apa akan lama?"


"Kenapa? Kamu takut kangen ya?" goda Aldi.


"Nggak, siapa bilang."


"Baiklah, biar aku saja yang kangen. Aku akan pergi selama dua minggu. Tapi akan aku usahakan untuk pulang lebih cepat."


"Ya sudah, hati-hati. Aku masuk dulu ya, nggak enak sama yang lain."


"Iya, masuklah. Nanti malam aku akan ke sini lagi. Aku pergi dulu ya!" pamit Aldi.


"Iya, hati-hati di jalan."

__ADS_1


Setelah Aldi meninggalkan area kafe, Nabila masuk dan segera ganti baju seragam kafe. Lalu Nabila mengerjakan pekerjaannya dengan sesekali diledek oleh teman-temannya yang sudah mengetahui kedekatannya dengan Aldi.


Sementara Aldi yang kini duduk di kursi kerjanya, baru saja mendapat undangan pernikahan.


Di dalam undangan tertera nama Aditya dan Vina. Tapi sayang sekali acaranya minggu depan, dan saat itu pasti Aldi belum pulang dari luar negeri.


Aldi jadi memikirkan bagaimana kalau Nabila tau tentang pernikahan Aditya. Aldi belum punya keberanian untuk mempertemukan Aditya dan Nabila, selain tidak mau kehilangan Nabila, Aldi juga memikirkan perasaan Nabila nantinya.


Aldi tidak ingin melihat Nabila sedih karena Aditya. Ditengah lamunannya Aldi mendengar pintunya diketuk dari luar.


"Masuk!"


Lalu muncullah Rio dengan beberapa berkas ditangannya.


"Bos, hari ini kamu harus menyelesaikan pekerjaanmu sebelum keberangkatan mu besok," ucap Rio.


"Kenapa jadi kamu yang memberi perintah? Bukankah aku bos nya?"


"Iya aku tau, aku cuma mengingatkan."


***


"Adi, luangkan waktumu untuk mempersiapkan pernikahanmu," ucap mama Aditya.


"Mama saja yang urus, aku masih banyak pekerjaan. Atau minta seseorang untuk menyiapkan segalanya," ucap Aldi.


"Baiklah nanti akan Adi usahakan. sekarang Adi berangkat dulu Ma," ucap Aldi langsung meninggalkan mamanya


"Adi! Anak ini selalu saja tidak bisa diatur," gerutu mam Aditya.


"Mama, kenapa sih marah-marah terus?" tegur Mario.


"Kakak mu itu yang selalu membuat Mama emosi," gerutu sang Mama.


"Kenapa lagi Ma? Bukannya kak Adi selalu menuruti apa kata Mama."


"Itu dulu, sebelum wanita itu hadir di kehidupan Adi," ucap mama keceplosan.


"Wanita? Siapa Ma?"


"Sudahlah, Mama masih ada pekerjaan," ucap mama menghindari Mario yang penasaran.


Lalu Mama Aditya menghubungi Vina, calon menantunya. Setelah beberapa kali melakukan panggilan ternyata Vina tidak menjawab panggilan itu.


"Vina juga kemana sih? Masa sudah mau menikah masih sama-sama sibuk," gerutu mama Aditya.


Sedangkan Vina ternyata sedang berdebat dengan seorang pria di sebuah restoran.


"Vin, tolong pikirkan lagi Aditya tidak pernah mencintai kamu. Apa jadinya hubungan pernikahanmu nanti bila tidak ada cinta di hati Aditya?" ucap pria itu.

__ADS_1


"Sudahlah ini pilihanku, apapun resikonya akan aku jalani. Sekarang aku mohon menjauhlah dariku, hubungan kita sudah berakhir," ucap Vina tegas.


"Tapi aku masih mencintaimu Vin, aku menyesal sudah menghianatimu. Aku janji akan membahagiakan mu kali ini, tolong beri aku kesempatan."


"Jangan kamu pikir aku tidak akan aku apa yang kamu inginkan. Aku sudah tau semuanya, kamu hanya memanfaatkan ku selama ini."


"Itu tidak benar, aku benar-benar mencintaimu Vina."


"Sudahlah Jo, aku akan menikah Minggu depan. Mulai sekarang jangan temui aku lagi," ucap Vina kalau meninggalkan pria tersebut.


Sang pria terlihat emosi dengan penolakan Vina, terlihat dendam amarah dimatanya.


"Awas kamu Vin, aku tidak akan tinggal diam melihatmu menikah dengan pria lain," ucap pria yang dipanggil Jo oleh Vina.


Vina merasa pusing memikirkan Jonathan, sang mantan yang masih mengejarnya. Belum lagi memikirkan pernikahannya dengan Aditya yang tinggal sebentar lagi. Tapi Vina tau kalau Aditya belum bisa melupakan Nabila.


"Astaga, apa yang harus aku lakukan," gumam Vina yang kini berada di dalam mobil.


Saat Vina melihat ponselnya dia terkejut melihat ada beberapa panggilan dari calon mertuanya. Lalu dengan segera Vina menghubungi balik calon mertuanya.


"Halo Tante, maaf tadi Vina masih ada pekerjaan di luar dan tidak memegang ponsel," ucap Vina setelah panggilan tersambung.


"Tante cuma mau ingatkan kamu untuk segera fitting baju pengantin, karena waktunya tidak banyak lagi."


"Iya Tante, nanti Vina akan tanya Adi dulu kapan dia bisa."


"Ajak Adi sekarang juga Vina, dia akan selalu bilang sibuk kalau tidak dipaksa."


"Baiklah Tante, Vina akan ke kantor Adi sekarang juga," ucap Vina.


"Ya sudah kalau begitu, Tante tutup telponnya ya."


"Iya Tante."


Lalu Vina segera melajukan mobilnya menuju kantor Aditya.


Dilain tempat Aldi sudah bersiap di bandara. Sebenarnya Aldi ingin Nabila mengantarkan kepergiannya, tapi Nabila beralasan sibuk hari ini. Jadilah Aldi pergi sendiri karena Nuri dan Meta juga sibuk dengan urusan masing-masing.


"Huff.... Belum berangkat saja sudah rindu, apa aku sanggup selama dua Minggu kedepan tidak bertemu dengan Nabila?" ucap Aldi dalam hati.


Tidak lama terdengar pengumuman keberangkatannya. Dengan gontai Aldi berjalan menuju pesawat yang akan membawanya pergi.


Entah kenapa sekarang rasanya sangat berat untuk meninggalkan negaranya, apa karena sekarang ada Nabila yang sudah menguasai hatinya.


Biasanya Aldi biasa saja saat pergi kemanapun yang dia mau, tapi sekarang sudah berbeda.


Sedangkan Nabila juga memikirkan Aldi yang sedang menuju ke luar negeri. Nabila selalu mendoakan segala kebaikan Aldi, dua juga berharap kalau Aldi akan pulang untuknya.


Sebenarnya Nabila sedikit takut kalau kepergian Aldi akan sama seperti Aditya waktu itu. Tapi Nabila tidak berani untuk melarang kepergian Aldi. Yang bisa Nabila lakukan hanyalah berdoa.

__ADS_1


__ADS_2