CINTA Yang Tak DIRESTUI

CINTA Yang Tak DIRESTUI
26 Cemas


__ADS_3

"Halo Kak Aldi, hari ini bisa ke kafe kak Meta nggak?" tanya Nuri melalui sambungan telepon.


"Jam berapa?" tanya Aldi.


"Jam makan siang, sekalian kita makan siang di sana."


"Baiklah," lalu sambungan telpon di putus sepihak oleh Aldi.


"Halo kak! Ih, pantas sampai sekarang masih jomblo. Siapa juga yang mau sama cowok jutek jelmaan kulkas kayak kak Aldi," gerutu Nuri yang belum selesai bicara tapi Aldi malah menutup teleponnya.


Saat jam makan siang Nuri sudah terlihat menunggu bersama Meta di kafe. Setelah menunggu agak lama akhirnya Aldi datang juga.


"Kakak kemana aja sih? Aku udah lapar nih nungguin dari tadi," omel Nuri.


"Kenapa kamu nggak makan duluan kalau lapar?"


"Ish nggak peka banget sih. Kalau begini modelan nya kasian ceweknya Kak."


"Iya juga sih," jawab Meta.


"Maksud kalian apa?"


"Tau ah, aku mau makan dulu. Nabila!"


"Iya Nuri, mau pesan apa?"


"Kak Aldi mau makan apa? Kak!"


"Eh iya, apa?" tanya Aldi gugup.


"Kakak mau pesan apa, ditanya malah bengong. Tenang aja Nabila nggak kemana-mana kok."


"Maksud kamu apa?"


Lalu dengan cuek Nuri memesan makanan untuknya juga kakaknya, begitu juga dengan Meta.


"Baiklah tunggu sebentar ya," ucap Nabila, lalu dia pergi meninggalkan mereka.


"Kak, kenapa sih Kakak selalu melihat Nabila seperti itu? Jangan-jangan Kakak naksir ya sama dia."


"Nggak, aku cuma merasa pernah melihat dia, tapi aku lupa dimana."


"Masa sih? Kakak kan baru pulang dari luar negri, bagaimana bisa pernah melihat Nabila?"


"Entahlah, aku juga tidak tau."


"Tapi aku juga merasa wajahnya nggak asing deh Nuri," ucap Meta.


"Apa iya, kok aku nggak ngerasa gitu ya?"


"Mungkin dia hanya mirip seseorang yang kita kenal saja," jawab Aldi.


"Iya juga sih, tapi siapa ya?" tanya Meta.


Tak lama Nabila datang dengan membawa pesanan mereka.


"Nabila, kamu duduk bentar deh. Ada yang mau aku tanyain," ucap Meta.

__ADS_1


"Ada apa Mbak?"


"Sini, kamu makan juga. Aku sudah pesenin juga buat kamu."


"Hah, buat aku. Mbak Meta ini ada-ada saja. Aku nanti saja makannya mbak," tolak Nabila dengan halus. Sebenarnya Nabila merasa tidak pantas duduk bersama orang-orang yang berbeda kelas dengannya itu. Tapi dia tidak bisa menolak kerena atasannya yang meminta.


"Ayo makan saja. Kan makanannya juga sudah di buat."


"Nanti saja aku makan di belakang Mbak. Mbak makan saja dulu. Nanti kalau sudah baru panggil saya," lalu dengan cepat Nabila mengambil makanan yang memang untuk dirinya dan segera pergi ke belakang.


"Eh, kok malah pergi," ucap Nuri.


"Kalau orangnya nggak mau jangan dipaksa. Sebenarnya kalian kenapa sih ngajakin ketemuan disini?"


"Nggak apa-apa, cuma mau ngajak makan siang bareng aja," ucap Nuri.


Lalu Aldi yang sedikit kesal segera menghabiskan makanannya tanpa peduli pada di saudaranya yang sibuk ngobrol itu.


Sedangkan di dapur Nabila hanya menghela nafas sambil menaruh makanan yang dia bawa.


"Loh, kok di bawa lagi sih, Bila?" tanya Rani.


"Ini kata mbak Meta buat aku, tadinya dia ngajak makan siang bareng tapi aku nggak mau, jadi aku bawa kesini saja makanannya."


"Kenapa nggak mau, mbak Meta orangnya baik kok, jadi kamu nggak usah takut atau ngerasa nggak enak sama kami."


"Tapi aku nggak pantas duduk sama mereka Rani, lihatlah penampilan mereka lalu lihat aku seperti apa," ucap Nabila tertunduk sedih.


"Nabila, kamu kok ngomongnya gitu. Mbak Meta sama Nuri itu orangnya baik, nggak memandang status orang lain. Tapi kalau yang cowok itu memang jutek dan terkesan sombong," sahut Doris.


"Emang dia yang suka nyari gara-gara sama aku. Mungkin dia itu sebenarnya suka sama aku, tapi dia sok jual mahal gitu," ucap Doris dengan percaya diri.


"Dih, bakalan kiamat dunia ini kalau mas Aldi suka sama modelan kayak kamu ini," cibir Ani.


"Kamu kenapa sih An, jadi sewot terus sama aku. Kalau kamu memang mau sama Yudi, ya udah ambil sana, aku nggak butuh cowok yang nggak peka kayak dia. Aku sudah punya gebetan yang lebih tampan rupawan," ucap Doris sambil mengibaskan rambutnya lalu pergi meninggalkan mereka untuk menyapa Aldi.


Bukannya marah Ani dan yang lainnya malah tertawa ngakak melihat kelakuan temannya satu itu.


"Hai tampan, apa kabar?" sapa Doris.


"Heh, manusia jadi-jadian, ngapain kamu kesini?" tanya Aldi


"Ih, kamu kok gitu sih. Apa kamu nggak kangen sama aku?"


"Ih, Ngapain? Kayak nggak ada cewek tulen aja."


"Emang mana cewek tulen yang kamu katakan itu? Nggak ada kan? Itu karena kamu sukanya sama aku kan?"


"Amit-amit. Udah deh aku pergi dulu. Bisa stres kalau lama-lama disini," Lalu Aldi langsung beranjak pergi.


"Hei tampan, kamu mau kemana?" teriak Doris.


"Doris, malu dilihat orang. Sudah sana balik kerja," tegur Meta.


"Aaa, Mbak Meta nggak asik. Aku sedang patah hati mbak, comblangin kek sama mas Aldi."


"Eh, nggak ada ya, aku nggak mau punya ipar yang nggak jelas kayak kamu," ucap Nuri.

__ADS_1


"Kenapa sih semua orang suka banget bully aku. Apa mereka nggak tau kalau bullying itu tidak dibenarkan," gerutu Doris sepanjang jalan.


Sementara Meta dan Nuri hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Doris.


"Kak Meta dapat darimana sih orang seperti itu?" tanya Nuri.


"Dulu dia pengamen jalanan yang kelaparan karena dia juga tidak punya saudara ataupun tempat tinggal, jadi aku tolong. Dan sampai sekarang dia masih setia kerja sama aku. Padahal kalau dia mau dia bisa pergi kemanapun dia mau, karena uangnya sudah pasti banyak."


"Ternyata kisahnya menyedihkan juga ya Kak."


"Iya, makanya Kakak juga sayang sama dia. Kakak sudah anggap dia seperti adik sendiri."


Setelah puas ngobrol akhirnya Nuri pamit, karena dia masih ada pekerjaan.


"Lina, sepertinya itu perempuan yang kemarin."


"Siapa?"


"Perempuan yang membuat Nabila sedih kemarin."


"Eh iya, tapi sepertinya dia mencari sesuatu."


"Nabila, lihat itu. Bukankah itu perempuan yang kemarin?"


"Mbak Vina, mau apa lagi dia kesini?"


"Sepertinya dia mencari sesuatu."


"Pasti dia mau cari aku, karena kemarin dia sempat ke belakang karena melihatku. Untung saja aku sempat sembunyi."


"Kalau begitu pergilah ke kamarmu. Sekarang!" ucap Doris, karena Vina sudah mendekat ke area dapur. Dan Nabila segera berlari untuk bersembunyi.


"Maaf Mbak, kalau mau pesan tolong tunggu didepan ya," tegur Doris.


"Saya mau cari seseorang. Dan kemarin saya melihatnya disini."


"Siapa yang anda cari? Mungkin saya bisa membantu?" ucap Lina.


"Namanya Nabila. Saya ada perlu dengannya."


"Tapi disini tidak ada yang bernama Nabila," ucap Doris.


"Tapi kemarin saya melihatnya memakai baju yang sama seperti kalian."


"Tapi maaf, di sini benar-benar tidak ada yang bernama Nabila."


"Aku tidak percaya, aku harus masuk ke dalam untuk memastikannya," lalu Vina menerobos masuk ke area dapur.


"Eh, tunggu!"


Lalu terlihat seseorang yang Vina yakini adalah Nabila sedang berdiri meracik makanan. Lalu Vina bergegas menghampirinya.


Doris dan Lina terkejut kenapa Nabila masih ada di dapur. Padahal tadi mereka sudah menyuruhnya untuk bersembunyi.


"Waduh, pasti ketahuan nih," ucap Doris yang sangat khawatir.


"Nabila!" panggil Vina sambil menepuk bahu orang itu.

__ADS_1


__ADS_2