
Setelah keadaan Nabila mulai stabil, Nuri mengajak Nabila untuk melihat Aldi yang masih terbaring koma.
Hati Nabila begitu sakit melihat lelaki yang beberapa bulan ini mengisi hatinya, sekarang terbaring lemah.
"Nuri, apakah mas Aldi akan sadar kembali?" tanya Nabila menyentuh kaca ruangan Aldi dirawat.
"Berdoa saja Nabila, semoga kak Aldi segera sadar," ucap Nuri lirih.
"Aku berjanji kalau mas Aldi sadar, aku tidak akan membuatnya kecewa lagi," ucap Nabila.
"Iya, aku percaya hanya kamu yang bisa membuat kak Aldi bahagia," ucap Nuri.
"Bolehkah aku masuk ke sana?" tanya Nabila tanpa mengalihkan pandangan dari Aldi.
"Aku akan bicara pada perawat dulu," ucap Nuri.
Lalu perawat mengizinkan Nabila masuk dengan syarat memakai baju yang disiapkan.
Dengan perlahan Nabila memasuki ruangan dimana Aldi dirawat. Suara alat-alat medis terdengar nyaring dan terasa menakutkan. Tapi Nabila memberanikan diri untuk mendekati Aldi.
Dengan lembut Nabila memegang tangan Aldi yang terasa dingin.
"Mas Aldi, maafkan aku. Karena kesalahanku Mas Aldi jadi seperti ini, bangunlah Mas, aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi. Mas, apa kamu masih marah padaku? Mana janji mu yang akan melindungi ku, menjaga ku, dan membahagiakanku.
Mas, bangunlah. Doris selalu menggangguku setiap hari, bangun lah dan katakan padanya agar tidak menggangguku lagi," ucap Nabila menahan tangis.
Tapi Nabila terdiam merasakan ada pergerakan pada tangan Aldi.
"Suster, tangannya bergerak, aku merasakannya!" teriak Nabila pada perawat yang memang memantau mereka.
Lalu perawat bergegas memeriksa Aldi dan memang ada perkembangan pada Aldi.
"Mbak, terus ajak pasien bicara. Katakan sesuatu yang bisa memacu semangat pasien agar cepat sadar," ucap perawat.
Nabila bingung harus bicara apa lagi, dia menoleh pada jendela dan melihat Nuri di sana. Nuri tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Nabila tau kalau Nuri sangat berharap kakaknya bisa segera sadar.
Akhirnya Nabila memantapkan hati dan berusaha melakukan apapun agar orang-orang yang sudah membantunya bisa bahagia.
"Mas Aldi, apa kamu serius mencintai ku? Bangunlah bila kamu memang mencintaiku, tunjukkan padaku kalau kamu benar-benar serius padaku. Aku akan menerima mu tanpa syarat apapun," ucap Nabila berharap Aldi akan sadar.
Tak lama dokter pun datang memeriksa kondisi Aldi, dokter tersebut terkejut dengan perkembangan Aldi yang sangat pesat. Karena sebelumnya Aldi tidak merespon apapun.
"Bagus, terus berikan rangsangan pada pasien. Karena kalau pasien tidak sadar dalam waktu 12 jam, maka akibatnya berbahaya untuk pasien," ucap dokter.
"Apa? 12 jam Dok?" tanya Nabila terkejut.
"Iya, kemungkinan kalau pasien tidak sadar dalam waktu 12 jam, pasien akan mengalami koma yang cukup lama, atau bisa jadi kemungkinan yang lebih buruk."
Nabila tambah kacau mendengar pernyataan dokter, pantas saja Nuri terlihat putus asa dan sangat berharap padanya. Lalu Nabila kembali menggenggam tangan Aldi.
__ADS_1
"Mas, kalau Mas Aldi tidak bangun juga, aku akan pergi meninggalkan Mas Aldi. Aku takut Nuri dan Oma akan marah padaku karena akulah penyebab mas Aldi jadi seperti ini.
Aku takut Mas, mereka pasti akan menyalahkan aku. Lebih baik aku pergi dari sini dari pada semua orang membenci aku," ucap Nabila beranjak dan akan meninggalkan Aldi.
Tapi tangannya di genggam kuat oleh Aldi, Nabila terdiam sejenak memperhatikan Aldi yang masih saja menutup mata. Tapi tangganya sangat kuat menggenggam tangan Nabila.
"Dokter," lirih Nabila.
"Jangan tinggalkan aku," ucap Aldi lirih.
Lalu dengan cepat dokter memeriksa kondisi Aldi, dokter pun tersenyum lega melihat perkembangan Aldi.
"Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritis nya."
"Tapi kenapa mas Aldi belum membuka matanya, Dok?" tanya Nabila.
"Itu tidak apa-apa, nanti pasien akan sadar sepenuhnya. Sekarang biar pasien dipindahkan ke ruang rawat dulu," ucap dokter.
Lalu dengan perlahan Nabila melepaskan tangganya dadi Aldi. Setelah itu Nabila keluar dengan hati yang lega.
"Nabila, apa yang terjadi?" tanya Nuri panik.
"Mas Aldi sudah melewati masa kritis, dia akan dipindahkan ke ruang rawat," ucap Nabila.
Lalu Nuri langsung memeluk Nabila dengan erat.
"Terimakasih Nabila, aku yakin kalau kamu adalah orang yang bisa memberikan semangat untuk kakakku. Asal kamu tau, kak Aldi belum pernah dekat dengan perempuan manapun, kamulah yang pertama bisa meluluhkan hati kak Aldi," ucap Nuri.
"Ayo kita makan dulu," ajak Doni pada Nuri dan Nabila.
"Kalian saja, aku belum lapar," jawab Nabila.
"Nabila, kamu harus makan. Karena kamu harus punya tenaga lebih untuk menjaga kakakku, dia tanggung jawabmu mulai sekarang," ucap Nuri.
"Iya Nabila, kamu tidak boleh sakit. Aldi sangat membutuhkanmu."
"Iya, baiklah."
Baru saja Nabila beranjak, terdengar suara yang sangat jelas terdengar.
"Apa kamu tidak membelikan makanan untukku juga?"
"Mas Aldi!"
"Kakak!" teriak Nabila dan Nuri bersamaan.
Lalu tanpa sadar Nabila langsung memeluk Aldi dan menangis terisak.
"Apa kamu sangat merindukanku?" tanya Aldi.
__ADS_1
Nabila yang tersadar akan kelakuannya segera menjauh dari Aldi dengan wajah memerah karena malu.
"Maaf."
"Tidak apa-apa, kalau mau lagi aku tidak keberatan. Iya kan Nuri?" tanya Aldi.
"Iya, tentu saja. Kalau begitu aku akan keluar dulu, aku juga butuh waktu berdua dengan kekasihku. Ayo Yang," ucap Nuri lalu mengajak Doni keluar untuk memberi ruang pada Aldi dan Nabila.
"Nabila! Kemari lah, kenapa kamu disitu?" panggil Aldi.
Lalu dengan perlahan Nabila mendekati Aldi, sebenarnya Nabila masih malu dengan apa yang dia lakukan tadi.
"Tadi aku seperti mendengar ada yang sedih saat aku tidak sadarkan diri, apakah itu benar?" tanya Aldi.
Nabila bingung harus jawab apa, dia hanya menunduk karena malu.
"Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya Aldi.
"Maafkan aku, karena aku kamu jadi begini," ucap Nabila penuh sesal.
"Aku rela seperti ini asal aku bisa mendapatkan perhatian darimu," ucap Aldi.
"Mas Aldi mau makan?" tanya Nabila mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum lapar, sebaiknya kamu yang makan. Bukankah kalian tadi mau makan?" tanya Aldi.
"Aku juga belum lapar, tapi tadi Nuri maksa aku untuk makan," ucap Nabila.
"Lalu siapa lagi yang akan kamu adukan padaku setelah Doris dan Nuri?" tanya Nabila.
"Tidak ada."
"Benarkah? Katakan padaku bila ada yang mengganggumu. Aku akan selalu melindungi mu sekuat tenaga ku," ucap Aldi sambil menggenggam tangan Nabila.
"Kalau begitu cepatlah sehat, agar tidak ada orang yang berani menggangguku lagi."
"Tentu saja, asal kamu berjanji padaku untuk selalu berada di sisiku," pinta Aldi dengan menatap lembut pada Nabila.
"Iya."
"Iya apa?" tanya Aldi.
"Iya aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi."
"Kamu jangan takut aku akan menyakitimu. Aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi. Kalau kamu setuju, aku ingin meminta restu dari orangtuamu. Kita akan berkunjung ke makam orangtuamu setelah aku pulih."
"Benarkah?"
"Tentu saja, apa kamu senang?"
__ADS_1
"Iya. Terimakasih," ucap Nabila memeluk Aldi.
"Aku berjanji akan membuatmu bahagia, tapi sebelum itu aku juga akan menyelesaikan satu persatu masalahmu," gumam Aldi dalam hati.