
Malam ini Nabila baru sadarkan diri, setelah semalam jatuh pingsan karena tidak mampu menerima kenyataan. Dalam hati Nabila masih berharap akan bisa bertemu dengan salah satu keluarganya. Tapi kenyataannya memang Nabila tidak memiliki siapapun di dunia ini.
Aldi yang setia menjaga Nabila tersenyum saat orang yang dicintainya membuka mata.
"Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Aldi lembut.
"Kepalaku pusing. Apa yang terjadi padaku?" tanya Nabila.
"Kamu hanya kelelahan, sarapan dulu ya nanti baru minum obat," ucap Aldi sengaja tidak menyinggung kejadian sebelumnya.
"Iya," jawab Nabila yang masih berusaha mengingat apa yang terjadi.
"Mau aku suapi?" tanya Aldi.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kenapa kamu tidak makan juga?" tanya Nabila.
"Aku sudah makan tadi," jawab Aldi berbohong. Sebenarnya hatinya sedang gelisah memikirkan kondisi Nabila.
"Dimana oma?"
"Oma sedang istirahat, tadi oma bilang dia sedikit lelah karena ikut menjagamu, jadi aku suruh istirahat," ucap Aldi.
Setelah selesai makan dan minum obat, Nabila meminta Aldi untuk istirahat juga karena hari beranjak malam.
Sebenarnya Aldi menolak untuk meninggalkan Nabila sendiri, tapi Nabila memaksa dan juga bilang akan istirahat juga.
Dengan terpaksa Aldi meninggalkan Nabila sesuai keinginannya. Setelah Aldi pergi, Nabila kembali menumpahkan tangisnya yang sejak tadi di tahan.
Nabila masih berharap bila suatu saat dia menikah, Nabila ingin ada seseorang dari keluarganya yang datang. Tapi semua tidak akan pernah terwujud.
***
Keesokan harinya Nabila dan Aldi bersiap kembali ke kota B, sebenarnya Oma ingin mereka menginap beberapa hari di sini. tapi Aldi tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.
"Nabila, jangan pernah merasa sendiri. Ada Oma disini. Bahkan Oma sudah sangat menyayangi mu sebelum Oma tau siapa kamu," ucap Oma sambil memeluk Nabila.
"Iya Oma, terimakasih sudah menerima Nabila," ucap Nabila.
"Sama-sama sayang, lalu perlu sesuatu hubungi Oma, jangan sungkan-sungkan."
"Iya Oma, Nabila pamit ya," pamit Nabila.
"Iya, hati hati-hati ya. Sering-seringlah mengunjungi oma."
"Aldi pamit Oma, sebenarnya Aldi ingin Oma mau tinggal sama Aldi dan Nuri," ucap Aldi yang tidak lelah untuk membujuk Omanya itu.
"Oma akan tinggal dengan mu kalau kamu sudah menikah dan istrimu hamil," ucap Oma mengedipkan mata pada Nabila.
"Baiklah Aldi akan berjuang agar gadis yang Aldi cintai mau menikah dengan Aldi secepatnya," ucap Aldi sambil memandang Nabila.
Nabila hanya menunduk malu mendengar obrolan Oma dan cucunya yang terang-terangan menyindirnya.
Lalu Aldi dan Nabila segera berangkat agar tidak terjebak macet. Tapi yang namanya kota tetap saja macet.
Aldi langsung mengantar Nabila ke kafe, karena Aldi juga harus segera ke kantor.
"Nabila, pikirkan kata-kata Oma tadi," ucap Aldi sebelum Nabila turun dari mobil.
__ADS_1
"Kata-kata yang mana?" tanya Nabila.
"Aku ingin segera menikahi mu, aku tidak ingin menjalin hubungan tanpa ada kejelasan," ucap Aldi.
"Aku butuh waktu untuk berfikir lagi, menikah bukanlah hal yang main-main," ucap Nabila.
"Apa kamu masih meragukan cinta ku? Aku tidak pernah main-main dengan mu," ucap Aldi.
Tok....Tok....Tok....
Kaca mobil diketuk dari luar oleh Doris.
"Ada apa?" tanya Aldi dingin.
"Astaga. Seharusnya aku yang tanya kenapa kalian tidak turun, padahal kalian berhenti disini dari tadi. Mau digrebeg pol PP?" tanya Doris.
"Nabila, turunlah, aku harus segera ke kantor," ucap Aldi tanpa melihat Nabila.
Nabila yang menyadari perubahan Aldi segera berusaha menenangkan Aldi. Nabila takut akan terjadi hal buruk lagi bila Aldi mengemudi dalam kondisi seperti ini.
"Mas Aldi, malam ini datanglah ke sini. Aku akan memberi jawaban," ucap Nabila.
"Baiklah, aku akan datang," jawab Aldi tersenyum pada Nabila.
Lalu Nabila segera turun dan masuk ke dalam kafe bersama Doris.
"Kamu istirahat saja dulu. Kate mbak Meta kamu nggak perlu kerja hari ini," ucap Doris.
"Kenapa? Apa mbak Meta marah sama aku?" tanya Nabila khawatir.
"Tidak, mbak Meta tau kalau kemarin kamu pingsan di rumah Oma, jadi hari ini kamu dilarang bekerja dulu sampai kamu benar-benar sehat," ucap Doris.
"Iya kamu nggak sakit. Tapi kamu butuh istirahat biar nanti nggak sakit. Sudah jangan membantah, istirahat saja di kamar," ucap Doris.
Dan Nabila tidak bisa membantah ucapan Doris, entah kenapa Nabila sangat penurut bila dengan Doris.
***
"Vina, bagaimana keadaan mu hari ini?" tanya Aditya yang baru pulang dari kantor. Sekarang Aditya lebih perhatian dengan Vina kerena Vina sedang mengandung anaknya.
"Aku sudah lebih baik, kamu nggak usah khawatir begitu lah. Kayak aku sakit parah saja," gerutu Vina. Pasalnya setiap hari selalu itu-itu saja yang ditanyakan Aditya padanya.
"Gimana aku nggak khawatir kali setiap hari kamu nggak bisa makan dengan benar," ucap Aditya.
"Kan memang wajar kalau hamil muda seperti itu. Nanti juga baik sendiri," ucap Vina.
"Darimana kamu tau?" tanya Aldi penasaran.
"Dari internet, kata bibi juga begitu," ucap Vina. Sejak Vina dinyatakan hamil, Aditya mencari art yang bisa menginap sekaligus menemani Vina bila Aditya ke kantor.
"Ya sudah, kamu mau makan apa sekarang?" tanya Aditya.
"Aku tidak ingin makan apa-apa, tadi sudah makan puding buatan bibi," jawab Vina.
"Ya sudah, aku mandi dulu ya," ucap Aditya
"Iya."
__ADS_1
Malam harinya saat Aditya sudah terlelap, tiba-tiba Vina membangunkannya.
"Adi...Adi...Bangun!" panggil Vina untuk kesekian kalinya.
"Iya, ada apa Vin?" jawab Aditya masih setengah ngantuk.
"Aku mau makan sate yang ada di ujung jalan sana," ucap Vina.
"Hah, ini sudah malam, besok saja ya," ucap Aditya menahan kantuk.
"Aku maunya sekarang, aku nggak bisa tidur karena ingin makan sate," rengek Vina.
"Tapi ini sudah malam, mungkin juga sudah pulang penjualannya."
"Ayo kita lihat dulu, kalau memang nggak ada ya sudah."
"Besok saja ya."
"Ya sudah kalau begitu biar aku pergi sendiri," ucap Vina lalu beranjak dan mengambil jaket tebalnya.
"Astaga, kenapa dia jadi seperti itu," gerutu Aditya segera mengejar Vina.
Lalu Aditya dan Vina mengendarai mobil mencari penjual sate yang dimaksud Vina.
"Itu dia," ucap Vina bersorak melihat penjual sate itu masih ada.
Setelah Aditya menepikan mobilnya, Vina segera turun dan berlari ke arah gerobak.
"Bang, satenya masih ada?" tanya Vina.
"Masih seporsi lagi, Neng. Mau dibungkus atau dimakan disini?" tanya penjual.
"Makan di sini saja bang," ucap Vina. Sementara Aditya masih berjalan gontai ke arah Vina.
"Masih ada Vin?" tanya Aditya.
"Masih, tapi hanya seporsi saja," jawab Vina.
"Tidak apa-apa untuk kamu saja," ucap Aditya. Lalu dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, sudah sepi.
"Ini Neng," ucap penjual menyodorkan sepiring sate lengkap dengan lontong.
"Terimakasih ya bang," ucap Vina.
"Bang, kenapa jualan sampai malam begini? Apa tidak takut ada orang jahat?" tanya Aditya.
"Mau gimana lagi Mas, jualan sekarang sedang sepi. Jadi saya harus menunggu sampai jualan habis baru bisa pulang."
"Abang sudah punya keluarga?" tanya Aldi lagi.
"Sudah, sekarang istri saya hamil anak kedua. Jadi saya harus cari bekerja keras untuk biaya bersalin nanti," ucap penjual sate.
Lalu Vina menghentikan makannya mendengar cerita penjual sate tersebut. Vina dan Aditya saling pandang dan merasa tersentuh hatinya.
Setelah Vina menghabiskan makanannya Aditya segera memberi beberapa lembar uang pada penjual sate tersebut.
"Ini buat Abang, semoga bermanfaat untuk Abang dan keluarga," ucap Aditya.
__ADS_1
"Terimakasih banyak ya Mas, semoga rejekinya bertambah lancar dan sehat selalu," ucap penjual sate.
"Aamiin, segeralah pulang bang. Ini sudah malam."