
Muncul dari balik pintu rumah berasitektur Eropa sosok kepala gundul seorang pria.
Pria berkepala gundul itu menyeringai ke arah Tribuana Tungga Dewi sambil berkata lantang pada perempuan cantik itu.
"Tidak bisakah kamu datang dengan baik-baik ? Untuk apa kamu menembaki rumahmu sendiri ?"
Tribuana Tungga Dewi lalu melangkah malas menuju beranda rumahnya.
"Tunggu ! Jangan melangkah lagi !", teriak pria gundul.
Tribuana Tungga Dewi menghentikan langkah kakinya dan berdiri kebingungan.
"Kenapa ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.
"Katakan dulu apa keinginanmu datang ke rumah, Tribuana !", sahut pria berkepala plontos dari balik pintu rumahnya.
"Apa !?", ucap Tribuana Tungga Dewi keheranan.
Bagaimana bisa ayahnya bertanya demikian perihal kepulangannya ke rumah sehingga Tribuana Tungga Dewi menjadi bingung dengan sikap ayahnya.
"Ini rumahku, ayah ! Kenapa aku harus menjelaskannya maksud kepulanganku ke rumah !?", sahut Tribuana Tungga Dewi.
Tribuana Tungga Dewi melangkahkan kakinya kembali menuju rumah.
"Tunggu ! Tunggu ! Tunggu ! Diam disana ! Dan jangan bergerak lagi selangkahpun !", teriak pria berkepala gundul itu.
"Ayah... Aku ini puterimu... Kenapa aku tidak boleh pulang !?", ucap Tribuana Tungga Dewi mulai emosi.
__ADS_1
"Tidak... Tidak... Katakan dulu, apa tujuanmu pulang ke rumah !", kata pria berkepala gundul itu tetap dari arah balik pintu rumahnya.
"Ya, Tuhanku ! Apa yang sedang ayah sembunyikan di dalam rumah ?", sahut Tribuana Tungga Dewi mulai menaruh curiga.
"Sembunyikan !? Apa !? Oh, tidak ada ! Tidak ada yang ayah sembunyikan", ucap pria gundul itu.
"Lalu kenapa aku tidak boleh masuk ke dalam rumah jika ayah tidak menyembunyikan simpanan ayah ?", ucap Tribuana Tungga Dewi.
Tribuana Tungga Dewi berdiri sambil mengangkat kedua alisnya ke atas dan memanggul senapan apinya di pundaknya.
"Simpanan !? Apa maksudmu !?", sahut ayah.
Pria berkepala gundul itu lalu menoleh ke arah kanan dan kiri tidak mengerti ucapan puterinya.
"Ayolah, ayah ! Aku tahu, ayah menyimpan wanita lain di dalam rumah karena itu aku tidak boleh masuk ke rumah", sahut Tribuana Tungga Dewi.
Ayah dengan cepat menanggapi ucapan puterinya dan bergegas keluar dari balik pintu rumah.
Terlihat seorang pria bertubuh tambun berjalan ke arah beranda rumah sambil mengisap cerutu ditangannya.
"Kamu ada-ada saja, mana mungkin ayah menyimpan wanita di dalam rumah lebih baik ayah simpan emas batangan di dalam rumah dan menyimpan wanita ayah di rumah lainnya", ucap ayah.
"Astaga... Baru mengaku sekarang...", sahut Tribuana Tungga Dewi.
"Wajar ! Ayah seorang pria tulen dan sangat amat wajar jika ayah memiliki wanita bukan salah ayah karena ibumu yang meninggalkan ayah demi paman brengsekmu itu", ucap ayah.
"Itu juga karena sikap ayah dan kehidupan ayah yang seorang mafia dan itu sebabnya ibu pergi dari ayah", sahut Tribuana Tungga Dewi kesal.
__ADS_1
"Bukankah ibumu sudah mengetahui bahwa ayah adalah pemimpin mafia, dan dari awal ibumu sudah tahu jika ayah seorang mafia", ucap ayah.
Ayah mengepulkan asap cerutunya dengan santainya.
"Tapi ayah tidak pernah memperhatikan ibu", sahut Tribuana Tungga Dewi.
Pria berkepala gundul itu terdiam lalu menatap ke arah Tribuana Tungga Dewi dari atas beranda rumahnya.
"Ada apa kamu datang ke rumah ? Apa Anita tidak memberimu santunan dan makanan lagi ?", tanya ayah.
Ayah berjalan menuju ke sebuah set lengkap kursi rotan beserta meja yang ada di beranda rumah.
Pria gundul itu lalu menarik kursi rotan lantas duduk.
"Ayah selalu mengirimi Anita uang karena ayah tahu kamu lebih nyaman tinggal dengannya", ucap ayah.
"Anita masih memberiku makanan tiga kali sehari setiap harinya bahkan dia juga memberiku uang saku bulanan dan aku pastikan aman", sahut Tribuana Tungga Dewi.
"Lantas kenapa kamu pulang ?", tanya ayah.
"Aku hanya ingin bertanya pada ayah mengenai Daniel Marco", sahut Tribuana Tungga Dewi.
"Daniel !?", ucap ayah.
"Ya...", sahut Tribuana Tungga Dewi.
Ayah hanya menatapku yang tengah berdiri di halaman rumah tanpa bersuara, dia mengisap cerutunya dalam-dalam sambil memainkan kepulan asap yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Tribuana Tungga Dewi bergeming dari tempatnya berdiri dan membalas tatapan ayahnya dengan tajam.