
Ayah menyerahkan pistol kepada Tribuana Tungga Dewi setelah dia mengecek kondisi pistol yang masih baru itu.
"Berhati-hatilah dengan elang yang lainnya mereka tidak terlihat dan mungkin saat mereka mendengar ada opium yang datang akan mengambilnya secara paksa darimu", ucap ayah.
"Apa mereka akan mencurinya ?", sahut Tribuana Tungga Dewi.
"Pasti ! Dan jangan katakan mereka tidak menghiraukannya karena para pengedar pasti akan memberitahukan kepada pengedar lainnya", ucap ayah.
Tribuana Tungga Dewi menerima pistol lalu memeriksanya kembali.
"Haruskah aku lenyapkan mereka atau memberi mereka ampunan ?", tanya Tribuana Tungga Dewi.
"Jika tidak kamu yang menghabisi mereka kemungkinan kamu yang akan dihabisi oleh mereka", sahut ayah.
"Bagaimana mereka sebodoh itu ?", ucap Tribuana Tungga Dewi.
Perempuan berlesung pipit itu lalu memperhatikan pistol flintlocknya dan mencobanya.
Tribuan Tungga Dewi menembakkan pistol yang ada ditangannya ke arah depan halaman rumah.
DOR... DOR... DOR...
"Ini peredaran opium jadi sah-sah saja jika ada yang akan merebutnya untuk keuntungan bisnis anggap saja ini sebuah medan pertempuran", sahut ayah.
Ayah berdiri menatap ke arah halaman rumah dengan tatapan yang sulit ditebak.
"Bertahan hidup atau mati...", sambungnya.
Pria berkepala plontos kemudian mengambil senjata api lainnya dari tangan pria kekar disampingnya.
"Dan perdagangan diantara mafia memang seperti ini meski pada awalnya kita yang memesan opium tetapi belum tentu opium itu sampai ditangan kita", lanjut ayah.
Ayah memeriksa karabin ditangannya lalu menembakkannya ke arah halaman.
Terdengar bunyi tembakan dari karabin.
"Opium menjadi taruhan buat para bandar untuk bertahan hidup karena Pak Opium memaksa kita harus bersaing dan hanya Cina yang bebas melakukan peredaran opium tanpa Pak Opium", ucap ayah.
__ADS_1
Tribuana Tungga Dewi hanya diam saat ayahnya berbicara.
"Apa kau sudah siap ?", tanya ayah.
Tribuana Tungga Dewi memalingkan pandangannya dari halaman rumah ke arah ayahnya.
Diam tanpa menjawabnya.
"Jika kau masih ragu dengan misi ini maka konsekuensinya kau harus menerima pernikahanmu dengan Daniel", kata ayah.
"Apa !?", sahut Tribuana Tungga Dewi tersentak.
"Kita telah bersepakat dan mau tidak mau kamu harus mematuhinya, anggap saja kita memulai awal bisnis diantara kita", ucap ayah.
Ayah tertawa kecil lalu melemparkan karabin ditangannya ke arah Tribuana Tungga Dewi.
Perempuan cantik itu dengan sigap menangkap karabin itu.
"Ayah ! Kamu bisa meledakkan karabin ini !", pekik Tribuana Tungga Dewi kesal.
"Salah perhitungan maka kamu lenyap karena itu tetaplah waspada ! Dan jangan melamun !", sahut ayah.
Tribuana Tungga Dewi lalu melangkah turun dari beranda rumahnya tetapi ayahnya buru-buru menahannya.
"Tribuana ! Tunggu !", lanjut ayah.
Tribuana Tungga Dewi menghentikan langkahnya lalu menolehkan kepalanya.
"Apa ?", tanyanya.
"Berhati-hatilah !", ucap ayah.
"Terimakasih...", jawab Tribuana Tungga Dewi.
"Mmmm... Umurmu berapa sekarang ?", tanya ayah lanjut.
"Untuk apa ayah tanyakan ? Apa ayah akan mempersiapkan peti mati untukku ?", sahut Tribuana Tungga Dewi.
__ADS_1
"Haissshhh... Kau ini ! Ayah tanya betul-betul kau jawab masa bodoh, berapa umurmu sekarang ?", kata ayah.
"Masa umur anak sendiri ayah tidak tahu", jawab Tribuana Tungga Dewi melengos.
Perempuan yang masih bertubuh segar dan awet muda itu lalu melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju mobil volkwagen hitamnya.
"Tribuana !", panggil ayah.
"Ayah yang membuatku lahir ke dunia ini masak ayah lupa tanggal lahirku", sahut Tribuana Tungga Dewi.
"Tanggal lahir ? Kapan ?", ucap ayah.
Pria gundul itu mencoba mengingat tanggal lahir Tribuana Tungga Dewi.
"Ah, iya... Hai ! Tribuana ! Umurmu sudah hampir kepala empat tahun ini ! Hai, Tribuana ! Kembali kau !", teriak ayah sadar.
Tribuana Tungga Dewi melajukan mobilnya keluar halaman rumah dengan cepatnya tanpa menghiraukan panggilan ayahnya.
CIIIT... CIIIIT... CIIIT...
Terdengar suara rem mobil volkwagen yang berdecit keras saat meninggalkan halaman rumah.
"Astaga ! Anak macam apa itu !? Bagaimana dia akan memberiku cucu jika tidak menikah ? Apa dia ingin membuatku mati pelan-pelan tanpa cucu !?", ucap ayah.
Pria berkepala plontos itu lalu duduk di atas lantai rumahnya.
"Kapan dia akan melahirkan anak ?", ucap ayah menggerutu.
"Nona harus menikah dahulu, bos ! Bagaimana bisa punya anak jika tidak menikah !?", sahut pria bernama Sunny.
"Tanpa harus menikah yang penting dia melahirkan cucu untukku sebagai pewaris, aku tidak akan mempermasalahkannya...", jawab ayah sambil membuang cerutu ditangannya.
"Astaga...", ucap Sunny.
"Ikuti dia ! Dan pastikan dia aman ! Dan selidiki siapa yang dekat dengannya saat ini dan beritahukan padaku !", kata ayah.
"Baik, bos..., lalu apa yang akan bos lakukan jika tahu pria yang dekat dengan nona ?", tanya Sunny.
__ADS_1
"Jika dia laki-laki maka aku akan menyuruh mereka menikah dan jika perempuan..., bawa perempuan itu ke dermaga lalu benamkan !", sahut ayah.
Ayah duduk menatap halaman rumahnya yang asri dengan santainya sedangkan Sunny telah pergi dari rumah sangat cepatnya.