
Roy baru saja dipindahkan ke ruang rawat, dan tentu saja Meta selalu mendampinginya. Setelah beberapa saat pingsan, setelah sadar Meta harus kuat demi calon suaminya itu.
Aldi, dan Nuri juga selalu memberikan dukungan kepada Meta. Sedangkan Oma sengaja tidak diberi tahu, karena kasian pada Oma yang sudah tua dan kesehatannya sering terganggu.
Pagi ini Nabila membawa makanan untuk Meta dan Aldi yang menginap di rumah sakit. Nuri pulang ke rumah karena tidak mau Omanya curiga.
"Mbak Meta, Mas Aldi, sarapan dulu ya," ucap Nabila.
"Nanti saja, Bil. Mbak belum lapar."
"Mbak nggak boleh begitu, Mbah harus tetap sehat dan kuat untuk menjaga mas Roy. Mas Roy pasti akan sedih kalau melihat Mbak Meta seperti ini," bujuk Nabila.
"Tapi Mbak benar-benar tidak lapar."
"Mbak harus tetap makan, kalau Mbak juga ikut sakit nanti siapa yang akan merawat mas Roy?"
Lalu dengan segala bujuk rayu akhirnya Meta mau makan, walau hanya sedikit.
Aldi yang memperhatikan Nabila dari tadi semakin kagum dengan gadis itu. Dia sangat perhatian dan tulus kepada Meta.
Aldi semakin yakin dengan keputusannya, dia akan memperjuangkan Nabila sampai Nabila menjadi miliknya.
Setelah selesai sarapan, Nabila membereskan kotak makan dan akan segera pulang, karena dia harus bekerja.
"Mbak, aku langsung pulang ya. Nanti Mbak mau di bawain apa?"
"Nggak usah repot-repot Nabila, Mbak bisa beli makanan sendiri kok."
"Yakin Mbak akan beli makanan? Tadi saja kalau nggak di paksa pasti nggak makan."
"Iya nanti Mbak makan kok, lagian nanti Nuri juga ke sini. Kamu nggak usah khawatir."
"Nggak apa-apa kok Mbak, kalau Mbak Meta butuh sesuatu bilang saja."
"Iya, nanti aku akan telpon kamu. Tadi kamu ke sini naik apa?"
"Naik ojek Mbak."
"Aldi, kamu bisa kan antar Nabila pulang?"
"Bisa. Ayo!"
"Nggak apa-apa aku naik ojek saja."
"Bareng aja sekalian, aku juga mau pulang."
"Sudah sana, sama Aldi saja," ucap Meta.
"Baiklah, aku pulang ya Mbak."
__ADS_1
"Iya, hati-hati ya!"
Saat dalam perjalanan Nabila merasa canggung, karena Aldi juga diam saja. Setelah mereka masuk mobil Aldi segera melaju di jalanan yang lumayan ramai.
"Nabila, terimakasih ya kamu sudah mau perhatian sama Meta."
"Itu belum seberapa dibanding dengan kebaikan mbak Meta selama ini sama aku, Mas."
"Tetap saja, perhatian dan dukungan dari kamu sangat dibutuhkan Meta saat ini. Hidup kami bertiga juga begitu menyedihkan saat kami kehilangan orang tua. Meta khususnya, dia sangat trauma saat itu. Dia terpuruk bahkan menganggap dirinya anak sial, dia menganggap kematian orang tuaku karena kesialan dari dirinya.
Bahkan kemarin dia sangat histeris melihat keadaan Roy, tentu kamu melihatnya sendiri. Dia kembali menyalahkan dirinya dan menganggap dirinya pembawa sial."
"Ternyata ada yang lebih menyedihkan dari kisah hidupku," ucap Nabila sambil menyeka air matanya.
Dia jadi teringat tentang kisah hidupnya yang sangat menyedihkan. Hingga dia tidak sadar saat Aldi menepikan mobilnya dan berhenti.
"Nabila, tetaplah bersama kami, aku janji tidak akan ada yang menyakitimu. Kamu sudah tau bagaimana keluargaku. Mereka tidak pernah melihat latar belakang seseorang, bagi kami orang itu baik dan jujur.
Kamu lihat Doris, bahkan kami tidak tau dari mana dia berasal, tapi kami tetap menganggapnya keluarga. Meskipun dia sedikit aneh dan selalu saja menggodaku. Tapi sebenarnya dia baik," ucap Aldi panjang lebar.
Nabila hanya diam mendengarkan Aldi bicara. Hingga Aldi memberanikan diri menggenggam tangan Nabila, dan membuat Nabila terkejut.
"Nabila, beri aku kesempatan untuk bisa dekat denganmu. Aku akan membuktikan bahwa aku tulus padamu. Dan tidak akan ada keluargaku yang merendahkan mu, karena mereka semua menyayangimu."
Nabila bingung harus menjawab apa, dia hanya diam terpana melihat kesungguhan Aldi. Tapi dalam hati kecilnya masih ada perasaan takut akan rasa sakit yang pernah dia rasakan.
"Nabila! Berikan kamu mau kan memberi ku kesempatan?" tanya Aldi. Nabila mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah, aku mengerti. Jadi mulai sekarang jangan menghindar dari ku lagi ya."
"Iya Mas, sekarang cepat jalan. Aku harus tetap bekerja hari ini."
"Oke, aku akan mengantarmu kemanapun kamu mau," ucap Aldi sambil melajukan mobilnya.
"Ish, apaan sih?" lalu keduanya tertawa.
Aldi merasa lega, karena dia yakin akan bisa meluluhkan hati Nabila.
Setelah sampai di kafe ternyata Aldi ikut turun mengantarkan Nabila sampai ke dalam.
Mereka di sambut oleh Doris yang sudah berkacak pinggang. Kafe masih belum buka, jadi hanya ada mereka saat ini.
"Mampir kemana dulu, Neng? Lama amat. Kamu nggak di apa-apain kan sama Abang jutek?"
"Ya enggak lah, emang mau di apain?"
"Ya kali aja kalian tadi mampir dulu ke KUA." ucap Doris.
"Hah, mau ngapain?" tanya Nabila heran.
__ADS_1
"Tadi sebenarnya mau mampir sekalian, tapi sayang masih tutup," ucap Aldi.
"Emang Mas Aldi mau ngapain mampir ke KUA?" tanya Nabila dengan polosnya.
"Astaga Nabila, memangnya orang ke KUA mau ngapain?"
"Nikah!"
"Nah itu tau."
"Jadi?"
"Jadi Abang jutek mau nikahin neng Nabila, begitu" ucap Doris geregetan.
Lalu Nabila segera berlari ke belakang karena malu. Sedangkan Doris dan Aldi hanya geleng-geleng kepala.
"Mas, aku mohon jangan sakiti Nabila ya," ucap Doris dengan nada normal.
"Apa kamu tadi salah makan?" tanya Aldi heran.
Lalu Doris berdehem untuk menetralkan gayanya. Dia kembali ke mode awal yang kemayu lagi.
Aldi merasa aneh dengan sikap Doris pagi ini. Tadi Doris terlihat normal dalam berbicara, tapi sesaat dia berubah lagi seperti semula.
Saat sedang berfikir, Aldi di kagetkan dengan suara ponselnya. Ternyata Rio yang menghubunginya dan meminta untuk segera datang ke kantor.
Aldi langsung pergi begitu saja karena Nabila dan Doris sudah tidak terlihat dari tadi, mungkin mereka sedang sibuk, begitu pikir Aldi.
Setelah sampai di kantor Rio sudah menunggunya di dalam ruangan Aldi.
"Ada berita apa?"
"Ini tentang Roy, polisi menyatakan ini murni kasus pengeroyokan. Pelakunya lebih dari satu orang. Mungkin mereka sudah mengikuti Roy sejak Roy keluar kantor. Dan bisa di pastikan kalau pelaku sudah tau kalau Roy akan melewati jalanan yang cukup sepi."
"Apa motifnya?"
"Polisi masih menyelidikinya, apalagi Roy belum bisa dimintai keterangan. Polisi sedikit kesulitan karena tidak ada bukti ataupun saksi. Hanya Roy harapan kita untuk mengetahui siapa pelakunya. Tapi polisi tetap menyisir tempat kejadian untuk mencari barang bukti."
"Baiklah, segera laporkan bila ada kabar terbaru. Oh iya, suruh beberapa anak buah kita untuk menjaga Roy di rumah sakit. Aku takut pelakunya akan melakukan sesuatu yang buruk pada Roy atau juga Meta."
"Siap, akan segera aku lakukan. Tapi bagaimana kisah mu dengan Nabila, apa ada perkembangan?"
"Buka urusanmu! Tidak usah ikut campur!"
"Itu jadi urusanku, karena kalau kamu gagal aku yang akan maju."
"Jangan coba-coba kalau masih ingin hidup mu baik-baik saja," gertak Aldi.
"Ck, siapa tau Nabila lebih memilihku dari pada dirimu."
__ADS_1
"Kerjakan tugasmu!"
"Iya iya."