
Nabila dengan telaten menyuapi sarapan untuk Aldi. Senyum tak pernah pudar dari bibir Aldi, baru kali ini dia mendapat perhatian dari seorang perempuan setelah ibunya.
Bukan tidak ada perempuan yang mau dekat dengan Aldi, tapi Aldi sendiri yang tidak mau membuka hati untuk perempuan selama ini. Prioritasnya hanyalah Nuri selama ini.
Tapi kini Nuri sudah dewasa dan ada Doni sang sahabat yang dipercaya untuk menjaga adik kesayangannya.
"Mas, jangan lihat aku seperti itu," protes Nabila sambil menunduk mengaduk makanan untuk Aldi.
"Kenapa? Aku tidak melakukan apa-apa, hanya memandang mu saja," ucap Aldi membela diri.
"Tapi aku malu, jangan seperti itu."
"Lalu aku harus bagaimana? Apa harus seperti ini," ucap Aldi memegang pundak Nabila dan menatap bola mata Nabila.
Deg....Deg....Deg.
Jantung keduanya berdetak kencang. Untuk sesaat suasana jadi hening.
"Selamat pagi....!" teriak Doris yang begitu heboh.
Lalu Aldi dan Nabila jadi salah tingkah dan mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Apa aku mengganggu?" tanya Doris yang melihat gelagat aneh dari Aldi dan Nabila.
"Tidak"
"Sangat mengganggu" ucap Aldi dan Nabila bersamaan.
"Hahaha.... Kalian lucu sekali. Sudahlah, aku hanya mengantarkan makanan untuk Nabila saja. Setelah ini terserah kalian mau ngapain, tapi ingat jangan sampai kebablasan," ucap Doris.
"Doris apaan sih? Kita nggak ngapa-ngapain kok," ucap Nabila tersipu Malu.
"Lagian kenapa harus mengantar makan sih? Aku bisa kok pesan makanan untuk Nabila," gerutu Aldi.
"Ini mbak Meta yang nyuruh. Kalau mau protes langsung aja sama mbak Meta," ujar Doris.
"Terimakasih ya sudah repot-repot ngantar makanan, sampaikan juga terimakasih ku pada mbak Meta," ucap Nabila.
"Iya sama-sama, ya sudah aku langsung pulang ya. Hati-hati sama mas jutek, dia bisa jadi bahaya loh untuk kamu," ucap Doris berbisik pada Nabila.
"Apa yang kamu bicarakan padanya? Jangan meracuni pikiran Nabila," ucap Aldi pada Doris.
"Apa sih, aku nggak ngomong aneh-aneh kok."
"Ya sudah pulang sana, mengganggu saja," ucap Aldi.
"Iya iya, aku pulang. Nabila aku pulang ya, ingat kata-kata ku tadi," bisik Doris.
"Doris!"
"Astaga, baru juga sembuh sudah marah-marah terus," gerutu Doris lalu pergi meninggalkan Aldi dan Nabila.
__ADS_1
"Mas, kenapa sih Mas Aldi selalu bertengkar bila bertemu dengan Doris?" tanya Nabila.
"Karena dia menyebalkan, selalu menggodaku membuat aku jadi takut," ucap Aldi.
"Sebenarnya dia tidak seperti itu," ucap Nabila.
"Kamu membelanya?" ucap Aldi.
"Tentu saja, karena itu bukanlah sifat aslinya."
"Maksud kamu bagaimana?"
"Dia lelaki normal, dan dia berlaku seperti itu karena trauma," ucap Nabila.
"Kamu tau darimana?" tanya Aldi penasaran, karena dia juga sempat melihat Doris berbicara layaknya lelaki pada umumnya.
"Lina menceritakan tentang masa lalu Doris, dan ternyata mereka berteman sejak kecil," ucap Nabila.
Lalu Nabila menceritakan semua yang dia ketahui tentang Doris. Aldi hanya menghela nafas setelah mengetahui kebenaran tentang Doris. Tapi ada yang membuatnya khawatir bila Doris terlalu dekat dengan Nabila.
"Jadi mulai sekarang kamu jangan terlalu dekat dengan Doris," ucap Aldi tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Nabila heran.
"Aku hanya tidak mau kamu dekat dengan lelaki lain selain diriku," ucap Nabila.
"Apa kamu cemburu?" tanya Nabila.
"Tentu saja, kamu adalah calon istriku. Aku tidak akan membiarkan kamu dekat dengan lelaki manapun," ucap Aldi tegas.
"Tapi kalau dia menganggap lebih bagaimana?" tanya Aldi.
"Kamu tenang saja, sebenarnya aku tau kalau Doris dan Lina saling mencintai," ucap Nabila.
"Benarkah?" tanya Aldi penasaran.
"Iya, Lina sudah mengatakannya padaku, tapi Doris sebaliknya. Doris masih terkungkung dalam traumanya," ucap Nabila sedih.
"Kamu tenang saja, aku akan minta bantuan pada Doni. Pasti dia bisa membantu Doris," ucap Aldi.
"Terimakasih ya Mas, aku sangat berharap Doris bisa kembali normal dan bisa hidup bahagia bersama Lina," ucap Nabila.
"Tapi itu semua tidak gratis," ucap Aldi dengan senyum tipis di bibirnya.
"Tapi aku tidak punya uang yang banyak untuk membayarnya," ucap Nabila khawatir.
"Tidak perlu pakai uang, aku tidak butuh uang darimu," ucap Aldi.
"Lalu aku harus membayar dengan apa?" tanya Nabila bingung.
"Cukup cintai aku dengan sepenuh hatimu, hiduplah denganku sampai aku tak mampu untuk menjagamu," ucap Aldi dengan menggenggam tangan Nabila dan menatapnya lembut.
__ADS_1
Nabila sangat terharu melihat ketulusan Aldi padanya, hingga tanpa sadar air matanya menetes.
"Jangan menangis, aku akan merasa gagal bila sampai kamu menangis karena aku," ucap Aldi menghapus air mata Nabila.
Lalu Nabila memeluk Aldi dan menangis di pelukan nya.
"Terimakasih telah menerima ku Mas Aldi, aku menangis karena bahagia bisa bertemu dengan mu dan keluargamu, hingga mendapat cinta sebanyak ini," ucap Nabila.
***
Saat ini Aditya sedang duduk bersama Vina, setelah dua mobil Minggu ini Vina menghindari Aditya sejak kejadian malam itu.
Aditya sedikit memaksa Vina untuk membicarakan masalah ini. Aditya merasa bersalah bila sampai Vina menderita karenanya.
"Vina, aku minta maaf atas kejadian malam itu," ucap Aditya.
"Sudahlah Adi, tidak usah dibahas lagi," ucap Vina.
"Tidak bisa seperti itu, kita harus membahasnya dari sekarang. Aku akan tetap bertanggungjawab atas apa yang terjadi," ucap Aditya.
"Tidak perlu bila kamu terpaksa melakukannya, aku tidak apa-apa."
"Aku akan bertanggungjawab, mari kita mulai semuanya dari awal. Aku akan belajar menerima pernikahan kita," ucap Aditya.
Lalu Vina mendongak dan mencari kebenaran Dimata Aditya.
"Apa kamu serius?" tanya Vina memastikan.
"Iya, mari kita sama-sama membangun rumah tangga kita. Aku akan belajar mencintaimu. Tapi sebelumnya aku minta maaf bila selama ini banyak salah padamu," ucap Aditya.
"Iya, aku juga minta maaf karena dulu aku banyak bersalah padamu," ucap Vina lalu memeluk Aditya.
Tapi tak lama Vina merasa perutnya bergejolak, lalu Vina berlari ke kamar mandi.
"Vina, kamu kenapa?" tanya Aditya bingung dan panik.
Lalu Aditya berlari mengikuti Vina. Aditya mendengar Vina yang sedang muntah-muntah, tapi pintu nya dikunci dari dalam.
Tok...Tok.... Tok...
"Vina! Vin ! Kamu kenapa? Buka pintunya. Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Aditya khawatir.
Aditya mondar-mandir di depan kamar mandi dengan cemas. Aditya takut kalau terjadi sesuatu dengan Vina.
"Vina! Buka pintunya!" teriak Aditya.
Lalu pintu terbuka dan Vina muncul dengan wajah yang sangat pucat, tubuhnya langsung limbung. Untung saja Aditya dengan sigap menangkap tubuh Vina.
Aditya segera menggendong Vina dan dengan pelan-pelan membaringkan tubuh Vina di atas ranjang.
"Vin! Sadarlah, kamu kenapa?" tanya Aditya panik, karena dia belum pernah mengalami kejadian seperti ini.
__ADS_1
Lalu Aditya menyeka keringat di kening Vina, terlihat Vina yang sangat lemah dan itu semakin membuat Aditya merasa bersalah.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Aditya.