
Setelah sarapan bersama Aditya dan mamanya bersantai di ruang tengah, sedangkan Vina masih membereskan bekas sarapan mereka. Karena tidak ada asisten jadi Vina melakukanya sendiri.
Tapi Vina sudah terbiasa karena sejak mamanya meninggal dan papanya menikah lagi, Vina selalu disuruh mengerjakan pekerjaan rumah oleh ibu tirinya.
Tapi tidak apa-apa karena sekarang itu sangat berguna untuk kehidupannya. Vina tidak menjadi manja walau anak orang kaya.
Kembali lagi ke ruang tengah, mama Aditiya bertanya banyak hal tentang kehidupan pernikahan Aditya.
Itulah kenapa Aditya memilih untuk hidup terpisah dari mamanya setelah menikah. Mamanya selalu ikut campur apapun tentang kehidupan Aditya.
"Ma, jam berapa Mama akan pulang?" tanya Aditya yang mulai jengah dengan pertanyaan mamanya.
"Kenapa? Kamu mau ngusir Mama?" tanya mamanya ketus.
"Bukan begitu, nanti kalau Mama mau pulang biar Adi antar. Adi nggak jadi pergi kemana-mana hari ini." ucap Aditya.
"Siapa yang mau pulang? Mama mau menginap disini kok, bolehkan Vina?" tanya mama Aditya saat Vina baru saja bergabung.
"I iya, boleh Ma," jawab Vina bingung.
"Tuh kan Vina aja nggak keberatan," ucap mama Aditya lagi.
"Tapi Ma-" ucap Adi langsung dipotong oleh mamanya
"Kamu tenang saja Adi, Mama nggak akan mengganggu kalian kok. Mama cuma mau memastikan kalau kalian baik-baik saja."
"Kami baik-baik saja kok Ma," ucap Vina.
"Sudahlah Mama hanya beberapa hari menginap disini. Dan itupun berlaku untuk anak-anak mama yang lainnya nanti setelah mereka menikah."
Aditya hanya bisa menghela nafas karena ulah mamanya itu. Jadi dengan terpaksa Aditya membiarkan Mamanya menginap dirumahnya.
Seharian ini Vina ngobrol dan memasak bersama mertuanya, mereka bahkan seperti anak dan ibu, bukan menantu dan mertua.
Aditya bahkan sampai bosan melihat kedekatan mereka. Aditya merasa tidak dibutuhkan saat ini karena selalu diabaikan. Biasanya kalau ada waktu luang Vina dan Aditya akan nonton tv berdua sambil ngobrol dan bertukar pikiran.
Saat malam harinya mereka makan malam bersama, suasana kekeluargaan nya sangat hangat seperti yang dirindukan oleh Vina selama ini.
Sebelum menikah Vina lebih sering makan malam sendiri, atau sesekali makan malam bersama teman-temannya. Vina sangat merindukan saat-saat bersama mama kandungnya dulu sebelum mamanya meninggal.
Awalnya setelah ayahnya menikah lagi, Vina berharap akan mendapat ibu sambung yang bisa menyayanginya. Tapi nyatanya ibu sambungnya hanya manis di awal saja, setelah itu seperti ibu tiri kebanyakan.
Setelah makan malam, mereka berkumpul diruang tengah sambil nonton tv.
Tapi ada sesuatu yang aneh yang dirasakan oleh Aditya, dia merasa gelisah saat Vina dan mamanya sedang asik ngobrol.
"Adi, kamu kenapa?" tanya mama Aditya.
"Nggak tau Ma, sepertinya Adi tidak enak badan," jawab Aditya.
"Kamu sakit, Mas? Kok kamu keringatan gitu?" tanya Vina.
"Bawa ke kamar saja Vin, biarkan Adi istirahat," ucap mama Aditya.
"Iya Ma, ayo Mas kita ke kamar saja," ajak Vina.
__ADS_1
Lalu Vina membantu memapah Aditya untuk ke kamar. Adi merasa berbeda saat Vina menyentuh dirinya, ada sesuatu yang aneh yang dirasakan Aditya.
"Melihat anak dan menantunya jalan ke kamar, mama Aditiya tersenyum smrik.
"Jangan kamu pikir Mama bo*oh Adi, Mama tidak akan membiarkan kamu mempermainkan pernikahan ini," gumam mama Aditya.
Saat di dalam kamar Aditya merasa badannya semakin panas, begitupun dengan Vina.
"Kenapa aku jadi ikut-ikutan tidak enak badan ya," gumam Vina tanpa melihat kearah Aditya yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
"Vina!"
"Adi, kenapa badanku panas sekali?" ucap Vina gelisah.
Lalu keduanya melepas pakaian masing-masing karena panas yang tidak tertahankan yang mereka rasakan.
Lalu terjadilah malam pengantin yang tertunda selama beberapa hari ini, ets bukan tertunda tapi memang sengaja tidak dilakukan. Dan malam ini pun tidak akan terjadi bila tanpa campur tangan Aditya.
Mama Aditya tersenyum puas saat samar-samar mendengar sesuatu yang ingin dia dengar. Setelah dirasa rencananya berhasil, mama Aditya pergi ke kamarnya dan akan tidur dengan nyenyak.
"Aku yakin dengan ini Aditya tidak punya alasan untuk meninggalkan Vina, apalagi kalau Vina hamil," gumam mama Aditya.
Mama Aditya sudah tau dengan pernikahan pura-pura yang di jalani oleh Aditya dan Vina.
Dia mendapat informasi bahwa Aditya akan menceraikan Vina bila Aditya bisa bertemu dengan Nabila, dan Nabila mau menerima Aditya.
Karena alasan itulah Aditya tidak akan menyentuh Vina sama sekali. Dan Vina pun setuju karena merasa bersalah pada Aditya dan Nabila.
Tapi mama Aditya tidak akan membiarkan itu terjadi. Mama Aditya benar-benar tidak ingin bila Aditya bisa bersatu dengan Nabila.
Dilain tempat, Nabila terkejut dengan kedatangan Aldi di kafe tempatnya bekerja.
"Mas Aldi! Kok sudah pulang? Katanya akan dua minggu di luar negri?" tanya Nabila.
"Aku kembali karena kamu Nabila. Kenapa kamu mengacuhkan ku? Kenapa tidak mengangkat telepon dariku dan membalas pesanku?" tanya Aldi dengan tidak sabar.
"Mas, aku masih bekerja. Kita bicara nanti saja," ucap Nabila mencari alasan.
"Aku ingin bicara sekarang juga, ikut aku."
Dengan sedikit emosi Aldi menarik tangan Nabila ke dalam mobil. Lalu dengan dengan cepat Aldi melajukan mobilnya dan membuat Nabila ketakutan.
"Mas Aldi, kamu membuatku takut!" ucap Nabila dengan bibir bergetar.
Lalu Aldi menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa Nabila? Apa kamu tidak percaya dengan ketulusanku padamu?"
"Kamu bicara apa Mas? Aku tidak mengerti."
"Kenapa kamu mengabaikan ku?" tanya Aditya dengan mata memerah.
"Maaf Mas!" ucap Nabila.
"Apalagi yang harus aku lakukan untuk meyakinkan mu Nabila?" Aku tulus mencintaimu, tidaklah kamu melihat bagaimana aku padamu?" ucap Aldi yang hampir putus asa.
__ADS_1
"Aku-" ucap Nabila terputus, dia bingung harus bilang apa.
"Katakan Nabila, apa yang kamu inginkan saat ini?" tanya Aldi.
"Aku, aku masih ingin sendiri Mas."
"Maksud kamu?"
"Aku tidak ingin terikat hubungan apapun dan dengan siapapun," ucap Nabila menunduk.
"Nabila," lirih Aldi.
"Maafkan aku," ucap Nabila menahan tangis. Sungguh Nabila tidak ingin merasakan rasa sakit yang sama.
Tanpa mengatakan apapun Aldi mengantar Nabila kembali ke kafe.
"Turunlah," titah Aldi saat sudah sampai di depan kafe.
"Mas Aldi-"
"Turunlah," ucap Aldi dingin.
Lalu Nabila segera turun, dan Aldi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Nabila yang menatap sedih kepergian Aldi.
"Apakah yang aku lakukan sudah benar?" lirih Nabila.
Lalu Nabila ada sebuah tangan yang menepuk pundaknya.
"Ikuti kata hatimu, lawan emosi dan ketakutan mu," ucap Doris lalu pergi meninggalkan Nabila yang sedang termenung.
Lalu Nabila hanya menghela nafas, dan melanjutkan pekerjaannya walau pikirannya sedang kacau.
Setelah beberapa saat, terlihat Meta terburu-buru keluar dari ruangannya.
"Nabila! Ayo ikut aku ke rumah sakit, Aldi kecelakaan," teriak Meta.
"Apa?!" teriak Nabila yang terkejut lalu terdiam.
"Nabila, pergilah. Mas Aldi membutuhkanmu," ucap Doris.
"Ini semua salahku, mas Aldi kecelakaan karena aku," ucap Nabila sambil menangis histeris.
"Nabila, sadarlah. Aldi membutuhkanmu saat ini," ucap Meta.
"Pergilah," ucap Doris lengan lembut.
Lalu Nabila segera mengikuti Meta, perasaanya tambah kacau saat ini. Nabila tak henti-hentinya menangis menyesali semua yang dia lakukan tadi.
Saat sampai di rumah sakit, terlihat Nuri dan Doni yang terlihat cemas di depan UGD. Meta dan Nabila segera berlari mendekati mereka.
"Bagaimana keadaan Aldi?" tanya Meta.
"Aku tidak tahu, tapi mobilnya rusak parah," jawab Doni.
"Mas Aldi," lirih Nabila lalu tubuhnya limbung dan tak sadarkan diri.
__ADS_1