CINTA Yang Tak DIRESTUI

CINTA Yang Tak DIRESTUI
31 Keinginan Oma


__ADS_3

Aldi segera menuju kafe saat sepupunya, Meta terus saja menghubunginya. Bahkan Nuri juga ikut mendesak kakaknya itu untuk segera datang.


"Kenapa lama sekali? Aku sudah memintamu untuk datang saat jam makan siang, tapi sekarang sudah lewat jam makan siang baru sampai," omel meta saat Aldi baru masuk ke dalam ruangannya.


"Iya maaf, tadi ada klien penting."


"Alasan saja. Tadi Oma juga nungguin kamu di sini, tapi kamu nggak datang-datang."


"Sekarang Oma dimana?"


"Baru saja keluar, katanya mau ke dapur sebentar."


"Ngapain Oma ke dapur?"


"Nggak tau, udah nggak usah mengalihkan pembicaraan. Sekarang jawab jujur, tadi pagi kamu bicara apa sama Nabila, kok sampai dia nangis dan mengurung diri di kamar?"


"Apa sampai sekarang Nabila masih di kamarnya?"


"Nggak, dia sudah mulai bekerja lagi."


"Jadi apa masalahnya? Yang penting sekarang dia baik-baik saja kan?"


"Tapi pasti kamu sudah menyinggung perasaannya hingga dia menangis," ucap Nuri.


"Aku cuma mau bilang mau mengenalnya, dan apabila cocok aku ingin menikah dengannya. Apa itu salah? Aku kan tidak memaksanya."


"Astaga, bukan seperti itu cara mendekati perempuan. Apalagi Nabila baru saja patah hati," geram Nuri.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Ya Tuhan, terbuat dari apa hati kakakku ini?" ucap Nuri.


"Ah, sudahlah kepalaku pusing memikirkan kaum kalian yang membingungkan."


Tak lama Oma datang bersama Nabila dengan membawa makanan kesukaan Aldi.


Nabila pun terkejut saat dia melihat Aldi juga ada di sana.


"Nabila, letakkan itu di meja. Dan inilah cucu kesayangan Oma, kamu pasti juga sudah pernah melihatnya. Atau bahkan mungkin mengenalnya," ucap Oma.


"Iya Oma, kalau begitu saya permisi dulu."


"Kenapa buru-buru, diluar kan sudah agak sepi. pasti Doris dan yang lain bisa mengatasinya. Kamu di sini saja bersama Oma."


"Iya Oma."


"Aldi, kamu makanlah bersama Nabila. Pasti kalian belum makan kan?"


"Saya nanti saja Oma," tolak Nabila.


"Ayo makanlah, temani cucu Oma. Dia pasti akan senang kalau ada yang menemaninya makan."


"Tapi Oma-"


"Kamu menolak keinginan Oma, Nak?"


"Oma, jangan memaksanya kalau dia tidak mau," ucap Aldi.


"Kamu juga menolaknya."


"Ah tidak Oma, baiklah. Nabila ayo makan," ucap Aldi.

__ADS_1


Lalu Nabila hanya menurut saja kerena tidak enak dengan Oma. Lalu mereka menuju meja yang ada di sudut ruangan.


Biasanya Meta juga menggunakan meja itu untuk makan. Sedangkan Oma dan Meta sedang ngobrol di sofa di sudut lain. Nuri pulang lebih dulu karena masih ada pekerjaan.


"Nabila, maafkan Oma ya. Dan maaf tentang tadi pagi bila ada perkataan ku yang menyinggungmu."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku juga minta maaf tentang tadi pagi. Mungkin aku yang berlebihan."


"Lalu boleh tau, kata-kata ku yang mana yang membuat kamu tersinggung?"


"Tidak ada Mas, hanya saja aku yang merasa tidak pantas untuk berada di lingkungan kalian."


"Kenapa?"


"Mas Aldi tentu tau aku ini bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa."


"Kenapa kamu berfikir seperti itu?"


"Aku hanya tidak ingin sakit hati lagi Mas."


Lalu Nabila segera membereskan piring bekas makan mereka.


"Aku permisi dulu Oma, terimakasih makan siangnya."


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu? Dia terlihat menjaga jarak dengan Oma. Padahal Oma sudah menganggapnya seperti cucu Oma sendiri."


"Dia baru saja mengalami hal-hal yang sulit Oma," ucap Meta.


"Apa yang terjadi padanya? Dia juga tidak ingin dekat denganku," tanya Aldi.


Lalu Meta menceritakan semuanya yang dialami oleh Nabila, begitu juga saat Nuri menolong Nabila waktu itu.


Aldi mengepalkan tangannya saat mendengar cerita dari Meta. Entah kenapa dia tidak terima dengan apa yang dialami oleh Nabila.


"Iya Oma, bahkan dia menolak waktu aku ajak dia makan bersama. Nabila begitu membatasi dirinya dari ku dan Nuri, dia hanya dekat dengan teman kerjanya saja."


"Kalian lindungilah dia, bantu dia saat dia butuh bantuan."


"Iya Oma, bahkan aku dan Nuri ingin menjodohkan Nabila dan Aldi, tapi sayangnya Aldi sangat payah dalam mendekati Nabila."


"Meta, jangan sembarang bicara."


"Kenapa? Bukankah pagi ini kamu sudah membuat Nabila menangis."


"Apa yang kamu lakukan Aldi? Seharusnya kamu melindunginya, bulan membuatnya menangis. Bahkan hidupnya lebih menyedihkan dari pada kamu," omel Oma.


"Bukan begitu Oma, mungkin dia memang tidak mau dekat dengan Aldi karena masa lalunya."


"Berarti itu tugas kamu untuk menyembuhkan lukanya. Oma tidak mau tau kamu harus melindunginya."


"Kenapa kalian sama saja?" gerutu Aldi.


"Aldi, Oma serius. Jangan pernah menyakiti Nabila, entah kenapa Oma merasa sudah lama mengenalnya. Padahal baru hari ini Oma bertemu dengannya."


"Aku dan Aldi juga merasa tidak asing dengan wajahnya Oma. Seperti pernah bertemu tapi entah kapan dan dimana," ucap Meta.


"Iya, Oma juga merasakannya. Siapa dia sebenarnya?"


Lalu ke tiganya diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Aldi! Apa kamu tidak kembali ke kantor?" tanya Oma.

__ADS_1


"Tidak Oma, kenapa?"


"Ayo pulang kalau begitu."


"Ayo Oma, aku juga lelah sekali. Aku mau istirahat saja."


Setelah pamit dengan Meta, lalu Oma dan Aldi pulang. Saat di depan mereka melihat Nabila yang sedang sibuk melayani pelanggan.


"Aldi, cari tau siapa Nabila. Oma merasa sudah lama mengenalnya. Caranya bicara dan senyumnya sangat familiar."


"Iya Oma, nanti Aldi cari tau."


Lalu mereka segera pulang. Saat Aldi baru saja merebahkan tubuhnya, ponselnya berdering. Dengan malas Aldi mengangkat panggilan itu.


"Kenapa kau selalu menggangguku?" tanya Aldi.


"Kenapa marah-marah sih? Aku ada perlu sama kamu."


"Tinggal datang ke rumah apa susahnya?"


"Tidak bisa, aku mau bicara di luar saja."


"Aku sangat lelah dan ingin istirahat."


"Sebentar saja. Aku tunggu di kafe biasa."


Lalu Aldi bangkit lagi untuk menemui sahabatnya itu.


"Mau bicara apa sih? Biasanya juga datang ke rumah?" tanya Aldi yang baru saja sampai.


"Al, cepatlah dekati Nabila dan segera menikah, biar aku juga bisa cepat-cepat menikahi adikmu," pinta Doni.


"Kenapa kamu terlihat buru-buru? Jangan bilang kalian-"


"Jangan berpikir macam-macam! Aku hanya lelah terus di desak mamaku untuk menikah."


"Lalu kamu balas dendam dengan mendesak ku untuk segera menikah, begitu?"


"Bukan begitu, mereka ingin segera mempunyai cucu dariku. Kalau kamu belum mau menikah juga aku terpaksa buat cucu untuk orang tuaku dulu baru nanti menikah."


"Awas berani macam-macam pada adikku. Lagian kalian tinggal menikah apa susahnya sih?"


"Tapi Nuri tidak mau menikah duluan kalau kamu belum menikah."


"Astaga, kenapa kalian semua menyulitkan ku sih?"


"Tidak sulit kalau kamu segera mendekati Nabila dan menikahinya. Dia gadis yang baik, dan semua sudah setuju kan?"


"Iya, iya baiklah. Aku akan berusaha lagi, biar kalian semua puas."


"Nah itu baru sahabatku, dan calon kakak ipar ku. Aku sayang padamu kakak ipar."


"Ih, geli aku melihatmu seperti itu. Ya sudah aku pulang."


"Bye kakak ipar, terimakasih ya atas pengertiannya."


"Sudah diam lah!"


Lalu Aldi segera meninggalkan sahabatnya itu. Tak lama Nuri keluar dari persembunyiannya.


"Gimana sayang?" tanya Nuri.

__ADS_1


"Berhasil, dia bilang akan mendekati Nabila lagi."


Lalu mereka saling melempar senyum.


__ADS_2