
Tribuwana Tungga Dewi menghentikan laju mobilnya saat memasuki area dermaga.
Dia memandang keluar mobil untuk memastikan keadaan sekitar dermaga.
"Dimana aku harus menemui mereka ?", ucap Tribuwana seorang diri.
Tribuwana menelusuri kawasan dermaga yang terlihat sunyi-senyap.
"Aku tidak melihat para elang berkeliaran, harus kemana aku bertanya tentang pengiriman opium tiba !?", gumam Tribuwana Tungga Dewi.
Perempuan berparas cantik itu melambatkan laju mobilnya dan memarkirnya di pinggir salah satu gudang tua dermaga.
"Aku harus menemukan anak buah ayah", ucap Tribuwana.
Dia mengamati penuh hati-hati keadaan dermaga lalu menyiapkan karabin yang dia bawa dari rumah besar ayahnya.
KLEK... KLEK... KLEK...
Terdengar karabin miliknya berbunyi tatkala dia memeriksanya.
Tribuwana kembali mengawasi dermaga dan tidak seorangpun yang dia temui disana.
"Cih ! Apa yang sedang mereka siapkan ? Aku tidak melihat satupun batang hidung para elang", ucap Tribuwana.
Tribuwana Tungga Dewi lalu membuka kaca mobilnya, menurunkannya perlahan-lahan lantas mengarahkan teropong miliknya.
"Bukankah opium regi lebih ketat dari kebijakan sebelumnya, pastinya para intel Batavia tidak akan tinggal diam jika mendengar pengedaran opium masuk secara ilegal meski telah terdaftar dalam kongsi dagang Pak opium", ucap Tribuwana.
Tribuwana Tungga Dewi mengarahkan teropong di tangannya dan kembali memastikan kondisi di lapangan aman terkendali.
"Si bangsat Marco membuat kekacauan sehingga ayah mengirimku kemari untuk mengurusi pengiriman opium dari luar", ucap Tribuwana.
Tribuwana Tungga Dewi meraih karabinnya dan membuka pintu mobilnya.
"Fuih ! Anjing ! Apa yang mesti aku lakukan di dermaga sedangkan aku tidak melihat seorangpun disini ?", umpat Tribuwana kesal.
Perempuan yang mengenakan gaun warna hitam dengan rambut panjang terurai itu membanting pintu mobil.
Berdiri tegak seraya merenggangkan badannya.
"Aku tidak ingin berurusan dengan para elang lainnya karena akan menguras tenaga dan banyak pertempuran terjadi", gumam Tribuwana.
Si cantik berkulit bening itu melangkahkan kakinya sambil memegang karabin miliknya dengan teropong tergantung di lehernya.
Tribuwana Tungga Dewi terus berjalan cepat sambil memperhatikan keadaan disekitar dermaga.
Dia tampak santai saat melangkahkan kakinya ke area dermaga.
__ADS_1
"Mana kapal yang dimaksud ayah !? Aku tidak melihatnya sama sekali anak buah ayah disini", ucap Tribuwana Tungga Dewi.
Perempuan cantik itu menghentikan langkah kakinya dan berdiri mengawasi dermaga.
"Rupanya para bangsat ingin bermain-main denganku...", bisik Tribuwana sambil berdecak.
Tribuwana Tungga Dewi meletakkan karabin di bahunya dan memandang lepas laut di depannya.
Angin laut pada malam hari berhembus lebih kencang dari biasanya.
Mempermainkan helai-helai rambut Tribuwana sehingga menambah kecantikan perempuan berusia 40 tahun itu.
Kekasih Achmad Firdaus, mahasiswa kedokteran itu mengibaskan salah satu tangannya kemudian meletakkannya di keningnya.
"Sialan ! Kapal belum terlihat atau ayah sengaja memberikan informasi yang salah ?", pikir Tribuwana.
Tribuwana Tungga Dewi kembali memeriksa peluru karabinnya dan mengarahkan teropong ke arah laut.
"Hmmm... Jika ini permainan maka mereka sedang memakan umpan yang salah karena mereka sedang berhadapan dengan Tribuwana bukan para mafia...", ucap Tribuwana sambil tersenyum tipis.
Tribuwana Tungga Dewi terpaku diam menatap deburan ombak laut yang menggulung-gulung ke arah tepi pantai.
Menghempaskan gelombang laut hingga membasahi tepian dermaga.
Tribuwana memandangi jam saku yang dia bawa lalu bergumam pelan.
Perempuan cantik itu terdiam.
"Tepat pukul 12 malam kapal akan datang dan ini masih pukul 11 malam itu artinya aku harus menunggu 30 menit lagi kapal akan datang dan sisanya perang di dermaga", ucap Tribuwana.
Perempuan cantik itu menghela nafasnya dan kembali mengarahkan teropong miliknya.
Tribuwana berjalan pelan di pinggiran dermaga sambil terus mengawasi daerah sekitar dermaga karena dia harus terus bersiaga akan datangnya elang musuh yang berniat merampas opium darinya.
"Cukup melelahkan juga menunggu kapal datang...", ucap Tribuwana.
Dia mengalihkan pandangannya ke arah laut dan masih belum terlihat kapal besar itu datang.
Angin malam berhembus pelan, membelai lembut wajah Tribuwana Tungga Dewi saat dia berjalan-jalan di tepian dermaga.
Keadaan laut sangat lenggang hanya ada suara deburan air laut yang membahana di tengah lautan.
"Benar-benar sangat sepi keadaan di dermaga... Apakah jalur pengiriman dialihkan ke tempat lainnya ?", ucap Tribuwana.
Tribuwana mengusap wajahnya yang dihempas angin laut.
"Tidak mungkin, karena hanya dermaga ini tempat paling aman dan tidak mudah terlacak oleh siapapun, biasanya pengiriman opium didatangkan di dermaga ini", kata Tribuwana.
__ADS_1
Tribuwana meraih kerikil di atas tanah kemudian melemparkannya jauh-jauh ke arah lautan.
PLUNG... PLUNG... PLUNG...
"Aku ingin punya anak dengan Achmad mumpung usiaku masih produktif untuk melahirkan anak sebelum ayah mengetahui hubunganku dengan Achmad maka aku harus secepatnya memprogram kehamilanku", ucap Tribuwana berharap.
Kembali dia menatap kosong arah lautan dan berdiri termenung.
"Aku harus menyelesaikan misi dari ayah ini sebaik-baiknya dan segera mempererat hubunganku dengan Achmad Firdaus", ucap Tribuwana. "Yach..., setidaknya ada anak...", sambungnya sambil tertawa pelan.
Tribuwana berdiri mematung dengan pandangan sendu.
"Seandainya ibu berada disini dan masih menemaniku, pastinya aku tidak akan terombang-ambing bagaikan anak ayam yang hilang induknya", kata Tribuwana hampa.
Tribuwana melirik jam saku miliknya kembali, hanya untuk memastikan waktu kapal datang ke dermaga.
Dia kembali terdiam.
Waktu berjalan sangat lambat sekali, membuat Tribuwana merasa jenuh dan bosan menunggu kedatangan kapal besar sampai ke dermaga.
"Sebaiknya aku mengambil bangku kecil yang aku bawa di mobil dan duduk dengan tenang menunggu kapal besar itu datang", ucap Tribuwana.
Tribuwana Tungga Dewi berjalan kembali menuju mobil volkwagen hitamnya.
Membuka pintu mobil untuk mengambil bangku kecil yang sengaja dia persiapkan setiap dia pergi keluar.
Menurutnya melemparkan bangku itu pada saat genting akan mempermudah semuanya selesai dengan lancar.
"Tapi sebaiknya aku memarkir mobil tepat di dekat dermaga saja karena akan memudahkanku lari jika ada para elang musuh yang menyerangku nanti", ucap Tribuwana.
Tribuwana kembali masuk ke dalam mobil volkwagen hitamnya.
Menghidupkan kembali mesin mobil lalu mengemudikannya pelan-pelan ke dekat area dermaga.
"Akan lebih baik untuk memarkir mobilku disini jika ada bahaya mengancam maka sewaktu-waktu aku dapat secepatnya pergi dari tempat ini", ucap Tribuwana.
Tribuwana Tungga Dewi menghentikan volkwagen hitamnya dan duduk sambil berpegangan pada setir kemudi.
Memandang ke arah laut lepas yang berdesir.
Terlihat ombak lautan yang menari-nari di atas laut.
Dia menyandarkan badannya ke jok mobil berusaha menata dirinya sendiri agak santai tetapi tetap hatinya dan pikirannya tidak tenang.
Separuh jiwanya memikirkan Achmad Firdaus sedangkan lainnya terpusat pada organisasi mafia yang telah membesarkan dirinya serta keluarganya.
Dia juga mencari cara untuk lepas dari rencana perjodohannya dengan Daniel Marco yang merupakan bakal suaminya.
__ADS_1