
Anita terlihat sangat panik saat menyadari bahwa Tribuana Tungga Dewi belum kembali dari rumahnya sejak tadi pagi.
Dia berjalan mondar-mandir di depan jendela ruang tamunya dengan gelisah.
"Apa yang terjadi dengan Tungga ? Kenapa dia masih belum pulang ?", ucap Anita.
BRAK...
Anita memutar tubuhnya cepat ketika mendengar pintu belakang terbuka.
Seorang pria berwajah asing masuk ke dalam ruangan rumah sambil meletakkan payung serta jaketnya.
Pria asing itu menatap Anita lama seakan sedang bertanya-tanya.
"Pim, kamu rupanya...", sapa Anita.
Anita tidak dapat menyembunyikan kecemasannya bahkan kedua tangannya jelas tampak gemetaran.
"Ada apa, Anita ?", sahut Pim.
"Aku... Aku sangat mencemaskan Tungga karena dia belum pulang dari rumahnya sejak pagi tadi, Pim...", ucap Anita gugup.
"Tungga ? Maksudmu Tribuana Tungga Dewi ?", kata Pim.
"Iya..., anak itu...", sahut Anita.
"Bukankah dia pulang ke ayahnya untuk apa kamu mencemaskannya ?", jawab Pim.
Pim berjalan menghampiri Anita lalu menciumnya mesra.
"Pim..., aku serius sayangku...", sahut Anita.
Anita menjauhkan wajahnya dari Pim dan menatapnya serius.
"Lalu apa yang kamu cemaskan ? Dia pulang ke rumah ayahnya seharusnya kita tidak khawatir dengannya !?", ucap Pim.
Pria asing itu mengeratkan pelukannya dan menghujani Anita dengan ciuman mesra.
"Pim ! Ayolah !", ucap Anita mengelak.
"Aku merindukanmu sayang, tinggal di barak membuatku kesal dan lelah", sahut Pim manja.
"Aku tahu itu, Pim..., tapi aku harus mencari Tungga...", jawab Anita.
Anita menangkupkan kedua tangannya ke wajah Pim lalu memandangnya sangat serius.
"Aku tahu kamu menginginkanku tapi aku harus menemukan Tungga secepatnya, Pim", ucap Anita.
"Ada apa dengannya ? Bukankah dia sudah dewasa, sayangku ?", sahut Pim.
"Bukan soal masalah dia dewasa atau tidak tetapi ini berkaitan dengan keselamatannya sekarang, Pim", ucap Anita.
"Keselamatannya !?", jawab Pim terperangah.
"Iya...", sahut Anita.
Anita mengulum bibirnya yang basah sambil mendongakkan kepalanya.
"Kenapa dengannya ?", tanya Pim.
"Aku tanpa sengaja memergoki Tungga bersama Achmad bermesraan di dalam kamar, Pim", sahut Anita.
Pim melepaskan pelukannya dan berdiri tertegun.
__ADS_1
Anita mendekap tubuhnya dengan kedua tangannya dengan wajah tertunduk.
"Mereka sedang menjalin cinta dan aku sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi mereka !?", ucap Anita.
Pim masih terdiam.
"Aku tahu, seharusnya ini tidak boleh terjadi diantara keduanya tapi aku tidak dapat memaksakan pendapatku", lanjut Anita.
Anita memandang Pim dengan tatapan sendu.
"Apa yang semestinya aku lakukan sekarang, Pim ?", ucap Anita.
Pim masih berdiri tertegun dan membisu.
"Pim...", bisik Anita.
"Oh Tuhanku ! Verdorie ! Hoe kon dit gebeuren !", seru Pim.
Pim mengusap kepalanya dengan sangat cemas.
Dia memaki dengan tidak jelas sambil membungkukkan badannya.
"Ini gila, Anita ! Benar-benar gila !", teriak Pim.
Anita hanya berdiri terdiam.
"Bagaimana bisa Tungga dan Achmad melakukan tindakan sebodoh itu ?", ucap Pim.
"Aku tidak tahu...", sahut Anita.
Anita memejamkan kedua matanya rapat-rapat seraya menengadahkan kepalanya.
"Aku benar-benar tidak memahaminya, Pim", lanjut Anita.
"Mereka bisa mati, Anita", ucap Pim.
Anita semakin panik dan terdengar tangisannya yang pecah.
"Aku tahu itu !", pekik Anita tertahan.
Anita menggigit bibirnya menahan kegelisahannya.
"Pria tua itu tidak akan merestui hubungan keduanya", ucap Pim.
Pim menghela nafasnya cepat dan terpejam.
"Aku tahu itu, Pim... Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa dengan mereka...", isak Anita.
"Achmad benar-benar sudah gila, dan dia tidak waras meniduri puteri mafia", ucap Pim.
"Achmad masih terlalu muda untuk mengerti tapi apa yang harus kita lakukan sekarang ?", sahut Anita.
"Kita tidak bisa memutuskan masalah ini secara sepihak karena kita harus tahu jawaban Achmad tentang hubungannya dengan Tungga", jawab Pim.
"Tapi bagaimana !? Dia sudah kembali ke asrama !?", ucap Anita.
"Dasar anak bodoh !", keluh Pim.
Pim memeluk Anita dengan prihatin dan memandang ke arah luar jendela rumah.
"Heh...", hela nafas Pim.
"Apa yang harus kita lakukan, Pim ?", tanya Anita ketakutan.
__ADS_1
"Kita datangi Achmad di asramanya dan mencari kejelasan hubungan mereka secepatnya", sahut Pim.
"Mendatangi Achmad ? Kapan ?", tanya Anita sesenggukkan.
"Kalau bisa secepatnya, sayang", jawab Pim.
"Tapi kita harus mencari keberadaan Tungga sekarang karena aku takut terjadi sesuatu dengannya, Pim", ucap Anita.
"Baiklah... Mari kita mencarinya dan membawanya pulang ke rumah, sayang", sahut Pim.
"Apakah kita akan mendatangi rumah Mahatir wijaya sekarang ?", tanya Anita.
"Tapi kita harus bawa perlengkapan senjata untuk datang dengan berani ke kediaman Wijaya", sahut pria asing itu.
"Senjata !? Untuk apa ?", tanya Anita terheran-heran.
Anita mengusap kedua matanya yang berair.
"Iyah... Karena kita sedang mempertaruhkan nyawa kita ketika mendatangi rumah seorang pemimpin mafia", sahut Pim.
Pim menghela nafas panjang sambil melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah sebuah lemari.
"Kita tidak saja mempertaruhkan nyawa kita jika pergi ke rumah seorang mafia besar seperti Wijaya tetapi kita harus siap mati terbunuh di tempat jika kita menentangnya, Anita", sahut Pim
Pria berwajah asing itu membuka pintu lemari lalu mengeluarkan senapan jenis karabin dari dalam lemari.
"Meskipun aku seorang marinir tapi menghadapi mafia besar bukanlah tandinganku karena kekuatanku tidaklah sebanding dengan mafia seperti Wijaya", ucap Pim.
"Pim...", ucap Anita lirih.
"Aku tahu Wijaya ayah angkatmu dan tidaklah mungkin dia akan membunuhmu tetapi jika kita mengatakan dengan gegabah hubungan Tungga dan Achmad maka kita harus siap-siap mati di tangannya hari itu juga, sayangku", sahut Pim.
Pria keturunan Belanda itu memeriksa karabin di tangannya sebelum memberikannya kepada Anita.
"Bawalah karabin ini dan pastikan keselamatanmu tetap terjaga karena Tungga masih membutuhkanmu !", ucap Pim.
"Aku tahu ini sangat berbahaya tetapi aku tidak bisa menghindarinya, Pim", jawab Anita.
"Ini resikomu sebagai anggota mafia dan kamu harus menerimanya, sayang", ucap Pim.
"Tolong maafkan aku, Pim ! Karena telah melibatkanmu, sayangku !", sesal Anita.
Pim menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar.
"Aku tidak mempermasalahkannya, hanya saja ini sudah menjadi tanggungjawabku sekarang", ucap Pim.
Pim membidik ke arah sudut ruangan tanpa menembakkan karabin yang dia pegang.
"Mengapa aku mengatakan bahwa ini adalah tanggungjawabku ?", lanjut Pim sambil memicingkan salah satu matanya saat membidik karabinnya.
"Oh, Pim...", ucap Anita tertahan dengan sedihnya.
"Karena kamu adalah kekasihku, Anita", ucap Pim.
Pim memasukkan peluru sebanyak 30 butir peluru ke dalam karabin yang dia pegang.
"Pim..., tolong maafkan aku, sayangku !", ucap Anita dengan nada sungguh-sungguh.
"Pertama, karena aku tidak bisa membiarkan kekasihku menghadapi masalah sendirian...", ucap Pim.
Pim mengambil karabin dari tangan Anita lalu menyerahkan karabin yang telah diisinya dengan peluru.
"Lalu kedua, karena aku telah menganggap Achmad Firdaus seperti putera kandungku, Anita", lanjut Pim.
__ADS_1
Pria bermata biru itu menatap Anita dengan tatapan yang sulit untuk diartikan maknanya sedangkan Anita terhenyak kaget setelah mendengar ucapan Pim, kekasihnya.