
Brian yang mengetahui bahwa Maudy datang ke mansionnya. Ia langsung pergi untuk menemui Maudy karena takut Maudy mengetahui bahwa dirinya sudah menikah.
"Honey...! Paggil Brian saat melihat Maudy duduk di dekat kolam depan mansionnya. Maudy menoleh lalu tersenyum menatap Brian yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kamu tidak menghubungiku terlebih dahulu jika kau akan kesini?" tanya Brian tersenyum menatap Maudy.
"Kenapa aku harus menghubungimu terlebih dahulu? Bukankah dari dulu kau mengizinkanku untuk keluar masuk mansion ini? Apakah aturan itu sudah tidak berlaku lagi untukku?" tanya Maudy menaikkan sebelah alisnya.
Brian mendekati Maudy lalu menarik tangan Maudy agar Maudy berdiri, lalu Brian memeluk Maudy mesra.
"Bukan begitu, jika saja kau menghubungiku, aku pasti akan menjemputmu," ucap Brian di dekat telinga Maudy.
"Udah ah, lepasin! Aku mau masuk ke dalam dulu, aku ingin melihat kamarmu. Aku dah lama nggak kesana, apakah semuanya tetap sama seperti dulu atau udah berubah? Aku merindukan mansion ini." Maudy memejamkan matanya lalu merentangkan kedua tangannya sembari tersenyum. Sedangkan Brian begitu terkejut hingga ia tidak bisa mengatakan apapun.
Maudy membuka matanya lalu menggandeng tangan Brian ingin mengajaknya masuk ke mansion tersebut. Namun, Brian yang terkejut masih membeku di tempat. Maudy menariknya, tetapi Brian malah menahan langkah Maudy.
"Honey...!"
__ADS_1
"Aku lupa, aku ingin memberimu kejutan." Brian mencari alasan agar Maudy tidak masuk ke dalam mansionnya dan bertemu dengan Gracia.
Brian menarik tangan Maudy menuju parkiran mobil untuk menyembunyikan status Brian yang sebenarnya. Sedangkan dari lantai atas Gracia dapat melihat suaminya bersama perempuan lain dari arah balkon kamar Brian. Namun, Gracia tidak dapat melihat wajah Maudy karena Maudy memunggunginya.
"Ternyata itu alasanmu membenciku dan tidak mau menerimaku Mas? Aku pikir kau bilang begitu karena kita menikah karena dijodohkan. Ternyata aku salah kau benar-benar mencintai orang lain."
"Entah kenapa hati ini sakit ketika aku melihatmu begitu baik pada orang lain, sedangkan padaku kau begitu acuh. Aku tidak mau memaksamu untuk mencintaiku mas, tetapi aku hanya ingin merasakan cintamu walau sejenak."
"Aku memang belum mencintaimu, tetapi salahkah aku jika aku iri pada orang yang dicintaimu Mas? Seandainya sikap manismu itu untukku, mungkin aku tidak terlalu sakit seperti saat ini dan mungkin aku akan menjadi orang yang paling bahagia."
"Sekarang aku nggak tau harus apa, apakah aku akan terus berusaha mencintaimu dan membuatmu merasakan hal yang sama? ataukah sebaliknya, aku harus menghentikan perjuanganku dan membiarkanmu memilih kebahagiaan yang kau inginkan?"
"Seandainya aku tidak memikirkan orang tuaku Mas, mungkin aku sudah pergi jauh. Aku tidak ingin hidup seperti ini, hidup dalam penderitaan dimana aku tidak bisa menemukan kebahagiaan didalamnya," batin Gracia seiring air matanya mengalir deras melihat Brian menggandeng tangan Maudy sambil tertawa lepas.
"Aku kalah, aku kalah Mas." Gracia menangis di balkon kamar brian sampai sesegukan melihat mobil Brian pergi meninggalkan mansionnya.
"Hapuslah air matamu! Aku akan membantumu untuk mendapatkan cintanya." Suara bariton dari belakang Gracia membuat Gracia terkejut dan seketika saja menghentikan tangisan Gracia.
__ADS_1
...πππππ...
...TBC...
Assalamu alaikum
Author menyapa kalian lagi
seperti biasa minta like kembaliπ
Thank you buat kalian yang setia mengikuti karyaku π
Aku juga mau mengucapkan terima kasih pada Readers misterius yang tidak tau siapa orangnya, entah kalian pake lite atau hanya belum login saja aku tetep mengucapkan terima kasih buat kalian karena bersedia membaca karya recehku. Pokoknya terima kasihlah buat semua.
Muachhh π
lope lope sekebonnn buat kalian π
__ADS_1