
Pyaarrrrr...
Brian tidak tidak sengaja menyenggol bingkai foto Gracia dan David di ruangannya. Tiba-tiba perasaan pria tersebut tidak enak, seiring dengan nada dering ponsel Brian yang bergetar.
Drttt... Drttt... Drttt...
"Iya halo!" jawab Brian setelah mengangkat panggilannya.
"Anak dan istri anda kecelakaan Tuan, istri anda dalam keadaan kritis," ucap seorang suster dari sebrang telpon.
Jedduarrr...
Bagaikan disambar petir di siang bolong, seketika tubuh Brian ambruk dan menjatuhkan Ponselnya. Namun, setelah kesadarannya kembali, ia langsung meraba ponsel tersebut dan lari dari ruangan itu menuju mobilnya untuk melihat keadaan Gracia juga David.
"Tuan, Anda mau kemana?" tanya Ryan saat berpapasan dengan Bosnya di area parkir.
"Anak dan istriku kecelakaan, aku mau menyusul mereka ke rumah sakit, cepat masuk ke mobil!" perintah Brian.
Ryan bergegas masuk ke dalam mobil Brian, ia duduk di kursi kemudi, sedangkan Brian duduk di kursi penumpang.
Ryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi atas perintah Brian. Bosnya itu merasa sangat cemas dengan keadaan David juga Gracia hingga ia selalu membentak Ryan karena merasa mobilnya itu melaju terlalu lambat. Brian tidak perduli dengan keselamatan dirinya karena dalam pikirannya hanya ada David juga Gracia.
Sesampainya di rumah sakit. Pria itu langsung menuju ruang ICU dimana istrinya dirawat. Sesampainya di sana, ia berpapasan dengan Dokter yang menangani keadaan Gracia. Pria itu langsung mendekati sang Dokter dan menanyakan keadaan istri juga anaknya.
"Gimana keadaan istri dengan anakku Dok? Dan gimana dengan janin yang ada dalam kandungan istriku?" tanya Brian khawatir.
"Mari ikut ke ruanganku Tuan!" ajak sang Dokter.
"Baik, Dok!" jawab Brian. Pria itu mengekor di belakang Dokter tersebut.
Sesampainya di ruangan sang Dokter, Brian duduk di sebrang Dokter yang menangani anak dan istrinya itu. Ia menatap Dokter tersebut dengan penuh pertanyaan.
"Jelaskan bagaimana dengan keadaan anak dan istri saya Dok?" tanya Brian.
"Kalau anak Anda cuma luka ringan saja Tuan, dan tangannya patah di bagian yang kiri, tapi Anda tidak perlu khawatir karena patahnya tidak terlalu parah, mungkin setengah bulan sudah bisa pulih kembali. Berbeda dengan istri Anda..." Dokter itu menghentikan ucapannya dan menatap Brian sendu hingga membuat pria itu semakin Khawatir.
"Kenapa dengan istri saya Dok?" tanya Brian semakin cemas.
__ADS_1
"Istri Anda sedang koma, Tuan! Namun, Alhamdulillah bayinya masih bisa bertahan, tetapi kami tidak bisa menjamin keselamatannya," ucap Dokter itu tersenyum.
Deg
Jantung Brian seakan berhenti berdetak saat mendapati istrinya yang begitu memprihatinkan.
"Jadi bayiku masih selamat Dok?" tanya Brian.
"Iya Tuan!" ucap Dokter itu tersenyum.
"Apakah janin itu masih bisa bertahan jika istriku masih dalam keadaan koma?" tanya Brian.
"Bisa Tuan, selama nyonya masih bernafas dan alat bantunya tidak dicabut, janin dalam kandungan istri Anda akan bertahan hingga waktunya dilahirkan," ucap sang Dokter.
Brian terdiam, ia melamun entah apa yang ada dalam pikirannya hingga membuat sang dokter merasa heran karena melihat Brian yang juga masih belum beranjak, Namun, tidak bertanya apapun lagi.
"Apa ada yang masih ingin ditanyakan Tuan?" tanya Dokter itu dan seketika membuyarkan lamunan Brian.
"Tidak!" jawab Brian singkat.
"Ya sudah kalau gitu aku pamit dulu," ucap Brian.
"Terima kasih!" Brian berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Dokter tersebut.
Setelah itu, Brian melangkah menuju ruangan David, pria itu melihat putranya terlebih dahulu, ternyata di ruangan itu sudah ada Silvia yang menjaga David. Pria itu mendekati mommy juga anaknya.
"Brian..." ucap wanita paruh baya itu setelah melihat kedatangan putranya.
"Kau dari mana? tadi kau juga tidak ada di ruangan Gracia," tanya Silvia.
Brian berdiri sambil melihat putranya yang masih memejamkan matanya dengan luka yang tampak di keningnya juga sebelah tangannya yang patah.
"Aku dari ruangan Dokter Mom," jawab Brian.
Pria itu melangkah mendekati putranya, lalu menciumnya perlahan karena tidak ingin membangunkan bocah itu.
"Bagaimana dengan keadaan anak dan istrimu? Apa kata Dokter?" tanya Silvia. Wanita paruh baya itu tidak tega melihat putranya yang masih baru mendapatkan kebahagiaannya. Namun, ia sudah mendapatkan cobaan yang begitu berat.
__ADS_1
"David tidak terlalu menghawatirkan Mom, sedangkan istriku..." ucapan Brian tercekat. Membuat Silvia tambah khawatir.
"Ada apa dengan istrimu?" tanya Silvia cemas. Walaupun ia sudah dapat menebak keadaan menantunya itu karena ia sudah melihat sendiri bagaimana dengan keadaan Gracia.
"Istriku koma Mom, dan dokter tidak dapat menjamin keselamatannya. Namun, dibalik itu masih ada ke ajaiban, karena anakku masih bisa bertahan di dalam kandungan Gracia." Air mata Brian mengembun. Namun, ia masih dapat menahannya.
"Kau yang sabar sayang, berdoalah pada yang kuasa agar istrimu cepat dipulihkan," ucap Silvia.
"Iya Mom, ya sudah aku mau keruangan istriku dulu, titip David ya Mom!" ucap Brian.
"Iya sayang, tanpa kau suruh pun mommy pasti akan menjaga cucu kesayangan Mommy." Silvia tersenyum.
"Terima kasih Mom," ucap Brian memaksakan senyumnya.
"Sama-sama sayang," jawab Silvia tersenyum lembut.
Brian melangkah gontai, kebahagiaannya runtuh seketika saat melihat orang-orang yang sangat dicintainya terbaring tidak berdaya.
Pria itu meninggalkan ruangan putranya menuju ruangan ICU untuk melihat keadaan istrinya.
"Sanggupkah aku melihatmu sayang?" Brian membatin. Pria itu mengusap setitik air matanya yang lolos begitu saja tanpa bisa ia bendung.
...πΎπΎπΎπΎπΎ...
...TBC...
Assalamualaikum Readers....
Jika ada yang mau sedekahan Vote
Sekarang waktunya karena sekarang hari Senin ππ€£π€π
Othor kayak pengemis ya?
Jika nggak ada nggak apa-apa, cukup like aja, Othor akan tetap menyayangi kalian karena tanpa kalian Othor menara eh merana maksudnya π€π
Sampai jumpa nanti malam
__ADS_1
Jika Othor sempat update lagi, tapi nggak janji π
Jangan lupa mampir ke Karya Othor yang lain, dalam judul 'Tasbih Cinta' kalau yang satunya lagi jangan di baca karena Othor masih belum sempat Revisi π