
Di sebuah perkantoran yang berbeda negara. Seseorang sedang memangku istrinya sambil mengerjakan tugas kantor. Ia tidak mau melepas istri kesayangannya dari pangkuannya.
"Lepasin Mas! Apa Mas Brian nggak repot mengerjakan tugas kantor sambil memangkuku kayak gini?" tanya Gracia yang mulai lelah.
"Enggak, aku sangat nyaman dengan posisi seperti ini sayang. Bekerja sambil memelukmu dan menciumi aroma tubuh istriku tercinta adalah canduku," ucap Brian tersenyum sambil memejamkan matanya dan menghirup aroma tubuh Gracia dalam-dalam.
"Mas, kau itu terlalu berlebihan, aku bukan anak kecil yang harus diawasi tiap saat, aku tau kau bersikap kayak gini karena kau terlalu khawatir pada baby kita," ucap Gracia tersenyum.
Brian menghentikan pekerjaannya. Pria itu memeluk Gracia erat, ia menempelkan dagunya pada pundak Gracia sambil tersenyum tulus.
"Bukan seperti itu sayang! Aku memang sangat menyukai apapun yang ada dalam diri kamu. Aku memang khawatir pada baby kita, tapi aku melakukan ini semua bukan karena kau hamil, aku hanya ingin menebus kesalahanku padamu di masa lalu, selama ini aku memperlakukanmu begitu buruk hingga kau memilih untuk pergi dariku. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi jika kau sudah menjadi milikku, aku akan berusaha untuk tidak memberimu celah untuk membuatmu punya alasan untuk meninggalkanku," ucap Brian. Pria memejamkan matanya setelah mengucapkan apa yang ada dalam hatinya.
"Maafkan aku Mas! Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi dengan alasan apapun. Sebenarnya waktu itu aku juga tidak mau berpisah denganmu, tapi janjiku pada Dokter Anton membuatku dihantui perasaan bersalah, aku tidak mau bahagia di atas penderitaan orang lain." Gracia membelai pipi Brian. Pria itu tersenyum dan menikmati jari-jari Gracia yang sedang membelainya.
"Mas, boleh ya aku jalan ke mall sendiri, aku bosen Mas," ucap Gracia manja. Wanita itu berusaha mencairkan suasana yang mulai menegang.
"Tidak! Kau tidak boleh pergi sendirian! Jika kau mau pergi, kau harus pergi denganku," ucap Brian. Pria itu tidak pernah mengizinkan Istrinya pergi sendirian.
"Nanti kita ke mall jika kau bosen, sekalian kita nonton, lagi pula kita sudah lama tidak jalan bareng. David nanti aku suruh jemput sama mommy," lanjut Brian.
Gracia menganggukkan kepalanya. Wanita itu tersenyum menatap suaminya yang berubah 100 persen dari yang ia kenal sebelumnya. Sejak Gracia hamil, Brian tidak mengizinkan Gracia beraktivitas apapun, pria itu benar-benar menjaga wanitanya dengan baik hingga Gracia merasa bosan karena selalu berdiam diri.
"Aku bersyukur Mas bisa mendapatkan cintamu, aku tidak pernah nyangka jika aku akan menjadi orang yang paling beruntung karena bisa dicintai olehmu." Gracia mencium bibir Brian sekilas sambil memegang kepala pria tersebut.
"Jangan memancingku, nanti kita tidak jadi ke ke mall," ucap Brian tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Ya udah, aku menunggumu di sofa aja!" ucap Gracia. Wanita itu berdiri lalu melangkah menuju sofa, setelah itu Gracia tiduran sambil menatap suaminya yang melanjutkan pekerjaannya.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Kau sudah pulang?" tanya George saat melihat Anton melewati dirinya yang sedang duduk di ruang tamu.
Anton menghentikan langkahnya saat mendengar ada orang yang memanggilnya. lalu berbalik dan berjalan mendekati daddynya tersebut. Pria itu duduk disebelah George. Anton memejamkan matanya dengan kepala yang bertumpu pada tangannya, ia di duduk dan bersandar pada sofa.
"Sepertinya kau sedang ada masalah?" tanya George. Pria itu menatap putranya dengan dahi yang mengerut.
"Apakah Daddy akan merestui, jika aku menikah dengan Dinda?" tanya Anton. Pria itu tahu betul bahwa daddynya tidak menyukai Dinda dengan alasan yang tidak ada seorang pun tau apa alasan tersebut.
"Kau sudah tau, apa jawaban daddy, jadi carilah orang lain jangan dia." George menatap putranya dengan wajah datar.
"Kasih Anton alasan! Satu alasan aja yang kuat mengapa Anton tidak boleh menikah dengan Dinda Dad?" Anton menatap daddynya dengan wajah datar juga. Pria itu memang sengaja menutup pintu hatinya untuk gadis itu karena ia sangat tahu bahwa daddynya tidak menyukai Dinda.
"Aku akan menikah dengannya baik Daddy merestuinya atau pun tidak," ucap Anton.
"Jika itu keputusanmu maka daddy tidak akan pernah menganggapmu anak lagi," ucap George.
"Kenapa Dad? Kasih Anton alasan yang jelas, maka Anton akan menuruti keinginan Daddy tanpa banyak alasan," ucap Anton.
"Ibunya Dinda adalah orang yang menyebabkan mommymu meninggalkan daddy untuk selamanya, dan sampai kapan pun daddy tidak akan bisa memaafkan ibunya Dinda." George berdiri lalu meninggalkan Anton di ruang tamu itu yang masih mencerna ucapan George.
Deg.
__ADS_1
Anton tidak dapat mengucapkan sepatah katapun untuk melawan ucapan daddynya, ia hanya bisa pasrah dengan keputusan daddynya itu. Pria itu menatap kepergian daddynya. Pikiran pria itu diliputi dengan banyak pertanyaan 'apakah benar bahwa kematian mommynya ada hubungannya dengan ibunya Dinda?'
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Apa benar yang dikatakan daddy? Jika itu benar maka aku tidak perlu merasa bersalah lagi karena ibunya Dinda aku kehilangan Mommy."
"Tapi kenapa hati ini masih belum tenang? Perasaan bersalah ini masih terus berlanjut walaupun perbuatanku tidak sebanding dengan apa yang ibunya Dinda lakukan, mungkin sebaiknya aku memang harus menerima perjodohan yang daddy tawarkan padaku," gumam Anton. Pria itu beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju kamarnya tersebut.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
George menatap foto istrinya yang meninggal karena kecelakaan, dan kecelakaan itu bukan kecelakaan murni, melainkan ada yang sengaja mencelakainya.
Flashback on.
Ibunya Dinda sangat menyukai George. Namun, George menyukai ibunya Anton dan mengabaikan ibunya Dinda.
Pria itu menjalin hubungan dengan ibunya Anton sejak kuliah hingga lulus, lalu mereka menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki yaitu Anton.
Ibunya Anton meninggal karena kecelakaan, pada waktu itu ia sedang hamil 7 bulan dan terpaksa harus di operasi Caesar karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk melahirkan normal.
Mommynya Anton meninggal seusai
operasi, dan bayinya terlahir prematur. Namun, bayi itu sehat dan dirawat oleh ayahnya sendiri. Yang menangani proses operasi itu adalah Larasati ibunya Dinda.
Sejak saat itu George terus menyalahkan ibunya Dinda atas kepergian Istrinya. George sangat membenci ibunya Dinda karena ia selalu berpikir bahwa ibunya Dinda dengan sengaja mecelakai istrinya karena ingin mencapai tujuannya untuk mendapatkan George.
Flashback off.
__ADS_1
...🌾🌾🌾🌾🌾...
...TBC...