
Pagi harinya.
Howek... howek... howek...
Anton memuntahkan semua isi perutnya di pagi itu, Dinda yang mendengar suara Anton langsung menghampiri suaminya ke kamar mandi.
"Kau kenapa?" tanya Dinda sambil memijat tengkuk suaminya itu.
"Sudah tahu masih saja nanya," ucap Anton malas.
"Mana ku tahu, aku kan baru bangun tidur, dan pas aku bangun kau sudah ada di sini," jawab Dinda sambil memanyunkan bibirnya karena sikap Anton yang begitu cuek padanya.
"Aku begini karena kamu!" ucap Anton meninggalkan kamar mandi tersebut.
"Kok, jadi aku! Aku kan baru bangun tidur, perasaan aku tidak melakukan apapun dari semalam," jawab Dinda sambil me ngekori suaminya.
"Sudahlah! Pusing aku mendengar celotehan mu se pagi ini, aku pikir sejak kau hamil kau sudah berubah, ternyata kau masih tetap saja barbar," ucap Anton.
Pria itu mengistirahatkan tubuhnya kembali ke tempat tidur, ia memejamkan mata dan tidak memerdulikan Dinda yang memaki-maki dirinya.
"Dasar Dokter sesat sialan! Dia pikir dia siapa, seenaknya saja menyalahkan ku, emang aku melakukan apa hingga dia mual-mual kayak gitu, dari semalam kan aku cuma tidur." Dinda mengoceh-ngoceh sendiri sambil melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah wanita itu masuk ke dalam kamar mandi, Anton bangun menahan rasa mualnya untuk membuatkan istrinya itu sarapan. Ia keluar dari kamar tersebut dengan langkah yang begitu lemas.
Sedangkan Dinda terus mengumpat Anton dari dalam kamar mandi karena ia begitu kesal saat suaminya itu menyalahkan dirinya atas kondisi pria tersebut.
Dinda keluar dari dalam kamar mandi setelah menyelesaikan ritualnya. Wanita itu terkejut saat menatap tempat tidur yang sudah kosong tanpa suaminya.
"Dia kemana? Apakah dia marah, lalu pergi ke mansion nya untuk menemui istri pertamanya?" gumam Dinda.
__ADS_1
"Ah... aku merasa berdosa karena telah merebut suami orang, tapi dia yang memaksaku, jadi ini bukan salahku 'kan?" Dinda bermonolog.
Ia hanya melilitkan handuk ditubuhnya dengan rambut yang tergerai indah dan sisa-sisa air yang terus menetes dari pucuk-pucuk rambut wanita itu.
Anton yang tidak sengaja melihat pemandangan tersebut setelah membuka pintu kamarnya, ia menelan saliva menahan nafsu yang mulai bergejolak. Sedangkan Dinda tidak menyadari kehadiran suaminya itu karena asyik melamun.
Saat Dinda menoleh ke arah pintu, ia terkejut melihat Anton yang sedang menatap dirinya datar tanpa ekspresi sambil membawa nampan. Dinda pun Refleks berteriak kencang.
"Ah..." Dinda lari dari tempat itu dan tanpa sengaja handuknya tersangkut dengan gagang bunga hiasan yang terletak di depan kamar mandi, hingga membuat Dinda tanpa sengaja telan-jang polos.
Anton yang melihat pemandangan di hadapannya, kini sesuatu yang terkurung semakin menegang seakan mau lari dari tempatnya, mendesak dan menonjol karena minta untuk dibebaskan. Namun, ia tidak bisa melakukan hal itu karena ia tahu bahwa istrinya hamil muda dan rawan terjadi keguguran, hingga Anton menahan naf-sunya demi kebaikan istri dan calon anaknya.
Dinda yang sudah telanjang, kini semakin merasa malu pada suaminya itu dan membuat wanita tersebut terburu-buru mengambil handuknya kembali dan langsung lari ke arah ruang ganti.
Anton yang melihat tingkah aneh istrinya hanya menggeleng-geleng kan kepala sambil melangkah ke arah sofa untuk meletakkan makanan itu.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Di dalam sebuah ruangan rumah sakit yang begitu megah, kini Brian menemani istrinya tanpa bosan. Pria itu terus menatap mata Gracia berharap istrinya itu segera membuka matanya kembali.
Pria itu terlihat begitu kacau dan tidak terawat , bulu-bulu halus pun mulai tumbuh dan rambutnya kini acak-acakan. Ia mulai kurus karena ia hampir tidak tidur di setiap malamnya karena menunggu Gracia yang masih tak kunjung membuka mata.
Brian sangat menikmati waktu bersama istrinya itu karena ia sangat takut kehilangan. Ia takut Gracia pergi meninggalkan dirinya saat ia pergi atau saat matanya terpejam.
"Sayang... apakah kau tidak merindukanku? Apakah kau tega membiarkanku terus menerus menunggumu seperti ini, aku hanya ingin kau cepat sadar, dan berkumpul kembali sayang," ucap Brian tercekat.
"Kau mau apa? Cepat katakan padaku! Aku janji akan mengabulkan apapun keinginan mu asalkan kau bangun. Bahkan jika saja bisa, aku ingin menukar posisimu dengan ku sekarang," Brian menatap istrinya berharap ia berhasil membuat istrinya itu sadar.
"Namun, seperti biasa! Gracia hanya mengeluarkan cairan bening dari pelupuk matanya tanpa ada tanda-tanda bahwa wanita itu akan segera sadar.
__ADS_1
"Kenapa sayang, kenapa kau hanya menangis saat aku bicara, aku tidak memintamu itu, aku hanya ingin kau sadar dan segera pulih. Aku mohon cepatlah sadar! Aku sangat merindukanmu, Sangat sangat merindukanmu." Brian mengusap air mata Gracia yang masih saja mengalir.
"Jika kau tidak kunjung sadar, maka jangan salahkan aku jika aku lebih memilih pergi terlebih dahulu dari dunia ini, aku tidak kuat melihat kau seperti ini sayang, aku sudah sangat tidak kuat," ucap Brian sambil mengelus pipi Gracia dari samping wanita itu.
Setelah Brian menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba tubuh Gracia kejang-kejang seakan kehabisan oksigen. Brian yang melihat reaksi itu langsung duduk dan menatap istrinya itu dengan penuh kecemasan.
"Sayang, kau kenapa? Jangan bilang kau akan meninggalkan ku sekarang, aku tidak mengizinkanmu pergi, jika kau pergi akan ku pastikan kau akan menyesal!" ancam Brian. Namun, Badan Gracia terus saja terguncang membuat pria itu semakin Khawatir dan langsung memencet tombol darurat.
Setelah beberapa saat, kini beberapa Dokter dan perawat datang ke ruang rawat Gracia untuk mengecek keadaan wanita itu. Brian masih betah berada dalam ruangan itu karena tidak ada seorang Dokter pun yang berani menyuruh pemilik rumah sakit itu untuk keluar dari ruangan tersebut.
Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolong Gracia. Namun, Tuhan berkehendak lain. Kini layar monitor menunjukkan garis lurus yang berarti bahwa gadis itu sudah tidak bernyawa dan pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Seketika tubuh Brian ambruk, ia melihat layar monitor dengan tatapan hampa, pria itu berdiri dan melangkah mendekati istrinya yang seperti orang tidur.
"Tidak! Ini tidak mungkin, kau tidak boleh meninggalkanku Grac!" Brian berjalan lunglai, ia melangkah mendekati istrinya itu.
"Aku sudah bilang padamu bahwa aku akan menyusulmu kemana pun kau pergi, termasuk jika kau pergi dari dunia ini!" Brian duduk di samping Gracia. Lalu mengambil tangan wanita itu sambil menenggelamkan wajahnya pada tangan istrinya yang ia cium dalam-dalam.
"Jangan pergi! Aku mohon jangan pergi!" Brian terus menangisi istrinya itu dengan perasaan yang begitu menyesakkan. Tenggorokannya seakan tercekat hingga ia sulit untuk mengucapkan kata-kata.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Selamat malam para Readers Othor kesayangan, aku tahu kalian pasti kesel 🤭
Biar nggak penasaran ikuti episode selanjutnya yuk! Jangan beranjak dulu dan jangan timpuk Othor.
Apakah di episode selanjutnya Brian dapet pengganti? Atau bagaimana? Biar nggak penasaran tunggu update Othor selanjutnya. Jangan unfav dulu! 🤭🙈
__ADS_1