Cintai Aku Walau Sejenak

Cintai Aku Walau Sejenak
Aku bukanlah Brian S2


__ADS_3

Anton dalam dilema antara rasa bersalah dan kebencian ayahnya, ia tidak mungkin melawan ayahnya lagi jika sudah mengetahui alasan yang membuat daddynya sangat membenci gadis itu.


"Aku harus cari tau yang sebenarnya tentang kematian mommy, rasanya tidak mungkin jika hanya demi cinta, seseorang tega melenyapkan nyawa orang lain, apalagi yang ku lihat tante Lestari adalah orang yang lembut dan penyayang, beliau juga seorang Dokter. Aku belum percaya jika tante Lestari tega membunuh mommy hanya untuk mendapatkan daddy." Anton bergumam sendiri.


Anton beranjak untuk menemui Lestari di mansionnya. Pria itu bertekad untuk mencari tau tentang kebenaran. Namun, sebelum Anton keluar dari mansion tersebut, pria itu menghentikan langkah kakinya setelah mendengar suara George dari belakang punggungnya.


"Kau mau kemana? Ingatlah janjimu pada daddy bahwa kau akan menuruti keinginan daddy, jika daddy memberimu alasan yang jelas mengapa daddy tidak menyukai Dinda. Apakah alasan itu belum cukup jelas bagimu?" George menatap Anton yang memunggunginya.


Anton balik badan lalu menatap George yang berdiri di belakangnya. George menatap Anton tajam seakan terpancar aura kemarahan dalam diri pria paruh baya itu.


Anton tersenyum lembut menatap daddynya tersebut, pria itu melangkah mendekati George, lalu berdiri di depan pria paruh baya itu, Anton memeluk George dengan perasaan bersalahnya.


"Maafkan Anton Dad, Anton akan menuruti apapun keinginan daddy, termasuk menjauhi Dinda dan menerima perjodohan dari daddy," ucap Anton.


George membalas pelukan Anton. Pria itu tersenyum mendengar ucapan putra kesayangannya itu, ia sangat lega karena Anton menuruti keinginannya untuk menjauhi Dinda.


"Terima kasih, jika kau memang mau menuruti keinginan daddy! Daddy mau kau menikah setengah bulan lagi dengan anak rekan bisnis daddy," ucap George. Pria paruh baya itu melepaskan pelukannya lalu menepuk pundak Anton.


Deg.


Anton terkejut dengan waktu yang ditentukan oleh daddynya. Ia merasa ada yang mengganjal dalam hatinya, entah karena perasaan bersalahnya pada Dinda, atau karena ia belum mengenal gadis yang akan di jodohkan dengannya.


"Apakah waktunya tidak terlalu cepat Dad?" tanya Anton.


"Kenapa? Kau keberatan? Apakah kau mau mengingkari janjimu pada daddy?" tanya George.


"Tidak Dad! Daddy tau sendiri jika Anton sudah berjanji maka Anton tidak akan mengingkarinya," ucap Anton.

__ADS_1


"Daddy pegang ucapanmu! Nanti malam aku mau kau menemui calon istrimu! Daddy akan menghubungi teman bisnis daddy untuk membicarakan hal ini. Jangan banyak alasan untuk menundanya, sudah cukup daddy memberimu waktu selama ini," ucap George.


"Baiklah, terserah daddy. Anton tidak akan menolaknya." Pria itu tersenyum terpaksa.


"Terima kasih, Daddy bangga padamu!" ucap George. Pria itu menepuk pundak Anton kembali, lalu melangkah keluar dari mansion sambil memegang ponselnya setelah mendengar jawaban dari putranya itu. Sedangkan Anton berdiri mematung menatap kepergian daddynya dengan perasaan yang tak menentu.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Malam harinya.


Anton sudah siap dengan setelan jas warna navy, kaos putih dan celana jeans dengan warna yang senada. Pria itu terlihat begitu tampan dengan pakaian yang dikenakan pada malam itu, Anton mendekati dua keluarga yang sudah berkumpul di meja makan tersebut. Namun, saat melihat orang yang berada di meja itu, Anton sangat terkejut saat mendapati Maudy juga ayahnya yang diundang oleh daddynya tersebut.


Akan tetapi, Anton tetap menetralkan sikapnya dan melangkah mendekati bangku yang diduduki George, Anton bersikap datar dengan perasaan yang berkecamuk. Pria itu menutupi keterkejutannya dengan bersikap biasa saja seolah-olah tidak mengenal wanita itu.


"Kau sudah datang? Duduklah!" George tersenyum. Pria itu menunjukkan kursi kosong yang ada di sebelahnya.


"Jadi dia putramu yang kau ceritakan?" tanya Nugraha ayahnya Maudy. Pria paruh baya itu tersenyum menatap George juga Anton.


"Iya, dia yang akan ku jodohkan dengan putrimu Maudy," ucap George.


"Aku senang jika ada yang serius dengan putriku, sudah cukup dia kuberi kebebasan selama ini, sekarang saatnya dia memulai kehidupan yang lebih serius." Nugraha menatap putrinya yang sedang tersenyum menatap ke arahnya.


"Kenalan dulu sama anak rekan bisnis daddy! Dia yang akan kujodohkan denganmu, 'Maudy Nugraha." ucap George. Pria paruh baya itu menatap Maudy dengan senyum lembutnya. Sedangkan Anton menatap daddynya yang terlihat bahagia.


"Anton," ucap Pria itu datar.


"Maudy," ucap Wanita itu dengan senyum palsunya. Ia sengaja menerima perjodohan itu untuk membalas rasa sakit hatinya pada Anton karena selalu menghalangi hubungannya dengan Brian.

__ADS_1


"Lihatlah pembalasanku Dokter sesat!" batin Maudy sambil tersenyum sinis.


Sedangkan Anton masih mengalihkan tatapannya dari Maudy. Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu tidak ada seorangpun yang tahu.


"Mulai besok kalian belajar saling mengenal, aku akan kembali ke Indonesia untuk menjemput bundanya Maudy," ucap Nugraha.


"Baik Yah!" ucap Maudy tersenyum lembut pada Nugraha.


Setelah berbincang-bincang, dua keluarga itu menikmati makan malam dengan keheningan, hanya suara sendok dan garpu yang meramaikan meja makan tersebut.


Seusai makan malam dan berbicara mengenai pernikahan Anton dan Maudy, Anton langsung berdiri dan berpamitan pulang terlebih dahulu setelah acara makan malamnya selesai. Namun, George menyuruhnya untuk mengantar Maudy ke apartemen milik wanita itu.


Gadis keturunan perpaduan Indonesia Prancis itu tersenyum dan menerima tawaran George untuk pulang bareng dengan Anton. Sedangkan Anton menuruti keinginan daddynya tanpa banyak alasan karena ia tahu bahwa daddynya akan terus memaksa hingga ia tidak bisa menolak. Jadi Anton tidak punya pilihan lai selain menuruti keinginan daddynya tersebut.


Anton melangkah meninggalkan George juga Nugraha dengan Maudy yang mengekor dibelakangnya. Pria itu berjalan dengan santainya tanpa berniat menatap Maudy sedikitpun.


Sesampainya di mobil, Maudy duduk di bangku depan dengan Anton yang duduk di kursi kemudi. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak menoleh pada wanita disampingnya itu meskipun Maudy berusaha untuk mencairkan suasana dengan mengajak Anton berbicara. Namun, pria itu tidak menanggapi Maudy hingga Maudy merasa kesal.


"Kenapa kau tidak menjawabku? Dari tadi aku seperti ngomong sama angin." Maudy menatap Anton kesal, lalu mengalihkan tatapannya dari Anton.


"Sejak kapan aku dekat denganmu? Aku tahu kau menerima perjodohan ini dengan maksud tertentu." Anton menoleh menatap Maudy yang sedang menatap lurus ke depan. Pria itu tersenyum sinis lalu kembali menatap jalanan.


"Kenapa kau selalu memandangku buruk? Padahal aku selalu bersikap baik padamu meskipun kau selalu menghinaku." Maudy menatap Anton dengan wajah sendu.


"Kau tidak perlu berwajah sok sedih kayak gitu, karena aku bukanlah Brian yang mudah kau bodohi." Anton menyunggingkan senyumnya dengan senyuman sinis.


...🌾🌾🌾🌾🌾...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2