
Brian menyerahkan berkas dan bolpoin pada Gracia. Sedangkan Gracia bingung, untuk apa Brian menyerahkan berkas tersebut.
"Ini apa?" ucap Gracia memasang wajah datar, meskipun sebenarnya Gracia bisa menebak tentang isi berkas tersebut.
"Itu adalah surat perjanjian. Dan kau harus menanda tanganinya," ucap Brian dingin.
"Surat perjanjian? Untuk apa?" Gracia menaikkan sebelah alisnya.
"Kau baca dulu isi perjanjian itu, lalu kau tanda tangani dan kau juga dilarang protes," ucap Brian.
Gracia membaca berkas tersebut, lalu Gracia tersenyum menatap Brian.
"Apa suatu saat nanti kau tidak akan menyesal dengan isi perjanjian ini?" ucap Gracia tersenyum.
"Untuk apa aku menyesal? Keputusanku sudah bulat." Brian menatap Gracia tajam.
"Jika suatu saat nanti kau mencintaiku, apakah kau akan tetap menceraikan ku?" tanya Gracia.
"Silahkan kau coba saja! Tapi jangan pernah menganggap ku kejam jika aku hanya bisa menyakitimu saja, karena bagiku kau hanyalah benalu. Dan sampai kapanpun jangan harap kau bisa merebut hatiku, karena bagiku kau hanyalah sampah." Brian menatap Gracia tajam.
Deg
Tetapi sekuat tenaga Gracia menguatkan hatinya dan terus berusaha tersenyum.
"Okay, aku akan baca isi surat perjanjian ini kembali." Gracia tersenyum sinis.
...****************...
__ADS_1
- Pertama.
Aku harus mematuhi mu apapun yang kau perintahkan.
- Ke dua.
Aku dilarang mencampuri urusan pribadimu dan begitupun sebaliknya.
-Ke tiga.
Aku akan siap meninggalkanmu jika pernikahan kita sudah mencapai 6 bulan, dengan alasan tidak ada kecocokan di antara kita.
-Ke empat.
Aku dilarang memberi tau hubungan kita pada orang lain bahwa hubungan kita sedang tidak baik-baik saja.
Aku dilarang menuntut harta gono gini setelah kita resmi bercerai nanti.
...****************...
Seusai membaca perjanjian tersebut. Gracia langsung menanda tanganinya, lalu menatap Brian dengan senyum manisnya.
"Apakah kau tidak mau menambah aturan lagi?" ucap Gracia tersenyum.
"Itu sudah cukup." Brian menatap Gracia dingin.
"Berarti aku tidak dilarang menggoda mu?" ucap Gracia tersenyum tipis.
__ADS_1
"Silahkan kau coba saja! Aku tidak akan pernah tertarik padamu. Memangnya apa yang bisa kau pamerkan? Tubuh kurus kering kayak gitu saja kau bangga," ucap Brian tersenyum sinis.
"Kau hanya menilai tubuhku dari luar, jika kau memang tidak takut tergoda padaku, lalu untuk apa kita pisah kamar?" tanya Gracia.
"Aku sengaja menempatkan mu disitu, karena aku muak melihat wajahmu yang menjijikkan, aku senang melihatmu menderita." Brian tersenyum sinis.
"Oh begitu?" Gracia menantang
"Tetapi kau salah sayang. Jika kau pikir aku akan menderita dengan tidur ditempat seperti itu, kau salah besar. Aku tidak akan pernah menangis walaupun kau menyiksaku karena aku bukanlah orang yang rapuh seperti apa yang kau pikirkan." Gracia menantang Brian.
"Oh ya? Kita lihat saja nanti. Apakah kau akan tetap terus bertahan sampai perjanjian itu tiba? Atau kau akan memohon dan mengemis untuk mundur dari pernikahan ini sebelum waktunya tiba." Brian berdiri lalu menjambak rambut Gracia kasar.
Gracia meringis, tetapi ia tidak melawan. Gracia merasakan sakit pada rambut yang di jambak nya. Namun, rasa sakit itu tidak terasa dibanding sakit yang ditorehkan Brian yang menghunus tajam tepat di relung hatinya. Gracia sakit hati lantaran Brian menganggapnya sampah, karena sebelum ia menikah, ia terbiasa akan pujian. Dan tidak ada seorangpun yang berani menghinanya. Namun, sekarang Gracia malah hidup dalam sangkar emas yang tak pernah diinginkan sebelumnya. Gracia hanya bisa pasrah agar tidak mengecewakan orang tua yang teramat disayanginya.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Komen yukkk agar Othor punya temen ngobrol 😅
like
like
like
Seikhlasnya 💋
__ADS_1